Iqomatuddin Sampai Akhir Hayat


Ikhwah fillah……….

Ada sebuah ibadah yang tidak banyak disadari oleh sebagian besar kaum muslimin. Ibadah yang pernah Alloh ta’ala amanahkan kepada Nab0-nabiNya, