Mengapa Hati Keras Membatu ?


Hati adalah sumber penalaran, tempat pertimbangan, tumbuhnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan keras kepala, ketenangan dan kegoncangan.

Hati juga sumber kebahagiaan, jika kita mampu membersihkannya, namun sebaliknya merupakan sumber bencana jika menodainya. Aktivitas badan sangat tergantung lurus bengkoknya hati. Abu Hurairah Radhiallaahu anhu berkata, “Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentara. Jika raja itu bagus, maka akan bagus pula tentaranya. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tentaranya.”

Tanda-Tanda Kerasnya Hati

Hati yang keras memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali, di antara yang terpenting sebagai berikut :

1. Malas Melakukan Kataatan dan Amal Kebaikan
Terutama malas untuk menjalankan ibadah, bahkan mungkin meremehkan nya, melakukan shalat asal-asalan tanpa ada kekhusyukan dan kesungguhan, merasa berat dan enggan, merasa berat pula menjalankan ibadah-ibadah sunnah. Allah telah menyifati kaum munafiqin. Firman-Nya, artinya,
“Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (At-Taubah : 54)

2. Tidak Tersentuh Oleh Ayat Al-Qur’an dan Petuah
Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, maka tidak terpengaruh sama sekali, tidak mau khusyu’ atau tunduk, dan juga lalai dari membaca al-Qur’an serta mendengarkannya, bahkan enggan dan berpaling darinya. Sedang kan Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memperingatkan, artinya,
“Maka beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku.” (Qaaf : 45)

3. Tidak Tersentuh dengan Ayat Kauniyah
Tidak tergerak dengan adanya peristiwa-peristiwa yang dapat memberikan pelajaran, seperti kematian, sakit, bencana dan semisalnya. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat.
“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (At-Taubah :126)

4. Berlebihan Mencintai Dunia dan Melupakan Akhirat
Himmah dan segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata. Segala sesuatu ditimbang dari sisi dunia dan materi. Cinta, benci dan hubungan dengan sesama manusia hanya untuk urusan dunia saja. Ujungnya, jadilah dia seorang yang dengki, egois dan individualis, bakhil dan tamak terhadap dunia.

5. Kurang Mengagungkan Allah.
Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman melemah, tidak marah ketika larangan Allah diterjang, serta tidak mengingkari kemungkaran. Tidak mengenal yang ma’ruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa.

6. Kegersangan Hati
Kesempitan dada, mengalami kegoncangan, tidak pernah merasakan ketenangan dan kedamaian sama sekali. Hatinya gersang terus-menerus dan selalu gundah terhadap segala sesuatu.

7. Kemaksiatan Berantai
Termasuk fenomena kerasnya hati adalah lahirnya kemaksiatan baru akibat dari kemaksiatan yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga menjadi sebuah lingkaran setan yang sangat sulit bagi seseorang untuk melepaskan diri.

Sebab-Sebab Kerasnya Hati

Di antara faktor kerasnya hati, yang penting untuk kita ketahui yakni:

1. Ketergantungan Hati kepada Dunia serta Melupakan Akhirat
Kalau hati sudah keterlaluan mencintai dunia melebihi akhirat, maka hati tergantung terhadapnya, sehingga lambat laun keimanan menjadi lemah dan akhirnya merasa berat untuk menjalankan ibadah. Kesenangannya hanya kepada urusan dunia belaka, akhirat terabaikan dan bahkan ter-lupakan. Hatinya lalai mengingat maut, maka jadilah dia orang yang panjang angan-angan.
Seorang salaf berkata, “Tidak ada seorang hamba, kecuali dia mempunyai dua mata di wajahnya untuk memandang seluruh urusan dunia, dan mempunyai dua mata di hati untuk melihat seluruh perkara akhirat. Jika Allah menghendaki kebaikan seorang hamba, maka Dia membuka kedua mata hatinya dan jika Dia menghendaki selain itu (keburukan), maka dia biarkan si hamba sedemikian rupa (tidak mampu melihat dengan mata hati), lalu dia membaca ayat, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.” (Muhammad : 24)

2. Lalai
Lalai merupakan penyakit yang berbahaya apabila telah menjalar di dalam hati dan bersarang di dalam jiwa. Karena akan berakibat anggota badan saling mendukung untuk menutup pintu hidayah, sehingga hati akhirnya menjadi terkunci. Allah berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itu lah orang-orang yang lalai” (QS.16:108)

Allah Subhannahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa orang yang lalai adalah mereka yang memiliki hati keras membatu, tidak mau lembut dan lunak, tidak mempan dengan berbagai nasehat. Dia bagai batu atau bahkan lebih keras lagi, karena mereka punya mata, namun tak mampu melihat kebenaran dan hakikat setiap perkara. Tidak mampu membedakan antara yang bermanfaat dan membahayakan. Mereka juga memiliki telinga, namun hanya digunakan untuk mendengarkan berbagai bentuk kebatilan, kedustaan dan kesia-siaan. Tidak pernah digunakan untuk mendengarkan al-haq dari Kitabullah dan Sunnah Rasul Shalallaahu alaihi wasalam (Periksa QS. Al A’raf 179)

3. Kawan yang Buruk
Ini juga merupakan salah satu sebab terbesar yang mempengaruhi kerasnya hati seseorang. Orang yang hidupnya di tengah gelombang kemaksiatan dan kemungkaran, bergaul dengan manusia yang banyak berku-bang dalam dosa, banyak bergurau dan tertawa tanpa batas, banyak mendengar musik dan menghabiskan hari-harinya untuk film, maka sangat memungkinkan akan terpengaruh oleh kondisi tersebut.

4. Terbiasa dengan Kemaksiatan dan Kemungkaran
Dosa merupakan penghalang seseorang untuk sampai kepada Allah. Ia merupakan pembegal perjalanan menuju kepada-Nya serta membalikkan arah perjalanan yang lurus.
Kemaksiatan meskipun kecil, terkadang memicu terjadinya bentuk kemaksiatan lain yang lebih besar dari yang pertama, sehingga semakin hari semakin bertumpuk tanpa terasa. Dianggapnya hal itu biasa-biasa saja, padahal satu persatu kemaksiatan tersebut masuk ke dalam hati, sehingga menjadi sebuah ketergantungan yang amat berat untuk dilepaskan. Maka melemahlah kebesaran dan keagungan Allah di dalam hati, dan melemah pula jalannya hati menuju Allah dan kampung akhirat, sehingga menjadi terhalang dan bahkan terhenti tak mampu lagi bergerak menuju Allah.

5. Melupakan Maut, Sakarat, Kubur dan Kedahsyatannya.
Termasuk seluruh perkara akhirat baik berupa adzab, nikmat, timbangan amal, mahsyar, shirath, Surga dan Neraka, semua telah hilang dari ingatan dan hatinya.

6. Melakukan Perusak Hati
Yang merusak hati sebagaimana dikatakan Imam Ibnul Qayyim ada lima perkara, yaitu banyak bergaul dengan sembarang orang, panjang angan-angan, bergantung kepada selain Allah, berlebihan makan dan berlebihan tidur.

Solusi

Hati yang lembut dan lunak merupakan nikmat Allah yang sangat besar, karena dia mampu menerima dan menyerap segala yang datang dari Allah. Allah mengancam orang yang berhati keras melalui firman-Nya,
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah.Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az-Zumar: 22)

Di antara hal-hal yang dapat membantu menghilangkan kerasnya hati dan menjadikannya lunak, lembut dan terbuka untuk menerima kebenaran dari Allah yakni:

1. Ma’rifat (mengenal) Allah
Siapa yang kenal Allah, maka hatinya pasti akan lunak dan lembut, dan siapa yang jahil terhadap-Nya, maka akan keras hatinya. Semakin bodoh seseorang terhadap Allah, maka akan semakin berani melanggar batasan-Nya. Dan semakin seseorang berfikir tentang Allah, maka semakin sadar akan kebesaran Allah, keluasan nikmat serta kekuasaan Nya.

2. Mengingat Maut
Pertanyaan kubur, kegelapannya, sempit dan sepinya, juga penderitaan menjelang sakaratul maut termasuk ke dalam mengingat maut. Memperhatikan pula orang-orang yang telah mendekati kematian dan menghadiri jenazah. Hal itu dapat membangunkan ketertiduran hati kita, dan mengingatkan dari keterlenaan. Sa’id bin Jubair berkata, “Seandainya mengingat mati lepas dari hatiku, maka aku takut kalau akan merusak hatiku.”

3. Berziarah Kubur dan Memikirkan Penghuninya.
Bagaimana mereka yang telah ditimbun tanah, bagaimana mereka dulu makan, minum dan berpakaian dan kini telah hancur di dalam kubur, mereka tinggalkan segala yang dimiliki, harta, kekuasaan maupun keluarga, lalu ingat dan berfikir, bahwa sebentar lagi dia juga akan mengalami hal yang sama.

