JATUH CINTA, SIAPA TAKUT?


Image

Syaikh Utsaimin berkata tentang makna takut (khauf), “Rasa gelisah yang muncul sebagai reaksi kakhawatiran akan tertimpa sesuatu yang menghancurkan, membahayakan atau menyakitkan.” Kalau rasa takut ini dibangun di atas ilmu tentang kebesaran dan kesempurnaan kuasa Allah, disebut Khasyyah.

Allah memberikan rasa takut kepada manusia agar bisa dimanfaatkan untuk meraih kebahagiaan hidup dunia akhirat secara maksimal. Dengan rasa takut inilah, manusia terdorong untuk menjauhi hal-hal yang merugikan hidupnya, memeliharanya dari hal-hal yang membahayakan, dan memelihara diri dari siksa Allah.

Hanya saja jika rasa takut ini tidak berdasar kepada ilmu yang benar, sangat mungkin terjadi kekeliruan identifikasi, sehingga munculketakutan kepada hal-hal yang tidak pantas ditakuti. Atau justeru meremehkan hal-hal yang seharusnya ditakuti.

 Mengapa Cinta?

Dalam hidup ini, hampir bisa dipastikan bahwa cinta adalah kenikmatan tertinggi yang bisa diraih manusia. Karena cinta tidak saja memiliki segala unsur yang dibutuhkan manusia seperti kejelasan arah (an nuur), energi kehidupan (al hayah), terapi penawar (as syifa’) dan kelezatan (al ladzat), namun juga efek lezat yang ditimbulkan cinta terasa lebih dalam dan personal, sebab cinta adalah amalan hati. Cinta adalah santapan hati dan kesenangan jiwa. Sebab semua kebaikan, keindahan dan kelezatan hidup ada di dalam cinta. Dari cintalah semua amal bermula dan kepadanya akan kembali.

Perjalanan mencari cinta adalah perjalanan mencari semua yang diinginkan jiwa dan raga. Sementara kehilangan cinta akan membuat hidup menjadi gelap, mati, menyakitkan dan hampa. Ibarat ikan yang dipisahkan dengan air, seperti itulah manusia saat berpisah dengan cinta.

Sejuta Rasa cinta

Dengan materi-materi yang terkandung di dalamnya, cinta akan memberikan sejuta rasa lezat berupa; gairah hidup, kemanisan, kelembutan, kasih sayang, kedekatan hati, kebahagiaan, suka cita, kesedihan, kesusahan, kehilangan, rindu, menangis, tertawa, dan lain-lain yang serupa. Pengaruh-pengaruh inilah yang menjadikan hidup manusia terasa dinamis, penuh cita-cita, keindahan dan bertenaga.

Secara biologis, jatuh cinta akan menyebabkan hormon ‘phenylethy lamine’ bekerja. Menyebabkan naiknya suhu badan, kadar gula, tekanan darah, denyut jantung dan tangan berkeringat. Bekerjanya hormon ini akan menimbulkan efek; salah tingkah, penasaran, bergairah, bergembira, dan bersemangat.

Atas nama cinta, sesuatu yang berat manjadi terasa ringan, yang sulit terasa mudah, yang jauh menjadi dekat, perasaan takut menjadi aman dan kesedihan menjadi kegembiraan. Karenanyalah manusia berlomba-lomba dan kepadanyalah semua keinginan manusia kembali.

AdaDua Jenis Cinta

Cinta tidak selalu memberikan manfaat bagi manusia. Adajenis cinta palsu yang hanya memberikan kenikmatan sesaat untuk kemudian menyengsarakannya dalam penderitaan tanpa akhir. Menurut Ibnul Qayyim, “Saat seseorang jatuh cinta kepada sesuatu karena didorong faktor-faktor lahiriyah, maka sebenarnya dia tidak sedang mencintai apa yang dia cintai. Dia sebenarnya sedang jatuh cinta kepada dirinya sendiri, atau hawa nafsunya. Dia sedang mencari keuntungan pribadi atas nama cinta.”

Cinta yang sejati adalah cinta yang terpuji dan bermanfaat. Ia akan membawa pecintanya kepada hal-hal yang memberikan manfaat di dunia dan akhirat. Inilah cinta yang menjadi pertanda kebahagiaan hidup manusia. Tanpa kemanfaatan dunia dan akhirat yang diberikan, cinta menjadi tercela dan hina, ia adalah cinta palsu, sebab ia merupakan alamat penderitaan dan kesedihan hidup manusia.

Maka pembicaraan tentang cinta tidak selalu melahirkan cerita indah dan manis penuh madu. Tidak sedikit kisah cinta penuh luka yang menorehkan kegetiran dan penderitaan. Tidak sedikit pula yang akhirnya harus menyesali pilihannya telah jatuh cinta. Inilah yang melahirkan trauma berkepanjangan dan kemudian memutuskan diri untuk tidak lagi bicara tentang cinta.

Padahal seperti halnya yang lain, cinta ibarat pisau bermata dua yang bisa memberikan rasa sakit dan penderitaan di satu sisi, namun juga menjanjikan kebahagiaan hakiki di sisi lain. Tinggal bagaimana kita membangun pondasi cinta, memilih dan mengaplikasikannya.

Cerdas Karena Akal Sehat

Allah memberi manusia anugerah berupa akal dengan fungsinya yang paling asasi adalah; Mengklasifikasikan tingkatan perkara-perkara yang dicintai dan yang dibenci berdasar kekuatan ilmu dan daya nalar. Dan mendahulukan hal yang lebih dicintai dari dua hal yang sama-sama dicintai, serta menghindarkan diri dari hal yang lebih dibenci dengan memilih yang lebih kecil kebenciannya dari dua hal yang sama-sama dibenci, dengan kekuatan sabar, keteguhan hati dan keyakinan.

Untuk membuat akal tetap bisa menjalankan fungsinya dengan benar, ia membutuhkan kekuatan pemahaman (quwwatul idraak) dan keberanian hati (syaja’atul qalbi). Kekuatan pemahaman akan membuat manusia memiliki ketajaman batin yang shahih, dia akan mengerti tingkatan pihak yang dicintainya, sehingga dia terhindar dari kesalahan identifikasi. Keberanian hati akan membantunya untuk memiliki kesabaran dan azzam dalam pembuktian pemahamannya.

Maka, kebodohan, kurangnya pengetahuan, hinanya nafsu dan tiadanya kesabaran merupakan pangkal dari seluruh keburukan dan kesengsaraan hidup. Seseorang yang hidup (akalnya), berilmu dan memberikan nasihat bagi dirinya sendiri, tidak akan mendahulukan kecintaan kepada hal-hal yang membahayakan, membuatnya menderita dan menyakitkannya.

Hanya Milik Allahlah Cinta Kita

Allah berfirman,

 وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. ( QS Al Baqarah 165-166).

Ayat di atas menjelaskan adanya bentuk kesyirikan dalam cinta, bukan dalam rububiyah dan khalqiyah (penciptaan). Di samping menjelaskan bahwa orang-orang beriman adalah mereka yang memiliki sepenuh cinta kepada Allah. Dalam menjelaskan makna ‘al asbaab’, ‘Atha’ dan Ibnu ‘Abbas meyebutnya sebagai al mawaddah (kecintaan). Sementara menurut Ibnul Qayyim ia adalah segala bentuk hubungan duniawi, yang memenag akan putus di akhirat nanti.

Sesungguhnya, hanya Allahlah yang berhak menerima cinta kita, sebab padaNya terdapat seluruh unsur yang dibutuhkan pada pihak yang dicintai dari segala sisinya. Cinta kepadaNya adalah pangkal seluruh kebaikan dan kebahagiaan hidup. Tidak akan membahayakan, mencelakakan dan membuat manusia menderita. Inilah puncak ma’rifat manusia tentang cinta.

Berkata Ibnu Taimiyah, “Tiada kebahagiaan dan kelezatan sempurna bagi hati, selain dalam cinta kepada Allah, dan upaya mendekatkan diri kepadaNya dengan hal-hal yang dicintaiNya. Sementara cinta tidak akan ada kecuali dengan berpaling dari semua kecintaan kepada selainNya.”

Di alam semesta ini, tidak ada sesuatupun selain Allah yang mampu menjadikan hati tenang, tentram, senang dan bahagia. Kalaupun ada sifatnya sementara dan bahayanya berlipat ganda dari manfaatnya, ibarat memakan makanan beracun yang berasa lezat. Hanya sesaat dan berisiko besar di kemudian hari.

Kebutuhan manusia untuk mencintai Allah – tanpa kesyirikan-dengan demikian, adalah kebutuhan yang tidak bisa dibandingkan dengan apapun juga, karena ia adalah kewajiban yang paling agung dalam hidup manusia.

Cinta akan memperbudak pencintanya, seperti sebuah syair,

انت القتيل بكل من احببته   فاختر لنفسك في الهوى من تصطفى

Engkau, korban dari yang kau cinta

Maka, Pilihlah untuk dirimu siapa yang akan kau cinta

Benarlah sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Tiga hal, jika terdapat pada diri seseorang, maka dia akan memperoleh manisnya iman; Hendaknya Allah dan RasulNya lebih dicintainya dari selain keduanya. Mencintai orang lain semata-mata karena Allah dan benci kembali kepada kekufuran seperti kebenciannya dilemparkan ke dalam neraka” (HR Al Bukhari).

Jadi bila kita telah bulat memilih Allah sebagai puncak kecintaan kita, kenapa harus takut? (tri asmoro)

Maraji’;

  1. Ighatsatul Lahfan
  2. Al Wala’ wal Bara’ fil Islam
  3. Al Jawabul Kafii
  4. Raudhatul Muhibbin.


GODAAN SYETAN DALAM PERNIKAHAN


Image

Tidak diragukan lagi, bahwa mentaati Allah dan Rasulullah dalam hidup ini adalah jalan keselamatan manusia di dunia dan akhirat. Semua perintah Allah pastilah mengandung kebaikan, meski manusia kadang tidak mampu menguraikan hikmahnya. Pun demikian, tidak ada larangan Allah, melainkan pasti mengandung keburukan bagi manusia, meski manusia kadang menyangkanya penuh dengan kebaikan.