4. Memperhatikan Ayat-ayat Al- Qur’an.
Memikirkan ancaman dan janjinya, perintah dan larangannya. Karena dengan memikirkan kandungannya, maka hati akan tunduk, iman akan bergerak mendorong untuk berjalan menuju Rabbnya, hati menjadi lunak dan takut kepada Allah.

5. Mengingat Akhirat dan Kiamat
Huru-hara dan kedahsyatannya, Surga dengan kenimatannya, neraka dengan penderitaannya yang disediakan bagi para pelaku dosa dan kemaksiatan.

6. Memperbanyak Dzikir dan Istighfar
Dzikir dapat melunakan hati yang keras. Karena itu selayaknya seorang hamba mengobati hatinya dengan berdzikir kepada Allah, sebab ketika kelalaian bertambah, maka kekerasan hati makin memuncak pula.

7. Mendatangi Orang Shalih dan Bergaul dengen Mereka.
Orang shaleh akan memberikan semangat ketika kita lemah, mengingatkan ketika lupa, dan memberikan jalan ketika kita bingung dan pertemuan dengan mereka akan membantu kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah

8. Berjuang, Introspeksi dan Melihat Kekurangan Diri.
Manusia, jika tidak mau berjuang, introspeksi dan melihat kekurangan diri, maka dia tidak tahu, bahwa dirinya sakit dan banyak kekurangan. Jika dia tidak merasa sakit atau punya kekurangan, maka bagaimana mungkin dia akan memperbaiki diri atau berobat?
Wallahu a’lam, semoga Allah Subhannahu wa Ta’ala melunakkan hati kita semua untuk menerima dan menjalankan kebenaran, amin ya Rabbal ‘alamin.

Sumber : Kutaib “Limadza Taqsu Qulubuna” Al-Qism al-Ilmi Darul Wathan

http://www.facebook.com/notes/muhammad-abdullah-almujahid/mengapa-hati-keras-membatu-/197176089197

Sebuah Cambuk bagi kita yang mengaku berkiprah dalam dunia Dakwah dan Perjuangan Islam…


“Dia ikhwan ya? Tapi kok kalau bicara sama akhwat dekat sekali???, ” tanya seorang akhwat kepada temannya karena ia sering melihat seorang aktivis rohis yang bila berbicara dengan lawan jenis, sangat dekat posisi tubuhnya.

“Mbak, akhwat yang itu sudah menikah? Kok akrab sekali sama ikhwan itu?, ” tanya sang mad’u kepada murabbinya karena ia sering melihat dua aktivis rohis itu kemana-mana selalu bersama sehingga terlihat seperti pasangan yang sudah menikah.

“Duh? ngeri, lihat itu? ikhwan-akhwat berbicaranya sangat dekat??, ” ujar seorang akhwat kepada juniornya, dengan wajah resah, ketika melihat ikhwan-akhwat di depan masjid yang tak jauh beda seperti orang berpacaran.

“Si fulan itu ikhwan bukan yah? Kok kelakuannya begitu sama akhwat?,” Tanya seorang akhwat penuh keheranan.

Demikianlah kejadian yang sering dipertanyakan. Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat masih saja terjadi dan hal itu bisa disebabkan karena:

1. Belum mengetahui batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat.
2. Sudah mengetahui, namun belum memahami.
3. Sudah mengetahui namun tidak mau mengamalkan.
4. Sudah mengetahui dan memahami, namun tergelincir karena lalai.

Dan bisa jadi kejadian itu disebabkan karena kita masih sibuk menghiasi penampilan luar kita dengan jilbab lebar warna warni atau dengan berjanggut dan celana mengatung, namun kita lupa menghiasi akhlak. Kita sibuk berhiaskan simbol-simbol Islam namun lupa substansi Islam. Kita berkutat menghafal materi Islam namun tidak fokus pada tataran pemahaman dan amal.

Sesungguhnya panggilan ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ adalah panggilan persaudaraan. ‘Ikhwan’ artinya adalah saudara laki-laki, dan ‘akhwat’ adalah saudara perempuan. Namun di ruang lingkup aktivis rohis, ada dikhotomi bahwa gelar itu ditujukan untuk orang-orang yang berjuang menegakkan agama-Nya, yang islamnya shahih, syamil, lurus fikrahnya dan akhlaknya baik. Atau bisa dikonotasikan dengan jamaah. Maka tidak heran bila terkadang dipertanyakan ke-‘ikhwanan’-nya atau ke-‘akhwatan’-nya bila belum bisa menjaga batas-batas pergaulan (hijab) ikhwan-akhwat.

Aktivis sekuler tak lagi segan !!!

Seorang ustadz bercerita bahwa ada aktivis sekuler yang berkata kepadanya, “Ustadz, dulu saya salut pada orang-orang rohis karena bisa menjaga pergaulan ikhwan-akhwat, namun kini mereka sama saja dengan kami. Kami jadi tak segan lagi.”

Ungkapan aktivis sekuler di atas dapat menohok kita selaku jundi-jundi yang ingin memperjuangkan agama-Nya. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai wanita dan

demikian pula sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kokoh dan mujahadah sajalah yang membuat seseorang dapat istiqomah menjaga batas-batas ini.

Pelanggaran batas-batas pergaulan ikhwan-akhwat

Berikut ini adalah pelanggaran-pelanggaran yang masih sering terjadi:

1. Pulang Berdua
Usai rapat acara rohis, karena pulang ke arah yang sama maka akhwat pulang bersama di mobil ikhwan. Berdua saja. Dan musik yang diputar masih lagu dari Peterpan pula ataupun lagu-lagu cinta lainnya.

2. Rapat Berhadap-Hadapan
Rapat dengan posisi berhadap-hadapan seperti ini sangatlah ‘cair’ dan rentan akan timbulnya ikhtilath. Alangkah baiknya – bila belum mampu menggunakan hijab – dibuat jarak yang cukup antara ikhwan dan akhwat.

3. Tidak Menundukkan Pandangan (Gadhul Bashar)
Bukankah ada pepatah yang mengatakan, “Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati”. Maka jangan kita ikuti seruan yang mengatakan, “Ah, tidak perlu gadhul bashar, yang penting kan jaga hati!” Namun, tentu aplikasinya tidak harus dengan cara selalu menunduk ke tanah sampai-sampai menabrak dinding. Mungkin dapat disiasati dengan melihat ujung-ujung jilbab atau mata semu/samping.

4. Duduk/ Jalan Berduaan
Duduk berdua di taman kampus untuk berdiskusi Islam (mungkin). Namun apapun alasannya, bukankah masyarakat kampus tidak ambil pusing dengan apa yang sedang didiskusikan karena yang terlihat di mata mereka adalah aktivis berduaan, titik. Maka menutup pintu fitnah ini adalah langkah terbaik kita.

5. “Men-tek” Untuk Menikah
“Bagaimana, ukh? Tapi nikahnya tiga tahun lagi. Habis, ana takut antum diambil orang.” Sang ikhwan belum lulus kuliah sehingga ‘men-tek’ seorang akhwat untuk menikah karena takut kehilangan, padahal tak jelas juga kapan akan menikahnya. Hal ini sangatlah riskan.

6. Telfon Tidak Urgen
Menelfon dan mengobrol tak tentu arah, yang tak ada nilai urgensinya.

7. SMS Tidak Urgen
Saling berdialog via SMS mengenai hal-hal yang tak ada kaitannya dengan da’wah, sampai-sampai pulsa habis sebelum waktunya.

8. Berbicara Mendayu-Dayu
“Deuu si akhiii, antum bisa aja deh?..” ucap sang akhwat kepada seorang ikhwan sambil tertawa kecil dan terdengar sedikit manja.

9. Bahasa Yang Akrab
Via SMS, via kertas, via fax, via email ataupun via YM. Message yang disampaikan begitu akrabnya, “Oke deh Pak fulan, nyang penting rapatnya lancar khaaan. Kalau begitchu.., ngga usah ditunda lagi yah, otre deh smile .” Meskipun sudah sering beraktivitas bersama, namun ikhwan-akhwat tetaplah bukan sepasang suami isteri yang bisa mengakrabkan diri dengan bebasnya. Walau ini hanya bahasa tulisan, namun dapat membekas di hati si penerima ataupun si pengirim sendiri.

10. Curhat
“Duh, bagaimana ya?., ane bingung nih, banyak masalah begini ? dan begitu, akh?.” Curhat berduaan akan menimbulkan kedekatan, lalu ikatan hati, kemudian dapat menimbulkan permainan hati yang bisa menganggu tribulasi da’wah. Apatah lagi bila yang dicurhatkan tidak ada sangkut pautnya dengan da’wah.

11 Yahoo Messenger/Chatting Yang Tidak Urgen
YM termasuk fasilitas. Tidaklah berdosa bila ingin menyampaikan hal-hal penting di sini. Namun menjadi bermasalah bila topik pembicaraan melebar kemana-mana dan tidak fokus pada da’wah karena khalwat virtual bisa saja terjadi.

12. Bercanda ikhwan-akhwat
“Biasa aza lagi, ukhtiii? hehehehe,” ujar seorang ikhwan sambil tertawa. Bahkan mungkin karena terlalu banyak syetan di sekeliling, sang akhwat hampir saja mencubit lengan sang ikhwan.

Dalil untuk nomor 1-5:

a. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan.” ( HR.Ahmad)

b. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaknya mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya??” (QS.24: 30)

c. Allah SWT berfirman, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya??” (QS.24: 31)

d. Rasulullah SAW bersabda, “Pandangan mata adalah salah satu dari panah-panah iblis, barangsiapa menundukkannya karena Allah, maka akan dirasakan manisnya iman dalam hatinya.”

e. Rasulullah saw. Bersabda, “Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan yang satu dengan pandangan yang lain. Engkau hanya boleh melakukan pandangan yang pertama, sedang pandangan yang kedua adalah resiko bagimu.”
(HR Ahmad)

Dalil untuk nomor 6-12:

”… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah
orang yang ada penyakit di dalam hatinya…” (Al Ahzab: 32)

Penutup

Di dalam Islam, pergaulan laki-laki dan perempuan sangatlah dijaga. Kewajiban berjillbab, menundukkan pandangan, tidak khalwat (berduaan), tidak ikhtilath (bercampur baur), tidak tunduk dalam berbicara (mendayu-dayu) dan dorongan Islam untuk segera menikah, itu semua adalah penjagaan tatanan kehidupan sosial muslim agar terjaga kehormatan dan kemuliaannya.

Kehormatan seorang muslim sangatlah dipelihara di dalam Islam, sampai-sampai untuk mendekati zinanya saja sudah dilarang. “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra:32).

Pelanggaran di atas dapat dikategorikan kepada hal-hal yang mendekati zina karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin akan mengarah pada zina yang sesungguhnya, na’udzubillah.

Maka, bersama-sama kita saling menjaga pergaulan ikhwan-akhwat. Wahai akhwat?., jagalah para ikhwan. Dan wahai ikhwan?., jagalah para akhwat. Jagalah agar tidak terjerumus ke dalam kategori mendekati zina.

“Ya Rabbi?, istiqomahkanlah kami di jalan-Mu. Jangan sampai kami tergelincir ataupun terkena debu-debu yang dapat mengotori perjuangan kami di jalan-Mu, yang jika saja Engkau tak tampakkan kesalahan-kesalahan itu pada kami sekarang, niscaya kami tak menyadari kesalahan itu selamanya.
Ampunilah kami ya Allah. Tolonglah kami membersihkannya hingga dapat bercahaya kembali cermin hati kami. Kabulkanlah ya Allah. “

Semoga Kita semua adalah orang-orang yang termasuk mengambil pelajaran….

http://www.facebook.com/notes/muhammad-abdullah-almujahid/sebuah-cambuk-bagi-kita-yang-mengaku-berkiprah-dalam-dunia-dakwah-dan-perjuangan/168584069197

JANGAN BERMAKSIAT


Oleh : Syaikh Najih Ibrahim

Sebagian ikhwah mungkin menyangka bahwa Allah akan memakluminya jika ia bermaksiat lantaran menurutnya ia telah lama beriltizam kepada Islam dan bergabung dengan para aktivis Islam. Maka ia pun memandang remeh urusan maksiat. Apalagi setelah berlalunya masa yang panjang dari iltizamnya, setelah mulai berkurang dan menipis hamasahnya (semangat), hamiyyahnya (pembelaan), dan ghirahnya. Ada banyak faktor pemicu yang bukan di sini tempat membicarakannya saat ini.

Ketika seseorang telah menganggap remeh dosa-dosa kecil, atau mentolerir perkara-perkara syubhat, dengan segera ia akan merasakan akibatnya dari Allah ‘azza wa jalla. Dahsyat memang!

Pernah ada seseorang yang melakukan perbuatan maksiat, beberapa jam kemudian ia sudah mendapati hukuman yang berat dikarenakan perbuatannya itu. Ia kebingungan, dan berkata kepada dirinya sendiri, “Aku telah melakukan perbuatan dosa yang semacam ini atau bahkan yang lebih besar lagi, lebih dari 100 kali sebelum aku beriltizam dan aku tidak mendapati hukuman atas perbuatanku itu. Sekarang, hukuman yang aku dapati sangatlah cepat, langsung, dan kuat!”.

SEANDAINYA ORANG INI MENGERTI AGAMANYA DENGAN BAIK, NISCAYA IA AKAN MENGERTI BAHWA SEBENARNYA ALLAH SEDANG ‘CEMBURU’ ATAS DILANGGARNYA PERKARA-PERKARA YANG DIHARAMKAN-NYA. KECEMBURUAN ALLAH INI SEMAKIN BESAR MANAKALA PELAKU PELANGGARAN ITU ADALAH WALI-WALI-NYA YANG SELAMA INI MENDEKATKAN DIRI KEPADA-NYA, YANG SEMESTINYA MENJADI ORANG YANG PALING JAUH DARI SEGALA BENTUK KEMAKSIATAN.

Para pembawa panji risalah Islam adalah orang-orang yang semestinya paling bertakwa kepada Allah dan paling menghindari dosa-dosa kecil serta perkara-perkara syubhat, apalagi yang haram. Mereka melarang orang lain melakukannya; bagaimana bisa mereka sendiri melakukannya?

Lebih dari itu, ini akan melahirkan fitnah di kalangan kaum muslimin pada umumnya saat mereka mengetahuinya ~dan suatu saat mereka pasti akan tahu~ dan akan mengakibatkan hilangnya martabat qudwah dan uswah yang seharusnya menjadi perhiasan bagi setiap ikhwah.

Karena itulah Allah berfirman :
فَإِن زَلَلْتُمْ مِّن بَعْدِ مَا جَاءتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

”Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Qs. Al-Baqarah : 209)

Perhitungan bagi mereka adalah perhitungan yang berat; lebih berat dan lebih sulit dibandingkan dengan perhitungan untuk orang-orang selain mereka. Untuk itu hendaknya setiap ikhwah mengerti dengan ilmu yakin bahwa antara Allah dan salah seorang anak Adam itu ~apa pun pangkatnya~ tidak ada hubungan kerabat atau kekeluargaan. Allah senantiasa memutuskan sesuatu dengan tepat dan adil.

Setiap ikhwah yang tergabung dalam sebuah jamaah Islam hendaknya mengingatkan diri dengan firman Allah ta’ala :
لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ مَن يَعْمَلْ سُوءاً يُجْزَ بِهِ

”(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu”. (Qs. An-Nisa` : 123)

Ayat ini oleh sebagian sahabat dianggap sebagai ayat yang paling berat dalam al-Qur`an[1].
Saya sendiri menganggap ayat ini sebagai ayat yang paling mengerikan dan paling menggetarkan seluruh persendian.

Ayat di atas berbicara kepada para sahabat. Siapa yang tidak mengenal kualitas mereka? Jika demikian, bagaimana dengan orang-orang seperti kita, yang sering beramal shalih, tetapi juga sering beramal buruk?

Ayat ini benar-benar menjadi lonceng yang berdentang untuk membangunkan setiap orang yang berada di dalam sebuah jamaah Islam. Timbangan yang adil tidak akan mengistimewakan seorang pun, siapa pun dia. Lihatlah Bal’am bin Ba’ura yang konon mengetahui nama Allah yang teragung; ketika ia bermaksiat kepada Rabbnya, ia pun berubah seperti anjing, dalam segala keadaan selalu menjulurkan lidah[2].
Dosa dan kemaksiatan adalah sumber malapetaka. Tidak ada bencana yang menimpa melainkan dosalah penyebabnya, dan bencana tidak akan dihentikan kecuali dengan taubat.
Ada seorang syaikh yang berkeliling dari satu majlis ke majlis yang lain seraya berkata, “Barangsiapa ingin dilanggengkan kesehatannya, hendaknya ia bertakwa kepada Allah!”
Ada satu hadits mulia berbunyi

”Sungguh, seorang hamba itu akan terhalangi dari rizki dikarenakan dosa yang dilakukannya”[3].