Penyelewengan manusia dari jalan yang lurus (ash shirathal mustaqim), berwujud pada dikerjakannya dosa atau maksiyat. Bisa karena kebodohan, karena hawa nafsu, ataupun godaan syetan. Karena tidak ada dosa atau maksiyat selain berasal dari tiga hal di atas.

Janji Syetan

Karena itulah Allah memberi peringatan kepada manusia agar waspada terhadap godaan syetan, di samping waspada terhadap kebodohan dan hawa nafsunya. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa, peringatan Allah kepada hamba-hamba-Nya agar waspada terhadap syetan, lebih banyak jumlahnya daripada peringatan Allah terhadap bahaya hawa nafsu. Hal ini menunjukkan bahwa syetan dengan segala tipu dayanya tidaklah bisa dianggap enteng. Yang karenanya bisa disepelekan. Allah berfirman,

 إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ(6)

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kalian, maka jadikanlah  ia musuh (kalian), karena sesungguhnya syetan itu hanya mengajak golongannya agar menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” QS.  Fathir; 6.

 Ayat ini secara tegas menjelaskan kedudukan syetan bagi manusia dan bagaimana sikap yang seharusnya dipilih manusia untuk menghadapi syetan. Dalam tafsir ‘Zubdatut tafsir” dikatakan, “Maka, musuhilah syetan itu dengan menjalankan ketaatan kepada Allah, dan janganlah mentaatinya dengan bermaksiyat kepada-Nya..”

Al Qur’an juga menjelaskan tentang pendirian dan keteguhan syetan untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus dan menghalanginya masuk kejannah. Allah berfirman,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ(16)ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ(17)

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukumku sesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu  yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at).” QS.  Al A’raaf; 16-17.

“Aku akan berusaha sungguh-sungguh untuk menyesatkan mereka, hingga mereka menimbulkan kerusakan karena aku, sebagaimana aku telah menimbulkan kerusakan sebab meninggalkan sujud kepada bapak mereka.” Juga, “Aku akan mendatangi mereka dari segala penjuru, berusaha untuk menyesatkan mereka dari jalan-Mu yang lurus dengan segala sarana yang aku sanggupi.”

Dua bentuk Penyesatan

Pernikahan termasuk satu sunnatullah yang wajib ditunaikan, dan mengandung fitnah besar jika diabaikan. Seperti perkataan Ibnu Mas’ud, “Seandainya tidak tersisa dari umurku kecuali sepuluh hari, dan aku tahu bahwa aku akan mati di akhirnya, tentulah aku akan menikah karena takut fitnah.” Sedang Sa’d bin Abi Waqqash berkata, “Rasulullah menolak keinginan Utsman bin Mazh’un untuk membujang. Seandainya hal itu diizinkan,tentulah kami akan mengikuti.”

Tentu saja syetan tidak akan meremehkan pintu ini untuk menyesatkan manusia. Seperti Rasulullah saat mendapati Akhnaf bin Basyr at Tamimy yang masih membujang padahal berkecukupan secara ekonomi, beliau menyebutnya sebagai saudara syetan atau seorang pendeta.

Membujang rentan terhadap fitnah. Ibarat pohon yang diterjang angin badai, demikian Wahab bin Munabbih menyatakan.

Mukhallad bin Al Husain berkata, “Tidaklah Allah memerintahkan sebuah perkara, kecuali syetan memiliki dua jalan penyesatannya. Bisa dengan tafrith dan pengurangan, bisa dengan melampaui batas dan berlebih-lebihan.”

Dalam hal ini, syetan mampu mencium apa yang dominan pada diri seseorang hamba, kemudian mencari jalan terbaik yang lebih sesuai. Jika dia melihat bahwa sikap menahan diri pada diri seseorang lebih dominan, dia akan menghalangi orang itu untuk melaksanakan perintah. Memberat-beratkan dan memudahkannya untuk meninggalkan perintah itu.

Namun,jika yang dominan pada diri orang itu adalah kekuatan untuk maju dan semangat yang tinggi, maka syetan akan menjadikannya merasa kurang dengan amalannya,sehingga harus ditambah lagi.

Ifrath wa Tafrith

Ifrath adalah sikap berlebih-lebihan dalam mengerjakan suatu perintah, sehingga terkesan memberatkan diri. Dalam pernikahan, sikap ini tampak dalam banyak hal, seperti; menganggap pernikahan akan menghalangi ibadah, menetapkan kriteria terlalu ideal, berkeyakinan harus mapan dulu secara ekonomi, takut terganggu studinya, atau juga, takut miskin.

Sedang tafrith adalah kebalikannya. Sikap meremehkan dan mengabaikan. Hal ini tampak dari sikap terlalu berani menikah tanpa persiapan memadai, tidak punya kriteria tentang pendamping, yang penting dapat, terlalu panjang angan-angan, atau menggampangkan perzinahan.

Dalam hal ini, syetan akan menempuh berbagai jalan, di antaranya; tazyiinul bathil (QS. 8;48), takhfiiful mukminin (QS. 3;175) dan thulul amal. Adapun sarana yang mereka pakai adalah mata, telinga, lisan, tangan dan kaki serta nafsu ammarah.

Gangguan Syetan Secara Fisik

Di samping godaan syetan yang berupa syubhat dan syahwat, ada juga gangguan syetan kepada manusia dalam hal pernikahan secara fisik. Di antaranya;

  1. menghalangi pernikahan

Ibnu Taimiyah pernah membacakan ayat ‘afahasibtum annamaa khalaqnaakum ‘abatsa….’ di telinga orang yang kesurupan. Beliau  kemudian mengambil tongkat dan memukul tengkuk orang itu, dan menyuruh jin yang ada dalam diri orang itu untuk keluar. Jin itu berkata, “Aku mencintainya.”

  1. sihir benci dan cinta

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, kemudian meminta sesuatu kepadanya, tidak akan diterima shalatnya empat puluh hari.”HR. Muslim

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa mendatangi dukun, kemudian membenarkan ucapannya, sungguh dia telah berlepas diri dari apa yang diturunkan kepada Muhammad.”HR. Abu Dawud

  1. merusak keturunan

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنْ قَضَى اللَّهُ بَيْنَهُمَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ قَالَ أَبمو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Andaikan salah seorang di antara kalian jika mendatangi isterinya membaca doa, ‘Bismillah Allahuma Jannibnas Syaithana wa Jannibis Syaithana maa Razaqtanaa’, maka jika Allah menetapkan anak bagi keduanya, syetan tidak akan mengganggunya.HR. At Turmudzi

  1. sihir cerai.

Allah berfirman,

“….. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” QS. A Baqarah;102.

Berlindung dari Gangguan Syetan

  1. Iltizam kepada al Kitab dan As Sunnah
  2. Mencari lingkungan yang baik  .
  3. Iltitija’ dan ihtima’ kepada Allah.
  4. Mewaspadai panca indera

Wallahu A’lam bis Shawwab.

Tiada Kemuliaan Kecuali Pada Islam




Sesungguhnya Umar bin Khattab r.a. sebagai sahabat besar Nabi Muhammad SAW., berkata tentang haq (kebenaran), dalam ucapannya beliau berkata :Image

“Kami adalah orang-orang yang Allah beri kemuliaan dengan Islam dan jika kami mencari kemuliaan yang lain selain daripada Islam, maka Allah akan menghinakan kami.” (Hayyat us Shahabbah dan Usud ul Ghaab oleh Ibnu Katsir)

Arti dari hadits ini (perkataan ini) adalah bahwa tidak ada kemuliaan, kekuatan, kekuasaan, kehormatan, keagungan atau perhatian melainkan dalam Islam. Dan barangsiapa yang mencari kemuliaan, perhatian dan kehormatan dari yang lain selain daripada Islam maka Allah akan menghinakan dan mempermalukannya dalam kehidupan dunia dan akhirat nanti.

Orang-orang yang seiman (orang muslim) memiliki hak istimewa yang khusus, kehormatan dan kemuliaan, karena dapat melihat wajah Tuhan mereka di surga (Insya Allah). Adapun orang-orang yang tidak beriman (orang-orang non muslim) dan orang-orang munafik (orang-orang yang dusta dalam menyatakan diri mereka sebagai muslim) tidak akan pernah dapat melihat Allah dan tidak akan dapat berjalan dengan wajah-wajah mereka di hari pengadilan nanti, yang menyebabkan mereka masuk ke dalam kobaran api neraka, dimana mereka akan tinggal di sana untuk selamanya. Bagaimanapun, orang-orang yang tidak beriman dan orang-orang munafik tidak menyadari akan fakta-fakta hukum (syariah) tersebut dan tidak mempercayainya. Ini disebabkan karena kekufuran mereka (mengingkari dan tidak beriman kepada Allah dan terhadap apa-apa yang telah Allah turunkan) yang menjadi sebab kehinaan mereka dan perbuatan merekalah yang merintangi/menghalangi mereka dari kebenaran.

Sayang sekali, sungguh menyedihkan melihat umat Islam di Barat (maupun di Timur) yang mencari kemuliaan, penghormatan, dan perhatian dari orang-orang kafir, walaupun telah diketahui bahwa kekuasaan yang terbesar hanya milik Allah SWT. semata. Beberapa tahun yang lalu, dan nanti, kami menyaksikan ribuan umat muslim, (bahkan mungkin jutaan) berpartisipasi dalam pemilihan umum dan voting untuk memilih para pembuat hukum, yaitu orang yang menyimpangkan kemurnian kekuasaan Allah dalam hal membuat hukum (yang merupakan hak Allah semata). Dan juga kini, dalam pemilihan-pemilihan di tingkat yang lebih rendah, seperti memilih kepada daerah, gubernur, atau sejenisnya.

Orang yang berpikir bahwa mereka muslim setelah melewati beberapa tahun, dan mereka mengharapkan ada ‘perubahan’ setelah mereka melakukan voting. Mereka telah mengacuhkan hadits nabi Muhammad SAW. yang menyatakan bahwa :

“orang-orang yang beriman tidak berada pada dua tempat yang sama.”