Abu Utsman an-Naisaburiy putus sendalnya ketika ia berjalan untuk menunaikan shalat Jum’at. Ia pun memperbaikinya beberapa saat, lalu berkata, “Sandal ini putus karena aku tidak mandi Jum’at”.

Ibnul Jauziy berkata, “Salah satu hal yang menakjubkan dari balasan di dunia; tangan saudara-saudara Yusuf telah terjulur untuk menzhaliminya, maka tangan-tangan itu kembali terjulur di hadapan Yusuf sementara pemilik tangan-tangan itu berkata, ‘Mohon, bersedekahlah kepada kami!’”.[4]

Terkadang, hukuman itu bersifat maknawi. Betapa banyak orang yang memandang sesuatu yang diharamkan oleh Allah, karenanya Allah menghalanginya dari cahaya bashirah.
Betapa banyak orang yang mengucapkan kata-kata yang haram, karenanya Allah menghalanginya dari bening hati. Atau karena ia mengkonsumsi makanan yang syubhat ~dengan begitu ia menzhalimi hatinya~ ia terhalangi dari qiyamullail dan shalat untuk bermunajat.

Akibat lainnya; bahwa kemaksiatan itu akan mengantarkan kepada kemaksiatan yang lain, kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan berikutnya, begitu seterusnya.
Seorang yang bermaksiat mungkin saja melihat badan, harta, dan keluarganya baik-baik saja. Ia merasa tidak ada hukuman atas kemaksiatan yang dilakukannya. Sebenarnyalah saat itu ia sedang mendapat hukuman. Cukuplah menjadi hukuman baginya saat manisnya kelezatan berubah menjadi hambar tak berasa dan yang tersisa tinggal pahitnya penyesalan, kesedihan dan kegelisahan.

Diriwayatkan ada beberapa orang pendeta Bani Israil bermimpi melihat Rabbnya, ia berkata, “Duhai Rabbku, betapa aku telah banyak bermaksiat kepada Mu tetapi Engkau tidak pernah memberikan hukuman atas semua itu?” Rabbnya menjawab, “Betapa banyak aku telah memberikan hukuman kepadamu, tapi kamu tak pernah tahu. Bukankah aku telah menghalangimu dari merasakan manisnya bermunajat kepada Ku?!”.
Kadang-kadang buah dari kemaksiatan berupa Allah menjadikan kebencian dari berbagai hati kepadanya, atau terhalanginya dakwah tanpa sebab yang jelas. Abu Darda` ra berkata, “Ada seorang hamba yang sembunyi-sembunyi bermaksiat kepada Allah ta’ala lalu Allah menumbuhkan rasa benci dalam hati orang-orang yang beriman kepadanya tanpa pernah ia menyadarinya.”

Dalam kitab Al-Fawaid, Ibnul Qayyim telah meringkas berbagai macam pengaruh yang ditimbulkan oleh kemaksiatan dengan sistematika yang bagus sekali, beliau menulis:
“Hidayah yang sedikit, ra`yu yang rusak, kebenaran yang tersembunyi, hati yang bobrok, ingatan yang lemah, waktu terbuang sia-sia, makhluk menjauhinya, takut berhubungan dengan Rabbnya, doa tidak dikabulkan, hati yang keras, rizki dan umur yang tidak berbarokah, terhalangi dari ilmu, diliputi kehinaan, direndahkan oleh musuh, dada yang sempit, mendapatkan teman-teman jahat yang merusak hati dan membuang-buang waktu, kesedihan dan kegundahan yang panjang, kehidupan yang menyesakkan dan pikiran yang kacau… semua itu merupakan buah kemaksiatan dan akibat kelalaian dari dzikrullah, seperti halnya tetumbuhan subur dengan air dan kebakaran bermula dari sepercik api. Begitupun sebaliknya, semua kebalikan dari hal-hal tersebut di atas merupakan buah dari ketaatan”.[5]
Pernah salah seorang salaf ditanya, “Apakah seorang yang sedang bermaksiat itu dapat merasakan lezatnya ketaatan?” Ia menjawab, “Bahkan orang yang berhasratpun tidak (akan merasakan kelezatannya).”

Ibnul Jauzi berkata, “Barang siapa memperhatikan kehinaan yang dirasakan oleh saudara-saudara nabi Yusuf as ketika mereka berkata, ‘Mohon, bersedekahlah kepada kami!’, niscaya ia akan mengerti akibat buruk dari kesalahan meskipun telah diikuti dengan taubat. Sebab seseorang yang punya baju robek kemudian menjahitnya tidak sama dengan orang yang memiliki baju baru”.

Waspadalah terhadap kejahatan yang disepelekan. Ia mungkin saja dapat membakar negeri. Wahai yang senantiasa tergelincir, mengapa kau tidak memperhatikan apa apa yang membuatmu tergelincir?!

KEMAKSIATANMU BERPENGARUH PADA EKSISTENSI JAMAAH

Terkadang kemaksiatan seseorang atau sekelompok ikhwah bisa mengakibatkan seluruh bagian dari jamaah akan merasakan pengaruh buruknya, atau menjadi faktor kehancuran dan malapetaka, atau menjadi sebab hadirnya ujian yang sangat berat. Khususnya jika kemaksiatan itu berupa dosa besar atau dilakukan oleh jajaran qiyadah atau orang–orang yang seharusnya menjadi uswah dan qudwah. Atau belum benar-benar diingkari secara syar’i oleh jamaah, atau taubatnya belum sungguh-sungguh. Benarlah Allah yang telah berfirman, Al-Anfal :25.

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاصَّةً

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu

Kalau kita perhatikan perang Uhud misalnya, kita akan mendapati bahwa sebab kekalahan kaum muslimin di sana adalah implikasi dari kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian pasukan pemanah. Jumlah mereka tidak lebih dari 4% keseluruhan pasukan kaum muslimin dalam peperngan itu. Apa hasil dari kemaksiatan itu ? 70 orang shahabat Rasul saw terbunuh, perut mereka dicabik-cabik, telinga dan hidung mereka diiris, Rasul terluka, wajahnya yang mulia robek, gigi rubaiyyahnya pecah. Itupun Allah telah memaafkan meraka sebagaimana tertera di dalam Al-Qur`an.

وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ

Ali ‘Imran : 152.

Seseorang pernah bertanya kepada Hasan Al-Bashri , “Bagaimana bisa dikatakan Allah telah memaafkan mereka, sedangkan tujuh puluh orang dari mereka terbunuh?” Hasan menjawab, “Kalau seandainya Allah tidak memaafkan mereka, niscaya mereka semua tertumpas habis.”
Itu semua merupakan implikasi dan akibat buruk dari kemaksiatan. Al-Qur`an menjelaskan.

أَوَلَمَّاأَصَابَتْكُمْ مُصِيْبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ
Ali ‘Imran : 165
حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي اْلأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّوْنَ
Ali ‘Imran : 152.

Hal seperti ini juga tampak jelas dalam perang Hunain, pada awal-awal peperangan kaum muslimin sempat kocar-kacir akibat segelintir orang yang ‘ujub dan lupa bahwa kemenangan itu ~semuanya~ datang Allah saja. Padahal mereka itu termasuk at-Thulaqa`, orang –orang yang baru saja masuk Islam.

Mereka mengatakan, “Hari ini kita tidak mungkin kalah karena jumlah yang sedikit.”
Buahnya, seperti yang dijelaskan oleh al-Qur`an.

وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ اْلأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِيْنَ
at-Taubah:25
Saudaraku, untuk itu hendaknya Anda benar-benar merenungkan penggalan,

وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ اْلأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِيْنَ

Dari sini saya sampaikan, sebuah jamaah yang ingin eksis di muka bumi hendaklah memberikan perhatian yang penuh terhadap urusan mencegah kemungkaran yang ada di dalam tubuh jamaah, melebihi perhatiaannya terhadap urusan mencegah kemungkaran yang ada di masyarakat tempat jamaah ini berada. Sungguh jika sebuah jamaah telah sukses untuk menyelasaikan yang pertama, niscaya ia akan lebih sukses lagi untuk menyelesaikan yang kedua. Dan saya tegaskan, sekali-kali sebuah jamaah tidak akan sukses untuk menyelesaikan yang kedua kecuali jika telah sukses menyelesiakan yang pertama.
Sebelum saya mengakhiri pembicaraan tentang kemaksiatan ini, saya ingin mengingatkan adanya satu masalah yang sangat penting; saya tidak memaksudkan pembicaraan saya di muka untuk kemaksiatan lahir saja, namun saya maksudkan juga untuk yang batin. Apalagi yang terakhir ini ~seperti riya, ujub, iri, cinta kekuasaan dan sombong~ bisa jadi jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan kemaksiatan lahir. Kemaksiatan batin itu ibarat kanker; cepat sekali menjalar ke seluruh tubuh dan merusak tanpa sepengetahuan si penderita dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Penderita tidak merasakan sakit dan tidak mengeluhkannya. Ia baru mengetahuinya ketika penyakit telah menahun, kronis, dokter sedah angkat tangan, dan obat sudah tidak bermanfaat lagi.

Bukankah kekalahan yang diderita kaum muslimin di awal-awal peperangan Hunain hanya disebabkan oleh satu dosa batin saja yaitu ‘ujub ?

Bagi kebanyakan orang, mendeteksi penyakit-penyakit batin ini bukanlah pekerjaan yang gampang. Hanya orang-orang yang ahli saja yang mampu melakukannya. Jika demikian adanya, lalu bagaimana dengan mengobatinya?

Hendaknya sebuah jamaah mewaspadai segala bentuk kemaksiatan. Kepada para leader, hendaknya mereka selalu membersihkan hati masing-masing dan berusaha untuk membersihkan hati saudara-saudara mereka, juga tentara-tentara mereka dengan pelbagai macam sarana yang disyariatkan Islam dan dijabarkan di lembaran-lembaran lain. Mereka hendaknya mengerti bahwa usaha preventif itu lebih baik daripada kuratif, bahwa satu dirham untuk menjaga lebih baik daripada satu qirath untuk mengobati.
Bentuk usaha penyembuhan dan penjagaan dari semua penyakit ini adalah hendaknya mereka menjadi orang-orang yang taat kepada Allah dan senantiasa membersihkan hati serta anggota badannya dari kotoran syubhat dan dosa-dosa kecil ~apalagi dosa-dosa besar~, baik yang lahir maupun yang batin.
Sesungguhnya manusia itu akan meniru para penguasa, mengikuti para pemimpin. Wallahu a’lam.

[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dengan sanadnya dari ‘Aisyah ra katanya, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh aku telah tahu ayat terberat yang ada di dalam al-Qur`an.’ Beliau bertanya, ‘Apa itu wahai ‘Aisyah?’ Aku menjawab, ‘Barangsiapa mengamalkan suatu keburukan niscaya akan mendapatkan balasannya’ Lalu beliau bersabda, ‘Apa pun yang dilakukan oleh seorang mukmin sampai kerikil yang dilemparkannya’”
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Hasyim dengan lafazh yang sama, Abu Dawud dari Abu ‘Amir Shalih bin Rustum al-Khazzar, dan tertera dalam Tafsir Ibnu Katsir 1/558

[2] Lihat tafsir ayat 175 dari surat al-A’raf.

[3] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah 402, dan Ahmad 5/277 dari Tsauban ra. Dalam az-Zawaid disebutkan, ‘Isnadnya hasan’.

[4] Shaidul Khathir hal. 73

[5] Al-Fawaid, Ibnul qayim, hal 43. cet. Maktabatul hayah, Beirut

Pentingnya Membaca Al Qur’an


Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qur’an adalah sumber hukum yang pertama bagi kaum muslimin. Banyak sekali dalil yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Quran serta kemuliaan para pembacanya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharap perniagaan yang tidak akan merugi.” (Faathir : 29).

Al-Qur’an adalah ilmu yang paling mulia , karena itulah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya bagi orang lain, mendapatkan kemuliaan dan kebaikan dari pada belajar ilmu yang lainya. Dari Utsman bin Affan radhiyallah ‘anhu , beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari).

Para ahli Al-Qur’an adalah orang yang paling berhak untuk menjadi imam shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Yang) mengimami suatu kaum adalah yang paling qari bagi kitab Allah, maka jika mereka sama dalam bacaan maka yang paling ‘alim bagi sunnah (hadits), maka jika mereka dalam As-Sunnah juga sama maka yang paling dulu hijrah, maka jika mereka juga sama dalam hijrah maka yang lebih tua usianya.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan juga oleh Imam Al-Bukhari, bahwa yang duduk di majlis Khalifah Umar Shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau bermusyawarah dalam memutuskan berbagai persoalan adalah para ahli Qur’an baik dari kalangan tua maupun muda.

Keutamaan membaca Al-Qur’an di malam hari

Suatu hal yang sangat dianjurkan adalah membaca Al-Qur’an pada malam hari. Lebih utama lagi kalau membacanya pada waktu shalat. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Diantara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus (yang telah masuk Islam), mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu malam hari, sedang mereka juga bersujud (Shalat).” (Ali Imran: 113)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menerangkan ayat ini menyebutkan bahwa ayat ini turun kepada beberapa ahli kitab yang telah masuk Islam, seperti Abdullah bin Salam, Asad bin Ubaid, Tsa’labah bin Syu’bah dan yang lainya. Mereka selalu bangun tengah malam dan melaksanakan shalat tahajjud serta memperbanyak memba-ca Al-Qur’an di dalam shalat mereka. Allah memuji mereka dengan menyebut-kan bahwa mereka adalah orang-orang yang shaleh, seperti diterangkan pada ayat berikutnya.

Beberapa Peringatan bagi Ummat Islam tentang Al-Qur’an

1. Jangan riya’ dalam membaca Al-Qur’an

Karena membaca Al-Qur’an merupa-kan suatu ibadah, maka wajiblah ikhlas tanpa dicampuri niat apapun. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menuaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5).

Kalau timbul sifat riya’ saat kita membaca Al-Qur’an tersebut, kita harus cepat-cepat membuangnya, dan mengembalikan niat kita, yaitu hanya karena Allah. Karena kalau sifat riya’ itu cepat-cepat disingkirkan maka ia tidak mempengaruhi pada ibadah membaca Al-Qur’an tersebut. (lihat Tafsir Al ‘Alam juz 1, hadits yang pertama).

Kalau orang membaca Al-Qur’an bukan karena Allah tapi ingin dipuji orang misalnya, maka ibadahnya tersebut akan sia-sia. Diriwayatkan dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah shalallahu alaihi was salam bersabda, artinya:
“Dan seseorang yang belajar ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an maka di bawalah ia (dihadapkan kepada Allah), lalu (Allah) mengenalkan-nya (mengingatkannya) nikmat-nikmatnya, iapun mengenalnya (mengingatnya) Allah berfirman: Apa yang kamu amalkan padanya (nikmat)? Ia menjawab: Saya menuntut ilmu serta mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an padaMu (karena Mu). Allah berfirman : Kamu bohong, tetapi kamu belajar agar dikatakan orang “alim”, dan kamu mem-baca Al-Qur’an agar dikatakan “Qari’, maka sudah dikatakan (sudah kamu dapatkan), kemudian dia diperintahkan (agar dibawa ke Neraka) maka diseretlah dia sehingga dijerumuskan ke Neraka Jahannam.” (HR. Muslim)
Semoga kita terpelihara dari riya’.

2. Jangan di jadikan Al-Qur’an sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan dunia.

Misalnya untuk mendapatkan harta, agar menjadi pemimpin di masyarakat, untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi, agar orang-orang selalu meman-dangnya dan yang sejenisnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya:
“…Dan barang siapa yang menghen-daki keuntungan di dunia, kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya kebaha-gianpun di akhirat.”(As-Syura: 20).
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki …” (Al Israa’ : 18)

3. Jangan mencari makan dari Al-Qur’an

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an dan janganlah kamu (mencari) makan dengannya dan janganlah renggang darinya (tidak membacanya) dan janganlah berlebih-lebihan padanya.” (HR. Ahmad, Shahih).
Imam Al-Bukhari dalam kitab shahih-nya memberi judul satu bab dalam kitab Fadhailul Qur’an, “Bab orang yang riya dengan membaca Al-Qur’an dan makan denganNya”, Maksud makan dengan-Nya, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari.

Diriwayatkan dari Imran bin Hushain radhiyallah ‘anhu bahwasanya dia sedang melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an di hadapan suatu kaum . Setelah selesai membaca iapun minta imbalan. Maka Imran bin Hushain berkata: Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Barangsiapa membaca Al-Qur’an hendaklah ia meminta kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Maka sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al- Qur’an lalu ia meminta-minta kepada manusia dengannya (Al-Qur’an) (HR. Ahmad dan At Tirmizi dan ia mengatakan: hadits hasan)

Adapun mengambil honor dari mengajarkan Al-Qur’an para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Para ulama seperti ‘Atha, Malik dan Syafi’i serta yang lainya memperbolehkannya. Namun ada juga yang membolehkannya kalau tanpa syarat. Az Zuhri, Abu Hanifah dan Imam Ahmad tidak mem-perbolehkan hal tersebut.Wallahu A’lam.