Setelah voting untuk anggota Dewan dan Badan Koservatif, kemudian mempercayai janji-janji palsu mereka dan kebohongan mereka, dan mereka berada pada tempat yang sama di setiap tahun untuk melaksanakan pemilihan umum. Orang-orang tersebut menyebut diri mereka muslim yang sekali lagi berada di tempat voting untuk sebuah partai yang baru dan untuk pemimpin-pemimpin palsu mereka. Satu hal yang aneh, bagaimana voting untuk pemilu berbeda dengan voting untuk kekufuran yang lain (bukan islami) berupa partai demokrasi seperti anggota Dewan atau Badan Konservatif, padahal mereka semua memiliki agenda yang sama, yang pada akhirnya pemerintahan yang berhukum dengan hawa nafsu dan ideologi yang buruk (demokrasi).

Allah SWT. telah mempermalukan orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai muslim dan mereka yang menyekutukan Allah SWT. dalam banyak kesempatan, sebagaimana skandal-skandal seks dan korupsi-korupsi yang dilakukan oleh anggota-anggota dewan yang ‘terhormat’. Mereka juga seringkali melakukan pesta-pesta yang berisi semua penyimpangan terhadap hukum Allah, yaitu semua yang dilarang seperti pergaulan bebas, perzinahan, minum-minuman keras, memamerkan aurat (telanjang), bersumpah dengan nama selain Allah dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya. Macam dari program-program menarik tersebut hanyalah mencerminkan akhlaq yang rendah dari yang mencari ketenaran dalam arti yang dimungkinkan.

Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki kehormatan, perhatian atau kemuliaan dan hanya dapat digambarkan sebagai binatang. Bahkan, tidak sedikit yang mereka jagokan sebagai kandidat (caleg) dalam pemilihan adalah orang-orang yang senyatanya adalah musuh-musuh Islam, mereka selalu memerangi Islam dan mujahidin, menolak untuk menerapkan syari’at dan ridho dengan hukum-hukum kufur di tengah-tengah mereka. Jadi, bagaimana mungkin sebuah partai yang mengatasnamakan partai Islam, atau aktivis-aktivis yang juga mengaku sebagai pejuang-pejuang syari’ah dan khilafah mau duduk-duduk bersama apalagi mengharapkan para kandidat yang memusuhi Islam ini agar menerapkan syari’at Islam. Sungguh, bagaikan menegakkan benang basah.

Masalahnya kemudian, Apakah kaum muslimin ridho bila kaum kuffar ini yang mereka ambil sebagi Tuhan di samping Allah SWT. ??? Apakah hewan ini adalah orang yang mereka pilih untuk berteman dengan orang-orang yang beriman ??? Apakah hewan ini adalah orang yang mereka pilih untuk mewakili mereka di dunia ini dan di akherat kelak ??? Apakah hewan ini adalah orang yang mereka kampanyekan dan serukan kepada muslim lain untuk memilihnya ??? Apakah hewan ini yang mereka tunjuk untuk menjadi pemimpin mereka dan meliberalisasikan tanah-tanah muslim ??? Apakah hewan ini adalah orang mereka nyatakan telah memeluk Islam ??? Berapa banyak janji yang telah mereka penuhi ??? Peperangan manakah yang telah dia hentikan ??? Berapa banyak kaum muslimin dan mujahidin yang telah dibantai ???

Jadikanlah ini sebagai sebuah pelajaran bagi kita semua, kemuliaan, kehormatan dan perhatian hanya dapat dicari dan didapatkan dari Allah SWT. dan jalan hidup yang telah Dia (Allah SWT) pilih untuk umat manusia, yaitu Islam. Barangsiapa yang mencari ‘izzah (kemuliaan) dari orang-orang kafir atau dari jalan hidup mereka hanyalah akan dihinakan dan dipermalukan oleh Allah dalam kehidupan dunia dan akhirat kelak.

“padahal kekuatan itu hanya milik Allah bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang munafik itu tiada mengetahui.” (QS Al Munaafiqun (63) : 8)

“(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (QS An Nisaa (4) : 139)

Ya Allah saksikanlah…kami sudah menyampaikannya…!

Sumber : www.almuhajirun.net

By attazkiyah Posted in Aqidah

Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu!!


Jangan Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Pffhh…sungguh semua itu tlah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa. Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majelis-majelis ilmu, majelis-majelis dzikir yang akan mengantarkan pada ketentraman jiwa.

Hidup ini ibarat belantara.Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mau bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.

Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.

Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu Rizki, jabatan, kedudukan pasti akan Allah sampaikan.Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki, meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikaNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al-Hadid ;22-23)

Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita, bukanya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: Pokoknya harus dia Ya Allah… harus dia, karena aku sangat mencintainya. Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan pakasa.Dan akhirnya kalaupun Allah memberikanya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkanya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkanya dengan marah karena niat kita yang terkotori. Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah: “….Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha mengetahui kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu didunia ini harus benar-benar perlu bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang mukmin tidak hidup untuk dunia tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak! Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!

ISTIQOMAHLAH !!!


Ikhwah Fillah….

Sesungguhnya Iman itu senantiasa bertambah dan berkurang. Dan ketika iman kita berkurang, kita mudah untuk menyimpang dari Shiratal Mustaqim, sehingga Rasulullah menyatakan : “Sesunguhnya setiap amalan itu ada masa semangatnya dan setiap masa semangat itu pasti ada masa jenuhnya. Barang siapa yang masa kejenuhannya ia kembali kepada sunnahku maka telah mendapat petunjuk, barang siapa yang masa jenuhnya menyebabkan ia berpaling dari sunnahku maka telah binasa.”

Oleh sebab itu hendaknya kita menjaga diri kita dari kebinasaan. Ketahuilah bahwa musuh-musuh Islam dan musuh Ahlus Sunnah senantiasa berusaha untuk menggelincirkan kita dari Al-Haq, mereka senantiasa mengintai dan mencari kesempatan untuk menggoda dan menyesatkan kita. Tidakkah kalian ingat kisah Ka’ab bin Malik Radhiallaahu’anhu yang diboikot oleh Rasulullaah dan Sahabatnya. Beliau digoda oleh musuh Rasulullah, Raja Ghasan. Ia dikirimi sebuah risalah oleh Raja Ghasan : “telah sampai kepadaku bahwa sahabatmu telah bersikap keras terhadapmu….., marilah bergabung bersama kami, kami akan memberikan keluasan kepadamu.”Lihatlah bagaimana seorang sahabat yang mulia digoda untuk digelincirkan dari Shiratal Mustaqim. Oleh sebab itu marilah kita jaga diri kita dari godaan Syetan dengan menghadiri majelis-majelis ilmu.

Ketahuilah diantara sebab bertambahnya Iman adalah dengan mendatangi majelis ilmu dan berkumpul dengan orang shalih. Dan diantara sebab turunnya iman dan sesatnya seseorang adalah ketika ia menjauhi majelis ilmu dan menjauh dari Ahlus Sunnah. Allah berfirman dalam surat Al-Hadiid; 16 yang artinya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.

Handzalah Radhiallaahu ‘anhu pernah ditanya oleh Rasulullah, “Bagaimana kabarmu ?” Handzalah menjawab,”….Wahai Rasulullah apabila kami di majelismu sepertinya kami melihat surga dan neraka dengan mata kepala sendiri, tapi bila kami kembali ke rumah, kami terlalaikan oleh keluarga dan urusan dunia kami,…..” Hadist ini sangat jelas menerangkan bahwa menghadiri majelis ilmu adalah penambah iman dan benteng bagi diri kita dari kesesatan.

Oleh karena itu, marilah kita tambah iman kita dengan menghadiri majelis ‘ilmu dengan ikhlash, dengan harapan mudah-mudahan akan menambah iman dan membentengi diri kita dari kesesatan.

Janji Allah Bagi Orang Yang Akan Menikah


Image

Berikut ini sekelumit apa yang bisa saya hadirkan kepada pembaca agar dapat meredam perasaan negatif dan semoga mendatangkan optimisme dalam mencari teman hidup.

Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam proses ta’aruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.

Inilah kabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan menikah. Bergembiralah wahai saudaraku…

1. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)

Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik untuk kita. Amin.

2. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)

Sebagian para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan menikah. Salah satu sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan anehnya ketika para pemuda telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbang juga. Sebagian mereka tetap ragu dengan besaran rupiah yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam pikiran mereka terbesit, “apa cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?”.

Ayat tersebut merupakan jawaban untuk mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan besaran rupiah yang sekarang mereka dapatkan. Nantinya Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab para pemuda bertambah dengan kewajiban menafkahi istri-istri dan anak-anaknya, maka Allah akan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?

3. “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.

4. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)

5. “Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’ ”. (Al Mu’min : 60)

Ini juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut, dan seterusnya.

Dalam berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya adalah ikhlash, bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dll.

Perhatikan juga waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya adalah berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia , pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu turun hujan, dll.

Perhatikan juga penghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan dan minum dari yang haram, juga makan, minum dan berpakaian dari usaha yang haram, melakukan apa yang diharamkan Allah, dan lain-lain.

Manfaat lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahwa Allah itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha Kaya, mengakui bahwa Allah Maha Mendengar, dst.

Sebagian orang ketika jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi ke dukun-dukun berharap agar jodohnya lancar. Sebagian orang ada juga yang menggunakan guna-guna. Cara-cara seperti ini jelas dilarang oleh Islam. Perhatikan hadits-hadits berikut yang merupakan peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barang siapa yang mendatangi peramal / dukun, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam”. (Hadits shahih riwayat Muslim (7/37) dan Ahmad).

Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Maka janganlah kamu mendatangi dukun-dukun itu.” (Shahih riwayat Muslim juz 7 hal. 35).

Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya jampi-jampi (mantera) dan jimat-jimat dan guna-guna (pelet) itu adalah (hukumnya) syirik.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad dan Hakim).

6. ”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. (Al Baqarah : 153)

Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Tentunya agar datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga harus shalat sesuai Sunnahnya dan terbebas dari bid’ah-bid’ah.

7. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah : 5 – 6)

Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang menegaskan dua kali dalam Surat al- insyirah..

8. “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad : 7)

Agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menolong kita, maka kita tolong agama Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwah Islam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu penyelenggaraan pengajian, bedah buku,dll. Dengan itu semoga Allah menolong kita.

9. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Al Hajj : 40)

10. “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah : 214)

Itulah janji Allah. Dan Allah tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun Allah tidak / belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih sayang Allah yang lebih besar untuk kita. Kita harus berbaik sangka kepada Allah. Inilah keyakinan yang harus ada pada setiap muslim.

Jadi, kenapa ragu dengan janji Allah?

 

Seni Membuat Pedang di Era Khilafah


Dunia Islam dikenal memiliki kandungan sumber daya alam yang melimpah ruah. Salah satu sumber mineral yang memiliki arti penting dalam sejarah teknologi Islam adalah besi dan baja. Di era kejayaan Islam, berkembang pesat teknologi pengolahan besi dan baja serta seni membuat pedang.

Salah satu sentra pembuatan pedang dengan teknologi yang termasyhur di zaman kekhalifahan adalah Damaskus, Suriah. Seni pembuatan pedang dengan teknologi tinggi dalam peradaban Islam dimulai pada abad ke-9 M. Sejarawan Al-Qalqashandi dalam buku berjudul, Subh Al-A?sha, menuturkan pada abad ke-12 M Damaskus menjadi sentra pengolahan besi dan baja yang sangat termasyhur.
Pada masa itu, Damaskus berada dalam kekuasaan Dinasti Ayyubiyah. Ibnu Asakir (wafat pada 1177 M) dalam bukunya berjudul, Sejarah Kota Damaskus, juga mengisahkan kota yang sempat menjadi ibu kota Dinasti Umayyah pada abad ke-7 M dan 8 M itu sebagai pusat pembuatan pedang yang kesohor.

Baja Damaskus dikenal sangat keras dan teksturnya yang indah dihiasi ornamen garis bergelombang (firind). Pedang buatan Damaskus yang kerap disebut sebagai pedang Persia sangat lentur dan ulet.Kehebatan pedang dari dunia Islam sempat membuat peradaban Barat terperangah dan terkagum-kagum. Salah satu faktor penyebab kekalahan pasukan Tentara Perang Salib dari Eropa ketika bertempur melawan tentara Muslim adalah peralatan tempur. Selain memiliki kuda-kuda yang tangguh di medan perang, pasukan tentara Muslim juga dilengkapi dengan pedang yang mampu membelah manusia dengan satu kali tebasan.

Pedang Persia sungguh sangat mengagumkan. Ia mampu memotong sutra yang dijatuhkan dari udara. Tak cuma itu, pedang buatan Damaskus juga sanggup mematahkan bilah pedang lain atau batu tanpa hilang ketajamannya. Alkisah, saat Perang Salib berkecamuk, Raja Richard The Lionheart sempat memamerkan kehebatan pedangnya kepada Salahudin Al-Ayubi panglima pasukan tentara Muslim Dengan penuh arogan Richard menebaskan pedangnya pada sebuah baja. Dalam satu kali tebasan, pedang Richard ?Berhati Singa? mampu membelah baja itu.

Salahudin pun tersenyum dan kemudian melemparkan kain sutra ke udara. Lalu, pedang yang disandang nya dihunuskan. Ketika mengenai bilah pedang Saladin, kain sutra itu terpotong menjadi dua. Kisah itu menunjukkan betapa pedang yang dibuat peradaban Islam sungguh luar biasa tajamnya. Saat Perang Salib itulah, peradaban Barat mulai mencari rahasia teknologi tempa baja yang dikuasai dunia Islam. Tentara Perang Salib menyebut baja yang hebat dari Damaskus itu dengan sebutan Damascus Steel. Teknologi pengolahan besi dan baja Damaskus kesohor karena mampu menempa dan mengeraskan wootz steel menjadi indah dan lentur.

Seni membuat pedang di era kejayaan Islam mendapat perhatian khusus dari peradaban Barat. Secara khusus, Robert Hoyland dan Brian Gilmore menulis buku bertajuk, Medieval Islamic Swords and Swordmaking. Buku setebal 216 halaman itu mengupas risalah yang ditulis ulama Muslim terkemuka pada abad ke-9, M Ya?qub Ibnu Ishaq Al-Kindi, tentang ?Pedang dan Ragam Jenisnya?.

Risalah yang ditulis Al-Kindi itu berisi informasi teknologi pembuatan pedang. Secara khusus, Al- Kindi juga mengklarifikasi beragam jenis besi dan baja untuk membuat pedang. Pedang itu terbuat dari dua jenis besi, yakni alami (yang ditambang) dan tak alami (buatan), papar Al-Kindi. Besi alami, menurut Al- Kindi, terbagi menjadi dua. Ada yang dinamakan Shaburqan atau besi laki-laki ini adalah jenis besi keras yang diolah dalam kondisi panas. Jenis yang kedua adalah Narmahin atau besi perempuan ini adalah besi yang lembek yang tak dapat diolah dalam kondisi panas.

Pedang dapat ditempa dari salah satu jenis besi ini atau gabungan keduanya, ungkap Al- Kindi. Karena itu, menurut Al- Kindi, pedang yang terbuat dari besi alami terbagi menjadi tiga jenis: shaburqani, narmahani, dan gabungan keduanya. Al-Kindi menyebut besi yang tak alami sebagai fuladh.

Besi buatan atau tak alami terbuat dari proses penyulingan dan pemurnian. Besi jenis ini juga dikenal sangat kuat, fleksibel, dan dapat diolah dalam keadaan panas. Al-Kindi membagi kualitas besi ke dalam tiga jenis. Kualitas besi itu terbagi menjadi tiga macam; antique (kuno), modern, nonantique (tak kuno), dan nonmodern (tak modern). ?

?Pedang dapat ditempa dari semua jenis besi dan baja ini, ungkap Al-Kindi. Menurut Al- Kindi, jenis besi atau baja yang paling berkualitas tinggi adalah jenis antique (kuno). Antique tak ada kaitannya dengan waktu atau usia, namun itu mengindikasikan kemurnian kualitas. Menurut dia, pedang yang berkualitas tinggi itu terbuat dari besi atau baja jenis antique.

Kualitas pedang antique juga terbagi menjadi tiga jenis. Yang paling berkualitas tinggi dinamakan Yemenite. Kualitas nomor dua disebut Qal?i dan yang ketiga disebut Indian.

Pada era kejayaan Islam, pedang-pedang yang dibuat para pandai besi di dunia Islam juga ada yang bahannya diimpor dari Sarandib (kini wilayah Srilanka). Sedangkan pedang asli dari dunia Muslim, besi dan bajanya berasal dari Khurasan, Basrah, Damaskus, Mesir, dan Kufah.

Ilmuwan Muslim lainnya yang menguasai teknologi pembuatan pedang adalah Abu Al-Raihan Al- Biruni (973 M-1048 M). Secara khusus, ia menulis kitab berjudul, Al-Jamahir fi ma`rifat al-jawahir. Dalam karyanya itu, Al-Biruni menggambarkan proses karbonisasi besi tempa dan pembuatan baja dari besi tuang. Kitab lainnya yang mengupas tentang pembuatan pedang adalah Kitab Al-hadid (Kitab tentang Besi) yang ditulis Al-Jildaki. Ahli kimia asal Mesir itu mengungkapkan begitu banyak informasi seputar tingkat kemampuan masyarakat Muslim di era keemasan dalam pengolahan besi dan baja.

Prof Ahmad Y Al-Hassan dalam tulisannya berjudul, The Origin of Damascus Steel In Arabic Sources, mengungkapkan hampir semua pedang di dunia Islam terbuat dari ?Besi Damaskus?. Salah satu ciri khas pedang dari Damaskus dihiasi dengan pola hias (firind). Menurut Al-Kindi, firind dapat ditemukan dalam semua jenis besi buatan. Sedangkan, pedang yang terbuat dari besi alami tak memiliki pola hias atau firind. Al-Biruni dalam kitabnya Al-jamahir secara menarik menjelaskan latar belakang dibalik pembuatan pola hias pada pedang.

Besi dalam Alquran

Besi mendapat tempat yang khusus dalam kitab suci Alquran. Secara khusus, surat ke-57 mengambil nama Al-Hadidyang berarti besi. Kata Al-Hadiddiambil dari ayat 25 surat tersebut. Dalam ayat itu, Alquran secara jelas mengungkapkan bahwa besi memiliki kekuatan dan sangat bermanfaat bagi manusia. Dengan besi itu, umat Islam bisa menolong agama Allah.

Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa buktibukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Alkitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya, padahal Allah tidak dilihatnya.

Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS Al-Hadid: ayat 25).Selain itu, Alquran juga menggambarkan proses pengolahan besi. Dalam surat Al-Khafi (gua) ayat 96 Allah SWT berfirman, Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain, Tiuplah (api itu). Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu.

Teknologi pengolahan besi tampaknya telah dikuasai manusia sejak zaman Nabi Daud AS. Hal itu terungkap dalam surat Al- Anbiyaa? (Nabi-nabi) ayat 80. Dalam surat itu Allah SWT berfirman, Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka, hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).

Fakta lainnya yang menyebutkan pengolahan besi yang telah berkembang di zaman Nabi Daud AS juga dengan diungkapkan dalam surat Saba? (Kaum Saba) ayat 10. Dan sesungguhnya telah Kami berikan ke pada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), Hai gunung-gunung dan burung-bu rung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud, dan Kami telah melunakkan besi untuknya.

Dalam surat Saba? ayat 11, Alquran juga memerintahkan dan menjelaskan cara membuat baju besi. Buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya, dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan. Paling tidak, terdapat sembilan ayat dalam Alquran yang membahas dan menjelaskan tentang besi. Dan Allah menjadikan bagimu tempat bernaung dari apa yang telah Dia ciptakan, dan Dia jadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia jadikan bagimu pakaian yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri (kepada-Nya). (QS An-Nahl: ayat 81).

sumber
khilafahstuff

http://www.muslimdaily.net

kepada para Pejuang Dakwah


Bismillahirrahmanirrahim….

Kepada kalian yang mempertautkan hati di jalan dakwah ….

Kepada kalian yang menjalin ikatan kasih dalam indahnya ukhuwah ….

Kepada kalian yang merindukan tegaknya syari’ah ….