4. Jangan meninggalkan Al-Qur’an.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya: “Dan berkata Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan”. (Al-Furqan: 30).
Sebagian orang mengira bahwa meninggalkan Al-Qur’an adalah hanya tidak membacanya saja, padahal yang dimaksud di sini adalah sangat umum. Seperti yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam tafsirnya tentang ayat ini. Dia menjelaskan bahwa yang dimaksud meninggalkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut;
Apabila Al-Qur’an di bacakan, lalu yang hadir menimbulkan suara gaduh dan hiruk pikuk serta tidak mendengarkannya.
Tidak beriman denganNya serta mendustakanNya
Tidak memikirkanNya dan memahamiNya
Tidak mengamalkanNya, tidak menjunjung perintahNya serta tidak menjauhi laranganNya.
Berpaling dariNya kepada yang lainnya seperti sya’ir nyanyian dan yang sejenisnya.

Semua ini termasuk meninggalkan Al-Qur’an serta tidak memperdulikan-nya. Semoga kita tidak termasuk orang yang meninggalkan Al-Qur’an. Amin.

5. Jangan ghuluw terhadap Al-Qur’an

Maksud ghuluw di sini adalah berlebih-lebihan dalam membacaNya. Diceritakan dalam hadits yang shahih dari Abdullah bin Umar radhiyallah ‘anhu beliau ditanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Apakah benar bahwa ia puasa dahr (terus-menerus) dan selalu membaca Al-Qur’an di malam hari. Ia pun menjawab: “Benar wahai Rasulullah!” Kemudian Rasulullah memerintah padanya agar puasa seperti puasa Nabi Daud alaihis salam , dan membaca Al-Qur’an khatam dalam sebulan. Ia pun menajwab: Saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: bacalah pada setiap 20 hari (khatam). Iapun menjawab saya sanggup lebih dari itu. Rasulullah berasabda : Bacalah pada setiap 10 hari. Iapun menjawab: Saya sanggup lebih dari itu, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bacalah pada setiap 7 hari (sekali khatam), dan jangan kamu tambah atas yang demikian itu.” (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abdu Rahman bin Syibl radhiyallah ‘anhu dalam hadits yang disebutkan diatas:
“Dan janganlah kamu ghuluw padanya. (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi).
Wallahu ‘a’lam bishshawab.

Maraji':

  • Tafsir Ibnu Katsir jilid 3 hal. 306
  • Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (Muhktasar).
  • Fathu Al Bari jilid 10 kitab fadhailil Qur’an, Al Hafiz IbnuHajar
  • At-Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur’an, An Nawawi Tahqiq Abdul Qadir Al Arna’uth.
  • Fadhail Al-Qur’an, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, Tahqiq Dr. Fahd bin Abdur Rahman Al Rumi.

Rekaman kajian KELUARGA SAKINAH


Masjid Jamasba Bantul Yogyakarta, Jum’at 05 maret 2010
bersama ust Tri Asmoro Kurniawan (Konsultan keluarga nasional & Pembina Komunitas Keluarga Syariah Solo)

Masjid Jamasba Bantul Yogyakarta, Jum’at 02 April 2010
bersama ust Tri Asmoro Kurniawan (Konsultan keluarga Nasional & Pembina Komunitas Keluarga Syariah Solo)

Masjid Jamasba Bantul Yogyakarta, Jum’at 01 Mei 2010
bersama Ust fahrurozi (Praktisi Dakwah & Pembina Keluarga Sakinah Yogyakarta)

Masjid Jamasba Bantul Yogyakarta, Jum’at 04 Juni 2010
bersama Ust fahrurozi (Praktisi Dakwah & Pembina Keluarga Sakinah Yogyakarta)

Masjid Jamasba Bantul Yogyakarta, Jum’at 02 Juli 2010
bersama Ust Nadhief Masykur (Penulis Buku-buku seputar pernikahan)

Masjid Jamasba Bantul Yogyakarta, Ahad, 16 Januari 2011
bersama ust Tri Asmoro Kurniawan (Konsultan keluarga Nasional & Pembina Komunitas Keluarga Syariah Solo)

karya Nashir asy-Syafi’i; di Ruang Serba Guna Muzdalifah, Islamic Center Bekasi; Ahad, 23 Mei 2010, Pukul 9.00 – 11.30 Wib.
Moderator: Ust. Anwar Anshori Mahdum,
Pembicara Pertama: Ust, Triasmoro,
Pembicara Kedua: Ust. Farid Ahmad Okbah, MA.
Acara ini diselenggarakan oleh Divisi Wanita Al-Islam, Bekasi.

“PENGAJIAN SARIMBIT…..Menuju KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH”


hadiri dan Ikuti “PENGAJIAN SARIMBIT…..Menuju KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH”

Jum’at, 04 Juni 2010 Jam 19.30 WIB
di masjid JAMASBA BANTUL YOGYAKARTA, (Barat Alun-alun paseban Bantul, Jl KH Agus Salim 97 A Bantul 55711 Yk)
b’sama ust Tri Asmoro Kurniawan (Direktur Arofah Group Solo, Pembina Keluarga Sakinah NASIONAL yg sudah berpengalaman bertahun2)

dengan LCD Proyektor…

disediakan Kotak Infaq

diperuntukkan bagi
pasangan Suami Istri…. (diupayakan membawa pasangannya masing2),
Calon Pengantin….. (tidak boleh membawa pasangannya, belum halal)

cp : rjoko (085747898980)

TABLIGH AKBAR ” INDAHNYA SHOLAT”


hadiri dan Ikuti
TABLIGH AKBAR ” INDAHNYA SHOLAT”

bersama Ust Abu Sangkan
(penulis buku best seller Pelatihan shalat Khusu’ dan pengisi acara Indahnya Shalat di Metro TV)

Ahad, 30 Mei 2010 Jam 08.00-16.00 WIB
di masjid Agung Manunggal BANTUL YOGYAKARTA,

dengan LCD Proyektor…

disediakan Kotak Infaq

GRATISS…

(dimohon membawa perlengkapan Sholat, snack dan makan siang)

CP : rjoko (085747898980)

Penyimpangan Akidah, Sebab & Solusinya


Semua orang yang berakal sehat tentu sepakat kalau penyimpangan terhadap hal apapun adalah sesuatu yang negatif dan tidak dapat dibenarkan. Apalagi kalau penyimpangan tersebut terjadi terhadap hal-hal yang prinsip seperti penyimpangan terhadap akidah (baca: akidah Islam yang benar, pen.)

Di negri kita penyimpangan akidah bukanlah persoalan dan kasus baru yang kita jumpai. Bahkan ia telah ada sejak negri ini merebut kemerdekaannya dan terbebas dari belenggu penjajahan. Seperti masuknya faham dan ajaran (komunis atheis) yang disisipkan oleh partai yang saat itu legal bahkan sempat memiliki masa yang cukup diperhitungkan (baca: PKI, pen.). Tapi tampaknya penyimpangan terhadap akidah akan terus berlangsung sampai kapan pun dalam negri kita, bahkan ia akan menjadi persoalan atau kasus yang akhirnya dianggap biasa dan sah-sah saja, hingga tidak peduli jika mereka atau keluarga mereka sendiri telah masuk dan terjerumus ke dalam lembah kesesatan tersebut. Dan belakangan ini kita saksikan banyak sekali bermunculan aliran-aliran sesat dan menyesatkan yang sangat meresahkan umat dan menodai ajaran Islam serta merusak akidah yang benar, seperti kasus nabi palsu; Lia Eden, al-Qiyadah al-Islamiyah, dan baru-baru ini kasus lama yang muncul kembali yakni kasus kelompok dan ajaran sesat Ahmadiyah yang menimbulkan pro-kontra di antara umat Islam bahkan sampai menyebabkan terjadinya insiden Monas yang sangat miris dan sangat disayangkan karena faktanya pertikaian yang terjadi adalah antara umat Islam itu sendiri. Padahal faham dan ajaran yang dianut oleh kelompok ini jelas-jelas telah menodai ajaran Islam dan menyimpang dari akidah Islam yang benar, tapi anehnya masih saja ada sebagian umat Islam dan tokoh-tokoh Islam yang turut membela dan memperjuangkannya. -Allah yahdihim- dan ironisnya ternyata sebagian umat Islam/ ormas Islam yang mendukung aksi penolakan dibubarkannya Ahmadiyah disinyalir mendapat sokongan dana dari agen yahudi (yang membawa misi zionisme).

Perlu kita ketahui bahwa penyimpangan terhadap akidah dalam Islam merupakan persoalan yang sangat besar dan tidak dapat dianggap sepele karena dapat menyebabkan para pelakunya dan orang-orang yang mendukung berlangsungnya penyimpangan terhadapnya keluar dari agama Islam itu sendiri (baca: murtad, pen.).