Kepada kalian, ana tulis sebuah surat cinta ….

Karena bersama kalian ku temukan cinta di jalan dakwah ….

Kasih dalam jihad fi sabilillah ….

Uhibbukum FILLAH …. LILLAH ….

 

Teruntuk para aktivis dakwah,

 

Dakwah berdiri di atas aqidah yang kokoh, ibadah dan ilmu yang shohih, niat yang lurus, dan iltizam yang kuat

Dakwah adalah proyek besar membangun peradaban umat

Dakwah adalah jalan yang sukar dan terjal

Dakwah adalah jalan yang sangat panjang

Dakwah penuh dengan gangguan, cobaan, dan ujian

Dakwah bukan jalan yang ditaburi bunga dan wewangi kesturi

Dakwah butuh komitmen yang kuat dari pengembannya

Dakwah memerlukan kemurahan hati, pemberian dan pengorbanan tanpa mengharapkan hasil, tanpa putus asa, dan putus harapan

Dakwah butuh pengorbanan dan kesungguhan

Dakwah butuh kesabaran dan keistiqomahan

 

Teruntuk para pejuang,

Sudah teguhkah azzam yang kau pancang ???

Benarkah perjuanganmu karena ALLAH ???

 

Mundurlah, dan luruskan kembali niatmu, jika:

Nafsu masih merajaimu

Kilauan permata masih menyilaukanmu

Kesenangan dunia masih melenakanmu

Syaithan masih bersarang di dadamu dan menjadi teman setiamu

Kenikmatan semu masih membuaimu dan menutup mata batinmu

Percayalah, semua itu adalah keindahan sesaat yang akan menggoyahkan tekadmu. Allah Azza Wa Jalla sengaja ciptakan itu sebagai ujian bagimu!

Berbahagialah jika kau menjadikan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai tujuan akhirmu, puncak kerinduanmu. Dan jadilah antum sebagai orang-orang yang beruntung!

 

Untuk jiwa-jiwa yang merindukan kemenangan

Untuk setiap diri yang mengaku sholih

Untuk mereka yang mengajak kepada jalan yang lurus

Untuk mereka yang saling menasehati dalam kebenaran dan kebaikan

 

Ketika jalan yang kalian tempuh begitu sukar, ketika amanah yang kalian emban begitu berat, ketika tanggung jawab yang kalian pikul begitu banyak, terkadang kalian lupa dengan azzam yang kalian tanam sebelumnya, kalian lalai dan terlena. Kalian lupa membersihkannya, membidiknya, mengontrolnya, memuhasabahinya, dan lupa untuk meluruskannya kembali. Apakah dunia yang fana lebih kau cintai daripada kampung akhirat yang kekal abadi?

 

Duhai para pecinta ALLAH

Duhai yang meneladani Muhammad Rasulullah

Duhai yang menjadikan Al-Quran sebagai pedomannya

Duhai yang berjihad di jalanNya dengan sebenar-benarnya jihad

Duhai yang memburu syahid sebagai cita-cita tertingginya

 

Dakwah telah memanggilmu!

Umat menunggu pencerahan darimu!

Letih sudah mata ini menyaksikan kemaksiatan merajalela.

Lelah sudah kaki melangkah, karena setiap jengkal yang dipijak, bumi merasa terdzolimi oleh manusia-manusia tak beradab.

Lunglai tubuh ini ketika mendapati hukum-hukum Allah diganti dengan hukum-hukum makhluk yang hanya menebar kerusakan.

Perih hati ini ketika menemukan thoghut-thoghut bersarang di dalamnya.

Menangis batin ini menyaksikan saudara-saudara seiman, seislam, dan seaqidah saling caci, saling menyalahkan, saling bermusuhan. Lalu ke mana perginya ukhuwah?

 

Apakah ukhuwah hanya berlaku pada segolongan atau sekelompok umat yang bernaung dalam satu jamaa’ah?

Wahai yang mengaku diri aktivis,

 

Sudah benarkah aktivitas yang antum jalani dalam menyeru manusia ke jalan ALLAH?

Serulah dirimu sebelum kau menyeru orang lain.

Sudahkah ghiroh yang kau miliki kau poles dengan ilmu yang shohih? Karena semangat saja belum cukup! Teruslah tholabul’ilm..

Sudah efektifkah syuro-syuro antum?

 

Apa yang ada dalam syuro hanya obrolan sia-sia yang mengundang tawa?

Senda gurau tak bermakna?

Tak ada lagi kesungguhan dan fokus menyelesaikan masalah?

 

Terlalu banyak basa-basi dan kata-kata tak berarti?

Bagaimana cara antum merumuskan, mengatur strategi jitu, menyusun konsep, menetapkan target, men-SWOT, dan lain sebagainya, sudah syar’ikah?

Sudahkah antum pantau terus niatmu agar tetap lurus di awal, di tengah, sampai ke penghujungnya?

 

Di sini niat dan tujuan harus selalu di luruskan. Bukan demi keegoisan masing-masing individu atau jama’ah, tapi demi tegaknya Dienullah.

Lalu, bagaimana kenyataannya di lapangan?

 

Teknis yang telah antum usahakan bersama?

Apakah ada titik-titik noda di dalamnya?

Hijab yang semakin longgar, virus merah jambu yang semakin menyebar, ukhuwah yang kian memudar, barisan yang terpencar. Atau mungkin sms-sms taujih yang menyebar di kalangan ikhwan dan akhowat yang kemudian mengotori hati-hati mereka, menodai niat tulus mereka.

Dari kata-katanya, ada rasa kagum pada ghirohnya, salut pada keteguhannya, simpatik pada ke-haroki-annya, dan tersanjung pada perhatiannya. Benih-benih inilah yang akan tumbuh bersemi di hati dan mengefek pada amal sehari-hari.

Mungkin saja fenomena-fenomena itu yang mengurangi keberkahan dakwah sehingga ALLAH ‘Azza wa Jalla belum mau menghadiahkan kemenangan itu pada kita! Karena di samping menyeru kepada kebenaran, tentara-tentara Allah itu juga menggandeng kemaksiatan, apapun bentuknya!

 

Ikhwah….

Di mana antum berada saat saudara-saudara antum di belahan bumi yang lain sedang megangkat senjata, menghadang tank-tank zionis, melempar bom dan batu kerikil di medan intifadhah?

Di mana antum saat mereka berburu syahid? Yang mereka pertaruhkan adalah nyawa, akhi! Nyawa, ukhti! NYAWA!

Jika darah tak mampu antum alirkan, maka di mana saat saudara-saudara antum sedang bermandi peluh menyiapkan kegiatan-kegiatan dakwah, acara-acara syiar Islam, daurah, bakti sosial, dan seabrek agenda-agenda dakwah yang lain.

Di mana antum saat yang lain sedang membuat publikasi, mendesain dekorasi, menyediakan konsumsi, atau menyebar proposal, mencari dana ke sana ke mari? Semua demi kelancaran acara. Demi syiar Islam! Agar dakwah terus menggaung di berbagai penjuru. Agar Islam tetap berdetak di jantung masyarakat. Masyarakat yang kini telah hilang jati dirinya sebagai hamba ALLAH. Masyarakat yang kini malu mengaku sebagai Muslim. Masyarakat yang kini phobi dengan syari’at Islam. Ya, masyarakat itu kini ada di sekeliling kita. Mereka hadir di tengah-tengah kita. Mereka adalah objek dakwah kita!

 

Wahai yang masih memiliki hati tempat bersemayamnya iman, apakah ia tidak lagi bergetar kala ayat-ayatNya diperdengarkan?

 

Apakah ia tak lagi geram ketika melihat kemungkaran terjadi di hadapannya?

Wahai yang memiliki mata yang dengannya antum bias melihat indah dunia, apakah ia tak lagi menangis saat dikabarkan tentang azab, ancaman, dan siksaan?

Apakah ia tak lagi meneteskan cairan hangatnya ketika bangun di tengah malam dalam sujud-sujud panjang?

Apakah ia tak lagi mengalirkan butiran-butiran beningnya ketika melihat saudaranya yang seaqidah didzolimi, dirampas hak-haknya, dilecehkan dan di aniaya, bahkan dibunuh karena mempertahankan diennya?

 

Ke mana kalian wahai aktivis dakwah?

Di mana kini antum berada?

Sedang bersantai ria di kamar sambil mendengar nasyid kesukaan?

Terbuai di atas kasur dengan bantal empuk dan selimut tebal?

Bersenda gurau bersama kawan-kawan?

Membaca novel-novel picisan?

Atau…sedang melamun memikirkan sang pujaan?

Kepada kalian yang sedang menanti hadirnya belahan jiwa…

Masih perlukah romantisme di saat nasib umat sedang berada di ujung tombak?

Masih perlukah gejolak asmara tumbuh dan bersemi di jiwa?

Membuat otak sibuk memikirkannya, membuat setiap lisan tak henti menyebut namanya, membuat setiap hati tak tenang, resah, dan gelisah menunggu hadirnya.

Masih perlukah virus merah jambu menjangkiti rongga-rongga hatimu? Melemahkan sendi-sendimu, menggoyahkan benteng pertahananmu, merapuhkan tekadmu, menenggelamkanmu dalam samudera cinta mengharu biru.

Masih perlukah semua perasaan itu kau pelihara, kau tanam, kau pupuk, kau siram, dan kau biarkan tumbuh subur dalam hatimu?

 

Wahai aktivis dakwah,

sungguh perasaan itu fitrah! Kau pun sering berdalih bahwa itu adalah anugerah. Sesuatu yang tak bisa dinafikan keberadaanya, tak bisa dielakkan kehadirannya. Cinta memang datang tanpa diundang. Cinta memang tak mampu untuk memilih, kepada siapa dia ingin hinggap dan bersemi. Dia bisa menghuni hati siapaun juga, tak terkecuali aktivis dakwah! Sekali lagi, cinta itu fitrah!

Namun wahai ikhwah yang mewarisi tongkat estafeta dakwah, bisa jadi perasaanmu itu menghalangimu untuk mengoptimalkan kerja dakwahmu.

 

Bisa jadi perasaanmu itu mengganggu aktivitas muliamu.