Akidah (baca: Akidah yang shahih, pen.) dalam Islam merupakan perkara yang sangat menentukan kehidupan dan kebahagian seseorang di dunia dan terlebih di akhirat kelak. Karena Akidah yang shahih merupakan landasan/ asas agama Islam dan menjadi syarat mutlak sah dan diterimanya amal yang dilakukan oleh seorang muslim. Dan manusia tanpa akidah yang benar akan selalu dihantui dan menjadi mangsa keragu-raguan yang akan menutup pandangannya untuk menggapai kebahagian hidup yang hakiki dan sebaliknya dia akan menjalani kehidupan yang sempit lagi menyiksa meskipun ia hidup bergelimangan harta dan memiliki fasilitas-fasilitas hidup yang serba mewah.

Hal ini menunjukkan betapa penting dan wajibnya bagi setiap muslim untuk mengetahui dan mempelajari hal-hal tentang akidah yang shahih. Dan juga tak kalah pentingnya bagi mereka perlunya mengetahui sebab-sebab yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam penyimpangan akidah yang benar tersebut dan bagaimana cara menanggulanginya.

Sebab-sebab terjadinya penyimpangan terhadap akidah yang shahih:

  • Minimnya pengetahuan seseorang tentang akidah yang benar.

    Hal ini disebabkan karena keengganan mereka untuk mempelajarinya. Begitu juga kurangnya perhatian mereka terhadap akidah, akibatnya tumbuhlah generasi yang tidak mengerti akidah yang benar dan mana aqidah yang sesat. Sehingga mereka pun meyakini yang hak (benar) itu sebagai sesuatu yang batil dan yang batil itu dianggap sebagai yang hak. Sebagaimana Umar bin khattab radhiallahu Allah Subhaanahu Wata’aala Allah Subhaanahu Wata’aala Allah Subhaanahu Wata’aala ‘anhu berkata, “Sesungguhnya ikatan Islam akan terlepas/ hancur satu demi satu, apabila di dalam Islam tumbuh orang yang tidak mengenal kejahiliyahan.”

  • Ta’ashshub (fanatik) kepada sesuatu yang diwarisi dari orang tua dan nenek moyangnya, meskipun hal itu batil dan mencampakkan apa yang menyalahinya, sekalipun hal itu adalah benar.

    Sebagaimana yang difirmankan Allah subhanahu wata’ala, artinya, ”Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa telah kami dapati dari (perbuatan) nenek-moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walau pun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. al-Baqarah: 170).

  • Taqlid buta (ikut-ikutan secara buta). Yaitu dengan mengambil pendapat manusia sebagai hujjah dan sumber dalam masalah akidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa meneliti seberapa jauh kebenarannya.

    Sebagaimana fenomena yang terjadi saat ini banyak kaum muslimin yang bertaqlid kepada para ulama sesat, sehingga mereka pun menjadi sesat dan menyimpang dari aqidah yang shahih (benar).

  • Ghuluw (berlebihan) dalam mencintai para wali dan orang-orang shalih, dan mengangkat mereka di atas derajat yang semestinya dengan meyakini pada diri mereka terdapat sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah subhanahu wata’ala, seperti mampu mendatangkan kemanfaatan dan menolak kemudharatan (malapetaka).

    Serta menjadikan mereka sebagai perantara antara Allah subhanahu wata’ala dan makhluk-Nya, sehingga mereka pun akhirnya menyembah para wali/ orang-orang shalih tersebut selain Allah subhanahu wata’ala. Dan mendekatkan diri (taqarrub)kepada kuburan mereka dengan menyembelih hewan qurban, nadzar, do’a, dan meminta pertolongan di sana. Sebagaimana yang terjadi pada para penyembah kuburan di berbagai negri sekarang ini. (Lihat: Az-Zumar: 3)

  • Ghaflah (lalai) dalam merenungi ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala yang terhampar di jagat raya ini (ayat-ayat kauniyah) dan ayat-ayat Allah subhanahu wata’ala yang terdapat dalam Al-Qur’an (ayat-ayat Qur’aniyah).

    Dan terbuai dalam pengagungan terhadap teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi dan jerih payah manusia semata. Mereka lupa dan tidak berpikir siapa yang telah menciptakan mereka dan yang telah memberikan mereka keahlian dan kecerdasan sehingga mampu berkreasi ini dan sebagainya. Sebagaimana kesombongan Qarun yang dikisahkan Allah subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya, artinya, “Sesungguhnya aku hanya dikaruniai harta itu, karena ilmu (kecerdasan) yang ada padaku.” (QS. al-Qashash: 78). Dan sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala yang lainnya, artinya,“Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. ash-Shaffat: 96). Dan firman Allah subhanahu wata’ala, artinya, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala yang diciptakan Allah,…” (QS. al-A’raf: 185).

  • Orang tua yang menyimpang dari Akidah yang benar.

    Sehingga anak-anak mereka pun terdidik dan terbimbing dalam pendidikan dan bimbingan yang menyimpang pula. Dan akhirnya mereka tumbuh menjadi anak-anak yang tidak mengerti aqidah yang benar. Ini menunjukkan betapa besarnya peranan orang tua dalam meluruskan jalan hidup anak-anaknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”(HR. al-Bukhari).

  • Kurangnya perhatian Media/ sarana informasi dan pendidikan terhadap pendidikan agama Islam khususnya dalam masalah penanaman akidah yang benar dan pelurusan moral manusia serta memerangi pemikiran-pemikiran/ aliran-aliran yang menyimpang.

    Bahkan sebagian besar tidak peduli sama sekali. Yang tampak saat ini kontribusi yang diberikan adalah sebagai sarana perusak dan penghancur moral dan akidah umat Islam.

Cara-Cara Menanggulangi Penyimpangan terhadap Akidah.

Di antara cara-cara menanggulangi penyimpangan di atas sebagai berikut:

  • Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam di dalam mempelajari Akidah yang benar.

    Sebagaimana para Salaf Shalih mengambil dan mempelajari akidah mereka dari keduanya. Begitu juga dengan mengaji aqidah golongan-golongan/ aliran-aliran sesat dan mengenal syubhat (kerancuan/ penyimpangan) mereka, untuk kita bantah dan kita waspadai, karena siapa saja yang tidak mengenal keburukan/ kejahatan, ia dikhawatirkan terjerumus ke dalamnya, tanpa ia sadari.

  • Memberi perhatian pada pengajaran akidah yang benar, akidah as-Salaf ash-Shalih di berbagai jenjang pendidikan dan memberi jam pelajaran yang cukup pada materi tersebut.
  • Menentukan dan menetapkan kitab-kitab Ahlus Sunnah yang bersih dan murni sebagai materi pelajaran dan menjauhi kitab-kitab aliran/ kelompok sesat.
  • Menyebar atau mengutus para da’i Ahlus Sunnah untuk menjelaskan akidah yang benar kepada umat Islam serta mampu menjawab tantangan dan persoalan-persoalan mereka dan menolak akidah yang menyimpang lagi menyesatkan.

Sumber: “At-Tauhid Li Shaffi al-Awwal al-‘Aliy.”, DR. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan.

Pentingnya Aqidah Islamiyah


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (An-Nisa': 69).

Pendahuluan

Nilai suatu ilmu ditentukan oleh kandungan ilmu tersebut. Semakin besar nilai manfaatnya semakin penting untuk dipelajari. Ilmu yang paling penting adalah ilmu yang mengenalkan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , Sang Pencipta. Sehingga orang yang tidak kenal Allah Subhanahu wa Ta’ala disebut kafir. Adakah yang lebih bodoh daripada orang yang tidak mengenal yang menciptakannya?

Allah menciptakan manusia dengan seindah-indahnya dan selengkap-lengkapnya dibanding dengan makhluk/ciptaan lainnya. Kemudian Allah bimbing mereka dengan mengutus para RasulNya (Menurut hadits yang disampaikan Abu Dzar bahwa jumlah para Nabi sebanyak 124.000 semuanya menyerukan kepada Tauhid (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam At-Tarikhul Kabir 5/447 dan Ahmad dalam Al-Musnad 5/178-179). Sementara dari jalan sahabat Abu Umamah disebutkan bahwa jumlah para Rasul 313 (diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al-Maurid 2085 dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir 8/139) agar mereka berjalan sesuai dengan kehendak Sang Pencipta melalui wahyu yang dibawa oleh Sang Rasul.

Orang yang menerima disebut mu’min, orang yang menolaknya disebut kafir serta orang yang ragu-ragu disebut munafik yang merupakan bagian dari kekafiran.