Bisa jadi perasaanmu itu mengusik hatimu untuk mundur dari jalan dakwah yang kau tempuh.

Bisa jadi perasaanmu itu membelenggumu dalam cinta semu.

Dan yang terparah, bisa jadi perasaanmu itu menggeser posisi Rabbmu dalam tangga cintamu.

 

Tanpa kau sadari!

Yang kau ingat hanya dia!

Yang terbayang adalah wajahnya.

Yang kau pikirkan kala dia menjadi partner dakwahmu seumur hidup, membangun pernikahan haroki, menemanimu membina keluarga dakwah dan menjadikannya abi/ummi dari jundi-jundi rabbani…ah indahnya!

Yang ada di sholatmu, dia.

Yang ada di tilawahmu, dia.

Yang ada di benakmu, dia.

Yang ada di aktivitasmu, dia. Hanya ada dia, dia, dia, dan dia!

 

Benarkah itu wahai saudaraku?

Mari kita jawab dengan serentak….na’udzubillahi min dzaalik!

Ke mana cinta ALLAH dan RasulNya kau tempatkan?

Di mana dakwah dan jihad kau posisikan?

 

Astaghfirullahal’adziim…

 

Dakwah hanya dimenangkan oleh jiwa-jiwa bermental baja, bertekad besi, berhati ikhlas. Orang-orang beriman yang mengatasi persoalan dengan ilmu yang shohih dan memberi teladan dengan amal.

Perjalanan panjang ini membutuhkan mujahid/ah perkasa yang mampu melihat rintangan sebagai tantangan, yang melihat harapan di balik ujian, dan menemukan peluang di sekeliling jebakan.

Ke mana militansi yang antum miliki?

Ke mana ghiroh membara yang antum punya?

 

Pejuang sejati adalah mereka yang membelanjakan hartanya di jalan dakwah, menjual dunianya untuk akhiratnya, mengorbankan nyawanya demi jihad fisabilillah, menggunakan seluruh waktu dan sisa umurnya untuk memeperjuangkan dan mengamalkan Islam.

 

Dakwah TIDAK BUTUH aktivis-aktivis MANJA!

Dakwah TIDAK BISA DIPIKUL oleh orang-orang CENGENG, MENTAL-MENTAL CIUT, NYALI YANG SETENGAH-SETENGAH, dan GERAK YANG LAMBAN!

 

Barisan dakwah harus disterilkan dari prajurit-prajurit yang memiliki sifat-sifat seperti di atas(manja, cengeng, mental ciut, nyali setengah-setengah, ragr-ragu, dan lamban bergerak). Karena, keberadaan mereka hanya akan menularkan dan menyebarkan aroma kelemahan, kerapuhan, kepasrahan, dan kekalahan di tengah-tengah barisan.

 

Dakwah butuh pejuang-pejuang tangguh untuk mengusungnya.

Dakwah butuh orang-orang cerdas untuk memulainya, orang-orang ikhlas untuk memperjuangkannya, orang-orang pemberani untuk memenangkannya!

ANTUMLAH ORANG-ORANG TERPILIH YANG MENGUKIR SEJARAH ITU!!!

TERUS BERGERAK TUNTASKAN PERUBAHAN, ALLAHUAKBAR!!!

 

Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya


Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada PILIHAN bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (QS. 28:68).

Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang PILIHAN yang baik. (QS. 38:47).

Kehidupan manusia di dunia ini sesungguhnya merupakan estafet ke dua dari sebuah perjalanan panjang menuju kehidupan akhirat sebagai babak terakhir dari semuanya. Kehidupan dunia, sebagaimana pernah disebut oleh Ali bin Abi Thalib, adalah kehidupan yang menjadi milik seutuhnya manusia (manusia diberikan kebebasan) untuk memilih beriman atau kafir serta baik atau buruk, dengan kata lain dunia adalah alam manusia berbuat, sedangkan akhirat adalah alam pembalasan milik Allah SWT.

Maka tidaklah mengherankan jika banyak peristiwa aneh, kejadian unik serta tindakan dan perbuatan makhluk, khususnya manusia yang menurut kacamata dan pikiran kita kadang terjadi “tidak biasanya” atau dengan istilah lain berbeda dari seharusnya. Artinya ada banyak peristiwa hidup manusia yang berjalan di luar kebiasaan selama ini.

Sejarah (shiroh) memberikan contoh tentang beberapa peristiwa atau kejadian yang “di luar” dari kebiasaan seharusnya. Fakta ini menunjukkan tentang ada jalan yang tak banyak orang melaluinya, namun ternyata jalan itulah yang telah mengantarkan mereka pada lembaan hidup yang berkilau tak hanya bagi mereka,namun diasakan oleh generasi setelah mereka sebagai pelajaran yang sangat mahal ;

Pertama, Abu Dzar Al Ghifari, Pemberani yang Sendirian.

Dengan telah masuk Islamnya seluruh kampung Bani Ghifar, dan setelah peperangan Badar, Uhud dan Khandaq, Abu Dzar bergegas menyiapkan dirinya untuk berhijrah ke Al Madinah dan langsung menemui Rasulullah SAW di masjid beliau. Dan sejak itu Abu Dzar berkhidmat melayani berbagai kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah SAW. Dia tinggal di Masjid Nabi dan selalu mengawal dan mendampingi Nabi SAW kemanapun beliau berjalan.

Sehingga Abu Dzar banyak menimba ilmu dari Rasulullah SAW. Sehingga Rasulullah SAW sangat mencintainya dan selalu mencari Abu dzar di setiap majlis beliau dan beliau menyesal bila di satu majlis, Abu Dzar tidak hadir padanya. Sehingga beliau menanyakan, mengapa dia tidak hadir dan ada halangan apa.

Begitu dekatnya Abu Dzar dengan Rasulullah SAW, dan begitu sayangnya beliau kepada Abu Dzar, sehingga disuatu hari pernah Abu Dzar meminta jabatan untuk di angkat menjadi salah seorang Gubernur kepada Rasulullah SAW. Maka beliau langsung menasehatinya :

“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerima jabatan itu, kecuali orang yang mengambil jabatan itu dengan cara yang benar dan dia menunaikan amanah jabatan itu dengan benar pula”. (HR. Ibnu Sa’ad).

Pada kali yang lain, Rasulullah SAW juga pernah mengatakan kepada Abu Dzar, beliau bersabda ; “Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang shaleh, sungguh engkau akan ditimpa berbagai malapetaka sepeninggalku”. Maka Abu Dzarpun bertanya : Apakah musibah itu sebagai ujian di jalan Allah ?”, Rasulullahpun menjawab : “Ya, di jalan Allah”. Dengan penuh semangat Abu Dzarpun menyatakan : “Selamat datang wahai mala petaka yang Allah taqdirkan”. (HR. Abu Nu’aim Al Asfahani).

Kedua, Nasibah Binti Ka’ab, Benteng Kokoh Rasulullah SAW.

Nasibah bin Ka’ab adalah putri dari Abdullah bin Kaab yang bergelar Ummu Umaroh , Beliau sosok wanita pertama yang mengangkat senjata berperang bersama Rasululloh SAW dalam perang Uhud yang telah menewaskan ribuan sahabat – sahabat Rasululloh SAW termasuk keluarga Nasibah bin Ka’ab yang semuanya gugur ikut berperang mendampingi Rasululloh SAW. Ketika kaum Muslimin yang dipimpin Rasululloh SAW berperang di Bukit Uhud, kala itu Nasibah bin Ka’ab sedang berada di rumah dan berkumpul dengan anggota keluarganya.

Nasibah mendengar Teriakan riuh dan gema Takbir “Allahu Akbar”, dan Nasibah memberitahu suaminya “Sa’id ” bahwa Rasululloh SAW dan pasukannya sedang bertempur di bukit Uhud. Seketika itu bangkitlah Sa’id dan menyuruh istrinya mempersiapkan Kuda dan senjata untuk ikut bergabung dengan Rasulu lloh berperang melawan tentara kafir. “Bawalah Pedang ini dan jangan Pulang sampai kau memperoleh kemenangan” kata Nasibah memberi semangat suaminya yang akan berperang. Ditatap wajah istrinya dengan penuh cinta berangkatlah Sa’id dan bergabung dengan Rasululloh SAW dan Rasul pun menatap Said dengan senyuman.

Dengan gagah Said bertempur dengan pasukan kafir hingga akhirnya Said gugur ditebas pedang oleh tentara kafir. Lalu Rasululloh SAW mengutus Sahabat untuk menemui istri Sa’id di rumah bahwa suaminya telah gugur. Berangkatlah utusan tersebut untuk menemui Nasibah bin Ka’ab istri Sa’id di rumah. “Assalamualaikum ” Wahai Nasibah ada Salam dari Rasululloh SAW dan Suamimu Said telah gugur ”, kata utusan Rasululloh SAW.

” Innalillahi wa inna ilahi roji’un , alhamdulillah suamiku telah memperoleh kemenangan, lihatlah wahai kedua anakku , Ayahmu telah memperoleh kemenangan , dia telah menjadi Syahid, Ibu menangis bukan karena sedih kehilangan Ayahmu nak….tapi ibu sedih karena tidak ada yang menggantikan ayahmu untuk berjuang bersama Rasululloh .”

Bangkitlah Amar putra tertua Nasibah bin Ka’ab , “wahai ibu biar aku yang menggantikan posisi ayah untuk berjuang bersama Nabi Muhammad SAW.” “Alhamdulillah pergilah nak….jangan kau biarkan Rasululloh SAW terluka. Amar bin Said berangkat berjihad bersama Rasululloh SAW dan iapun syahid menyusul ayahnya.

Datanglah utusan kembali menemui Nasibah bin Ka’ab dan mengabarkan berita gugurnya Amar putra tertuanya. Meneteslah air mata Nasibah mendengar berita tersebut, dan ia mengatakan “aku menangis bukan karena kehilangan putraku Amar , tapi siapa lagi yang aku utus untuk membantu Rasululloh SAW berperang, sedangkan putra keduaku Sa’ad masih terlalu remaja untuk ikut berperang melawan pasukan kafir.

Tiba tiba Saad putra kedua Nasibah bangkit “Wahai ibu biar aku masih remaja izinkan aku juga membantu Rasulullloh dan akan aku buktikan bahwa aku mampu berperang seperti Ayah dan kakakku.”Mendengar hal itu bukan main senangnya Nasibah bin Ka’ab, “Alhamdulillah berangkatlah nak sampaikan salam ku untuk Rasululloh.” Sa’ad pun berangkat berjihad dan ia syahid menyusul ayah dan kakaknya Amar dengan sebilah anak panah menembus jantungnya dan gugurlah Saad dengan senyum kemenangan.

Dan Rasululloh SAW pun kembali mengutus sahabatnya untuk menyampaikan gugurnya Saad kerumah Nasibah . “Wahai sahabat Rosul aku sudah tidak punya siapa siapa lagi , hanya tubuh renta ini yang aku miliki maka bawalah aku menemui Rasululoh untuk ikut berperang dengannya” dengan lantang Nasibah mengutarakan niatnya untuk berperang bersama Rasululloh SAW.

Menghadaplah Nasibah menemui Rosululloh untuk ikut angkat senjata bersamanya. ”Wahai Nasibah belum waktunya perempuan untuk angkat senjata” kata Rasululloh, “untuk itu kau rawatlah para prajurit yang terluka karena pahalanya sama dengan orang yang berperang.”

Nasibah turut berjuang bersama pasukan muslimin dalam perang Uhud. Nasibah hanya membawa kantong air untuk memberi minum para pejuang serta perban untuk membalut luka mereka. Namun saat Nasibah melihat kemenangan kaum muslimin yang telah digenggam tiba tiba lepas karena banyak pasukan yang tidak menaati Rasululloh, Pasukan Rasululloh meninggalkan Bukit Uhud dan beberapa mereka mengumpulkan harta rampasan Perang dan Nasibah melihat orang orang meninggalkan Rasululloh, maka Nasibah pun pun maju untuk membentengi rasullulloh dari serangan orang- orang kafir kafir. Ia berjuang begitu gigih demi melindungi Rasululloh SAW, dengan sebilah pedang Nasibah ikut berperang melindungi Rasululloh.

Orang orang yang tadinya meninggalkan Rasululloh tercengang ketika Rasulullloh di serang oleh pasukan kafir. Keadaan semakin kacau pasukan Rasululloh banyak yang gugur. Tangan Kanan Nasibah putus terhempas pedang kaum Kafir, namun tak mematahkan semangatnya untuk tetap berjuang membela agama Allah. Dengan lengan yang putus Nasibah mencari Rasululloh dan merasa khawatir akan keselamatan Rasululloh dan hatinya galau takut Rasululloh Saw terluka.

Tiba tiba Pedang kaum kafir menebas lehernya robohlah tubuh Nasibah ke tanah, dan seketika itu pula langit menjadi Gelap dan mendung . kedua pasukan yang saling bertempur terperangah melihat kejadian tersebut. Rasululloh saw pun bersabda ” Kalian lihat langit tiba tiba mendung? itu adalah bayangan ribuan malaikat yang menyambut kedatangan arwah Nasibah Syahidah yang perkasa”.

Ketiga, Umar bin Khattab yang berbeda.

Terkadang khilaf bukan terjadi hanya di antara shahabat nabi saja, namun terjadi juga antara Nabi SAW dengan para shahabatnya.

Dalam kasus penempatan pasukan perang di medan Badar, terjadi perbedaan pendapat antara Rasulullah SAW dengan Umar bin Khattab. Menurut sahabat yang ahli perang ini, pendapat Rasulullah SAW yang bukan berdasarkan wahyu kurang tepat. Setelah beliau menjelaskan pikirannya, ternyata Rasulullah SAW kagum atas strategi shahabatnya itu dan bersedia memindahkan posisi pasukan ke tempat yang lebih strategis.

Di sini, nabi SAW bahkan menyerah dan kalah dalam berpendapat dengan seorang sahabatnya. Namun beliau tetap menghargai pendapat itu. Toh, pendapat beliau SAW sendiri tidak berdasarkan wahyu.

Ketika perang nyaris berakhir, muncul keinginan di dalam diri beliau untuk menghentikan peperangan dan menjadikan lawan sebagai tawanan perang. Tindakan itu didasari oleh banyak pertimbangan selain karena saat itu belum ada ketentuan dari langit. Maka nabi SAW bermusyawarah dengan para shahabatnya dan diambil keputusan untuk menawan dan meminta tebusan saja.

Saat itu hanya satu orang yang berbeda pendapat, yaitu Umar bin Al-Khattab ra. Beliau tidak sepakat untuk menghentikan perang dan meminta agar nabi SAW meneruskan perang hingga musuh mati semua. Tidak layak kita menghentikan perang begitu saja karena mengharapkan kekayaan dan kasihan.

Tentu saja pendapat seperti ini tidak diterima forum musyarawah dan Rasulullah SAW serta para shahabat lain tetap pada keputusan semula, hentikan perang.

Tidak lama kemudian turun wahyu yang membuat Rasulullah SAW gemetar ketakutan, karena ayat itu justru membenarkan pendapat Umar ra dan menyalahkan semua pendapat yang ada.

”Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal : 68).

Kisah lain yang seirama dengan beberapa kisah unik di atas, diantaranya adalah ; kisah Abdullah Bin Ummi Maktum, orang buta pertama dalam sejarah Islam yang ikut berperang bersama Rasulullah SAW. Abdullah bin Ummi Maktum sejak kecil dia tidak dapat melihat daun yang hijau, laut yang biru, dan awan yang putih. Dalam pandangannya semua terlihat gelap. Tidak ada bedanya antara siang dan malam. Ia mempunyai rasa yang sangat peka untuk mengetahui waktu.

Setiap menjelang fajar, dia keluar rumah untuk pergi ke mesjid mengumandangkan adzan. Dia bisa sampai ke mesjid dalam keadaan masih gelap dengan mata yang buta tidak lain dengan bertopang pada tongkat atau bersandar pada lengan salah seorang kaum muslimin. Dia adalah mitra Bilal Bin Rabah, Jika salah satunya adzan maka yang lain mengumandangkan iqomat.

Atau Kisah tidak ikut berperangnya Ka’ab bin Malik dan dua sahabat lainnya dalam perang Tabuk, padahal sejarah telah mencatat dengan tinta emas bagaimana prestasi dan kualitas keimanan Ka’ab bin Malik dalam mengembangkan dakwah Islam. Saking beratnya kesalahan Ka’ab dan dua sahabatnya ini, hingga Rasulullah SAW menghukumnya dengan mengisolir Ka’ab dan dua sahabatnya selama lima puluh hari. Setiap hari Ka”ab dan kedua rekannya berdo”a, beristighfar dan menangis.

Setelah lima puluh hari, Allah menurunkan ayat:

(Dan Allah juga mengampuni) tiga orang yang meninggalkan diri di belakang. Ketika bumi yang luas terbentang terasa sempit bagi mereka dan mereka rasakan napas mereka sesak. Mereka tahu bahwa tidak ada tempat berlindung kecuali Allah. Kemudian Allah mengasihi mereka agar mereka kembali kepada Tuhan. Sesungguhnya Allah Penerima Taubat dan Maha Penyayang (QS 9: 118).

Atau kisah lain adalah di angkatnya Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Ummi Maktum sebagai mu’adzin Rasulullah SAW, padahal jika melihat kualitas bacaan dan kemerduan suara pada saat itu ada sahabat lain seperti Abdullah bin Mas’ud yang suaranya jauh lebih merdu dan bacaannya lebih fasih. Namun Rasulullah mempercayakan tugas mu’adzin justru kepada Bilal bin Rabah yang mantan budak, hitam, fisiknya juga tidak begitu “ideal”. Dan Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, kemana-mana hanya bersahabat dengan tongkatnya.

Kisah yang tidak biasa lainnya, misalnya tentang “demonstrasi” para istri Rasulullah SAW untuk meminta tambahan nafkah dan biaya hidup kepada Rasulullah SAW. Serta banyak lagi kisah yang tak biasa dan tak seharusnya ini terjadi.

KITA BELAJAR DARI YANG TAK BIASA !

Saat kita membaca dan memahami beberapa kisah “tak biasa” di atas, maka seharusnya kita membaca dan memahaminya dari sisi lain yang berbeda. Dengan kata lain bahwa ada pelajaran berharga yang harus kita ambil dari berbagai kisah di atas, pelajaran tersebut antara lain ;

Pertama, bahwa sehebat apapun kita, siapapun kita, seperti apapun kehidupan kita, maka akan tetap ada, akan bisa mengalami, akan senantiasa merasakan, bahwa ada saat-saat dimana kehidupan kita dan apa yang kita hadapi akan berjalan dengan cara yang tak biasa, seperti ada orang yang biasanya sabar, tidak pemarah, sulit menangis, namun suatu waktu ia akan berhadapan dengan situasi dan kedaan yang memaksa dirinya untuk tidak sabar dan harus marah, dan bahkan meminta dirinya dengan kerelaan untuk meneteskan air mata, meskipun hanya setetes saja, atau dalam bentuk lainnya. Sehingga barangkali belajar dari hal tersebut di atas, maka sekarang kita mengenal istilah-istilah ; uztadz juga manusia, penulis juga manusia, dan sebagainya.

Kedua, ketika kita menghadapi situasi yang tiba-tiba berjalan tidak sebagaimana biasanya, baik itu di dunia kerja kita, rumah tangga kita, organisasi kita, kehidupan sosial kita dan sebagaimana, maka sebaiknya yang kita lakukan terlebih dahulu sebelum tindakan yang lain adalah bertanya ada apa dan mengapa ?. Hal ini merupakan tindakan yang cerdas, karena seharus kita memahami bahwa ketika hal itu berjalan tidak sebagaimana biasanya, berarti ada yang berubah, maka jangan mudah menyalahkan, jangan gampang memberi nilai yang buruk karena perubahan itu belum tentu salah, segera cepat belajar agar ia cepat terselesaikan dan kembali seperti semula.