Begitu pentingnya aqidah ini sehingga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wasalam, penutup para Nabi dan Rasul membimbing ummatnya selama 13 tahun ketika berada di Mekkah dengan menekankan masalah aqidah ini. Karena aqidah adalah landasan semua tindakan. Dia dalam tubuh manusia ibarat kepalanya. Maka apabila suatu ummat sudah rusak, bagian yang harus direhabilitasi adalah aqidah lebih dahulu. Di sinilah pentingnya aqidah ini. Apalagi ini menyangkut kebahagiaan dan keberhasilan dunia dan akhirat. Dialah kunci menuju Surga.

Aqidah secara bahasa berarti sesuatu yang mengikat. Secara definisi aqidah adalah suatu keyakinan yang mengikat hati manusia dari segala keraguan. Aqidah menurut istilah syara’ (agama) yaitu keimanan kepada Allah, Malaikat-malaikat, Kitab-kitab, para Rasul, Hari Akhirat, dan keimanan kepada takdir Allah yang baik maupun buruk. Ini disebut Rukun Iman.

Syariat Islam terdiri dua pangkal utama. Pertama: Aqidah yaitu keyakinan pada rukun iman itu, letaknya di hati dan tidak ada kaitannya dengan cara-cara perbuatan (ibadah). Bagian ini disebut pokok atau asas. Kedua: Perbuatan yaitu cara-cara amal atau ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan seluruh bentuk ibadah . Bagian ini disebut cabang. Nilai perbuatan ini baik buruknya, diterima atau tidaknya bergantung yang pertama, yaitu aqidah. Sehingga syarat diterimanya ibadah itu ada dua, pertama : Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu berdasarkan aqidah Islamiyah yang benar. Kedua : Mengerjakan ibadahnya sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ini disebut amal shalih. Ibadah yang memenuhi satu syarat saja, umpamanya ikhlas saja, tetapi tidak mengikuti petunjuk Rasulullah n maka tertolak. Sebaliknya mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam saja tapi tidak ikhlas, karena ingin dipuji manusia, umpamanya, maka amal tersebut juga tertolak. Inilah makna yang terkandung dalam firman Allah yang artinya: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutu-kan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Al-Kahfi: 110).

Perkembangan Aqidah

Pada masa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, aqidah bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri karena masalahnya sangat jelas dan tidak terjadi perbedaan-perbedaan faham, kalaupun terjadi langsung diterangkan oleh beliau.

Namun, pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib timbul pemahaman -pemahaman baru seperti kelompok Khawarij yang mengkafirkan Ali dan Muawiyah karena melakukan tahkim lewat utusan masing-masing yaitu Abu Musa Al-Asy’ari dan Amru bin Ash. Timbul pula kelompok Syiah yang menuhankan Ali bin Abi Thalib dan timbul pula kelompok dari Irak yang menolak takdir dipelopori oleh Ma’bad Al-Juhani yang dibantah oleh Ibnu Umar karena menyimpang dari kebenaran. (Riwayat ini dibawakan oleh Imam Muslim, lihat Syarh Shahih Muslim oleh Imam Nawawi, jilid 1 hal. 126) Para ulama menulis bantahan-bantahan dalam karya mereka. Terkadang aqidah juga digunakan dengan istilah Tauhid, Ushuluddin (pokok-pokok agama), As-Sunnah (jalan yang dicontohkan Nabi Muhammad), Al-Fiqhul Akbar (fiqih terbesar), Ahlus Sunnah wal Jamaah (mereka yang menetapi sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan berjamaah) atau terkadang menggunakan istilah Ahlul Hadits atau Salaf yaitu mereka yang berpegang atas jalan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dari generasi pertama sampai generasi ketiga yang mendapat pujian dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Ringkasnya : Aqidah Islamiyah yang shahih bisa disebut Tauhid, fiqih akbar, dan Ushuluddin. Sedangkan manhaj (methode) dan contohnya adalah Ahlul Hadits, Ahlul Sunnah dan Salaf.

Bahaya Penyimpangan Aqidah

Penyimpangan aqidah yang terjadi pada seseorang berakibat fatal dalam seluruh kehidupannya, bukan saja di dunia tetapi berlanjut sebagai kesengsaraan yang tidak berkesudahan di akhirat kelak. Dia akan berjalan tanpa arah yang jelas, penuh dengan keraguan dan menjadi pribadi yang sakit personaliti. Biasanya penyimpangan itu disebabkan oleh sejumlah faktor di antaranya :

  • Tidak menguasai pemahaman aqidah yang benar karena kurangnya pengertian dan perhatian. Akibatnya berpaling dan tidak jarang menyalahi bahkan menentang aqidah yang benar.
  • Fanatik kepada peninggalan adat dan keturunan. Karena itu dia menolak aqidah yang benar. Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ummat terdahulu yang keberatan menerima aqidah yang dibawa oleh para Nabi yang artinya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutlah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah : 170).
  • Taklid buta kepada perkataan tokoh-tokoh yang dihormati tanpa melalui seleksi yang tepat sesuai dengan argumen Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga apabila tokoh panutannya sesat, maka ia ikut tersesat.
  • Berlebihan (ekstrim) dalam mencintai dan menyanjung orang shalih yang sudah meninggal dunia, sehingga menempatkan mereka setara dengan Tuhan, atau dapat berbuat seperti perbuatan Tuhan. Hal itu terjadi karena anggapan bahwa mereka merupakah penengah (wasithah) antara dia dengan Allah. Kuburan-kuburan mereka dijadikan tempat meminta, bernadzar dan berbagai ibadah yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Demikian itu pernah dilakukan oleh kaum Nabi Nuh alaihi salam ketika mereka mengagungkan kuburan para shalihin. Lihat Surah Nuh 23 tentang perkataan kaum Nuh, yang artinya: “Dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.”
  • Lengah dan acuh tak acuh dalam mengkaji ajaran Islam disebabkan silau terhadap peradaban Barat yang materialistik itu. Tak jarang mengagung-kan para pemikir dan ilmuwan Barat serta hasil teknologi yang telah dicapainya sekaligus menerima tingkah laku dan kebudayaan mereka.
  • Pendidikan di dalam rumah tangga, banyak yang tidak berdasar ajaran Islam, sehingga anak tumbuh tidak mengenal aqidah Islam. Padahal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah memperingatkan, yang artinya: “Setiap anak terlahirkan berdasarkan fithrahnya, maka kedua orang tuanya yang meyahudikannya, menashranikannya, atau memajusikannya” (HR. Al-Bukhari). Apabila anak terlepas dari bimbingan orang tua, maka anak akan dipengaruhi oleh program televisi yang menyimpang, lingkungannya, dan lain sebagainya.
  • Peranan pendidikan resmi tidak memberikan porsi yang cukup dalam pembinaan keagamaan seseorang. Bayangkan, apa yang bisa diperoleh dari dua jam pelajaran dalam, seminggu pada pelajaran agama. Itupun dengan informasi yang kering. Ditambah lagi mass media baik cetak maupun elektronik banyak tidak mendidik ke arah aqidah, bahkan mendistorsinya secara besar-besaran.

Tidak ada jalan lain untuk menghindar bahkan menyingkirkan pengaruh negatif dari hal-hal yang disebut di atas kecuali dengan mendalami, memahami dan mengaplikasikan Aqidah Islamiyah yang shahih agar hidup kita dapat berjalan sesuai kehendak Sang Khaliq demi kebahagiaan dunia dan akhirat kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nisa’ 69 yang artinya: “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa': 69).

Dan firmanNya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).

Faedah Mempelajari Aqidah Islamiyah

Karena Aqidah Islamiyah bersumber dari Allah yang mutlak, maka kesempurnaannya tidak diragukan lagi. Berbeda dengan filsafat yang merupakan karya manusia, tentu banyak kelemahannya. Faedah yang akan diperoleh orang yang menguasai Aqidah Islamiyah adalah:

  • Membebaskan dirinya dari ubudiyah/ penghambaan kepada selain Allah, baik bentuknya menghamba kepada kekuasaan, harta, pimpinan maupun lainnya.
  • Membentuk pribadi yang seimbang yaitu selalu taat kepada Allah, baik dalam keadaan suka maupun duka.
  • Dia merasa aman dari berbagai macam rasa takut dan cemas. Takut kepada kurang rizki, terhadap jiwa, harta, keluarga, jin dan seluruh manusia termasuk takut mati. Sehingga dia penuh tawakkal kepad Allah.
  • Aqidah memberikan kekuatan kepada jiwa, sekokoh gunung. Dia hanya berharap kepada Allah dan ridha terhadap segala ketentuan Allah.
  • Aqidah Islamiyah adalah asas ukhuwah (persaudaraan) ukhuwah dan persamaan. Tidak berbeda antara miskin dan kaya, antara pejabat dan rakyat jelata, antara kulit putih dan hitam dan antara Arab dan bukan, kecuali takwanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

oleh Ust Farid Achmad Okbah