Ketiga, Jika suatu saat kita dihadapkan pada situasi yang tidak biasa itu, kita harus tetap berdiri tegar, tidak gampang putus asa, tidak mudah menyerah, tidak goyah dan menutup pintu harapan. Sebab ketahuilah bahwa dalam ketidak biasaan itu terkadang ada sumber energi besar untuk keluar menjadi sesuatu yang lebih baik, lebih besar, lebih berharga, lebih tinggi, lebih berkualitas, lebih indah, lebih membahagiakan dari sesuatu yang selama ini kita hadapi dan nikmati dalam keadaan yang biasa-biasa saja. Artinya, boleh jadi ketidak biasaan itu justru adalah jembatan untuk melompat lebih jauh, anak tangga untuk naik lebih tinggi serta batu bata agar kita bisa berdiri lebih kokoh lagi.

Untuk dapat melalui ketidak biasaan itu dengan happy ending kuncinya adalah keberanian, lihatlah bagaimana keberanian Abu Dzar Al Ghifari saat menyatakan keislamannya hingga ia dipukuli oleh kaum quraiys dan keberaniannya meminta jabatan kepada Rasulullah SAW, atau keberaniaan Nasibah binti Ka’ab dalam membetengi Rasulullah SAW, atau keberanian Umar bin Khattab untuk berbeda pandangan dengan Rasulullah SAW, yang pada kahirnya keberanian yang tidak biasanya itu justru memberi pelajaran berbharga bagi kita sekarang.

Sekali lagi, jika terjadi sesuatu yang tak biasa, seperti perubahan pada diri seseorang, maka ingatlah selalu bahwa semua ketidakbiasaan, situasi yang berbeda atau berjalan tidak biasa, atau ada yang telah berubah belum tentu sebuah kesalahan. Hidup ini adalah pilihan yang hanya mereka yang telah menetapkan pilihan saja yang akan mengetahui bahwa memilih itu adalah keharusan…!

Semoga kita menjadi orang yang sanggup menjalani baik dalam kedaan biasa maupun di luar kebiasaan, karena kehidupan ini ada kumpulan rahasia. Kapan kita bisa memilih jalan pilihan yang berbeda dari saudara kita, agar kehidupan ini mampu mmberi inspirasi lebih besa bagi kebaikan umat ini…!

ADAB MENASIHATI SESAMA MUSLIM


“Agama itu nasihat.” Aku bertanya ,” Untuk siapa ?” Nabi SAW menjawab :’ Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin” (HR Muslim)


Nasihat adalah sejumlah kalimat yang diungkapkan dengan tujuan untuk kebaikan yang dinasihati. Hadits mulia ini memberikan pelajaran yang berharga kepada kita tentang penting nasihat-nasihati dalam agama islam. Didalamnya mengungkapkan bahwa nasihat itu Allah, yakni dengan mengimani dan mentauhidkan-Nya. Untuk kitab-Nya yakni keharusan untuk mengimani dan mengamalkan kandungan kitab Al-Qur’an. Untuk Rasul-Nya yakni membenarkan nubuwwahnya, dan mencurahkan ketaatan kepadanya dengan terhadap perkara-perkara yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dicegahnya sepenuh hati dan jiwa raga. Untuk para pemimpin yakni mentaati dalam hal-hal yang ma’ruf dan mengingatkan supaya tetap di jalan kebenaran. Dan untuk kuam muslimin yakni memberikan arahan, dan bimbingan supaya mereka menetapiptujuk Allah dan rasul-Nya.

Namun pada akhir-akhir ini ada satu gejala yang muncul di tengah umat islam, yakni sikap berlebih-lebihan dalam nasihat menasihati kepada sesama muslim, jauh dari sikap bijak dan ma’ruf serta dengan pendekatan yang keliru. Muncullah sikap dan perilaku begitu mudah mencela, merendahkan, menghina, memvonis dan menggolong-golongkan kaum muslimin kepada firqoh-firqoh yang disandarkan kepada sifat tercela dan sesat seperti, ahlul bid’ah, ahlul hawa, khowarij, ….atau dengan kata-kata yang kasar seperti (maaf) anjing-anjing neraka…dan julukan buruk lainnya. Meskipun dengan dalih memberi nasihat dan perbaikan maka hal ini tetap tidak baik jika dilakukan dengan akhlak yang tercela, jauh dari yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para salafush shalih.

Tentu dan perbuatan tersebut suatu kedzaliman. Terhadap kedzaliman, Rasulullah SAW mengajarkan agar kita menolong orang yng berbuat dzalim dan yang didzalimi. Bagi yang berbuat dzalim bentuk pertolongan kita adalah mencegah perbyatan dzalim tersebut, memberi nasihat, mengingatkan bahwa akibt perbuatan dzalim itu mendatangkan kemurkaan Allah dan siksa baik dunia daan akherat. Juga segera bertaubat dari perbuatan buruk dan sewenang-wenang meskipun hal tersebut mendapat sokongan dan dukungan orang banyak.

Sedangkan menolong orang yang terdzalimi adalah dengan mencegah tindakan orang yang berbuat dzalim kepadanya, membela kehormatannya, menghiburnya agar sabar dan menguatkan kesabaran, tegak diatas jalan kebeneran meskipun banyak yang menyelisihi dan sedikit kawan.

Gejala tersebut, sebagaimana disampaikan Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid dalam risalah beliau Tashnifu an-Nas baina azh-Zhan wal Yakin bahwa muncul sekelompok pemuda yang membawa kepada jalan yang sesat dan menyesatkan, membid’ahkan orang lain, mencela, mengkafirkan, rusak dan membuat kerusakan di muka bumi, dengan alasan sebagai bentuk usaha perbaikan.

Beliau melihat perbuatan mereka sebagai tindakan memecah belah barisan ahlussunnah yang muncul pertama kali pada orang yang mengaku-aku dirinya sebagai golongan mereka, yang ditujukan kepada orang yang menentang mereka. Juga mempelopori untuk bersikap keras kepada mereka dan meragukan jalan dakwah mereka, lisannya lepas kendali sehingga menebar fitnah kehormatan para dai dan menebar rintangan disepanhang jalan mereka dengan sikap fanatik.

Siapakah mereka itu ? Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al Fauzan hafizhahullah menjelaskan dalam kajian Syarh Aqidah Thahawiyah ( rekaman kaset) mengenai mereka,” Ada orang yang mengaku-ngaku dirinya bermadzab salaf akan tetapi menyelisi manhaj mereka. Mereka berbuat berlebih lebihan, menambah-nambah dan keluar dari jalan salaf. Diantara mereka ada yang mengaku-aku dirinya bermanhaj salaf akan tetapi dia sendiri meremehkan,menyia-nyiakan dan merasa cukup dengan menyatakan bergabubung dan menisbatkan diri kepada salaf”

Masih menurut beliau bahwa generasai salaf itu, mereka tidak berakhalak mudah membid’ahkan, mengkafirkan dan memfasikkan orang muslim lainnya, kecuali berdasarkan dalil dan keterangan, bukan berdasarkan kemauan diri sendiri atau tanpa ilmu. Itu sama halnya telah berani membuat rumusan dan mengatakan “Siapa saja yang menyelisihi kami , maka dia adalah pelaku bid’ah”

Kepada mereka yang melakukan perbuatan tersebut kami mengajak untuk mentadababuri al-Qur’an, memperhatikan sabda Rasulullah dan meneladani akhlak para salafysh shalih. Allah SWT berfirman,” Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaumyang lain, boleh jadi mereka (diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok); dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan)terhadap wanita-wanita lain, boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan)lebih baik dari mereka (mengolok-olokkan); dan janganlah kamu mengejekdirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelarburuk. Seburuk-buruk panggilan adalah kefasikan sesudah iman danbarangsiapa yang tidak bertaubat, Maka mereka Itulah orang-orang yangzalim. (11) Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruksangka (kecurigaan), Karena sebagian dari buruk sangka itu dosa. danjanganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjing satusama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan dagingsaudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubatlagi Maha Penyayang. (QS al-Hujurat [49]: 11-12)

Sabda Rasulullah SAW, ” Jauhilah prsangka,karena persangka (menuduh tanpa dasar) itu sedusta-dusta perkataan, janganlah kalian saling mendengki, saling memata-matai dan saling membenci. Namun jadilah kalian hamaba-hamba yang bersaudara.” (HR Bukhori Muslim)
Dan bagi mereka yang senang berkubang dengan memperolok-olak dan menjuluki orang lain dengan julukan ”anjing-anjing neraka”, maka perhatikanlah sabda Rasulullah SAW mengenai anjing-anjing neraka, siapa mereka itu

Sabda Rasulullah S.A.W kepada Mu’adz, “Wahai Mu’adz, apabila di dalam amal perbuatanmu itu ada kekurangan : Maka jagalah lisanmu supaya tidak terjatuh di dalam ghibah terhadap saudaramu/muslimin, Bacalah Al-Qur’an, tanggunglah dosamu sendiri untukmu dan jangan engkau tanggungkan dosamu kepada orang lain, jangan engkau mensucikan dirimu dengan mencela orang lain, jangan engkau tinggikan dirimu sendiri di atas mereka, jangan engkau masukkan amal perbuatan dunia ke dalam amal perbuatan akhirat, jangan engkau menyombongkan diri pada kedudukanmu supaya orang takut kepada perangaimu yang tidak baik., Jangan engkau membisikkan sesuatu sedang dekatmu ada orang lain, jangan engkau merasa tinggi dan mulia daripada orang lain, jangan engkau sakitkan hati orang dengan ucapan-ucapanmu. Niscaya di akhirat nanti, kamu akan dirobek-robek oleh anjing neraka. Firman Allah S.W.T. yang bermaksud, “Demi (bintang-bintang) yang berpindah dari satu buruj kepada buruj yang lain.” Sabda Rasulullah S.A.W., “Dia adalah anjing-anjing di dalam neraka yang akan merobek-robek daging orang (menyakiti hati) dengan lisannya, dan anjing itupun merobek serta menggigit tulangnya.” Kata Mu’adz, ” Ya Rasulullah, siapakah yang dapat bertahan terhadap keadaan seperti itu, dan siapa yang dapat terselamat daripadanya?” Sabda Rasulullah S.A.W., “Sesungguhnya hal itu mudah lagi ringan bagi orang yang telah dimudahkan serta diringankan oleh Allah S.W.T.”

Wallahu a’lam bishawwab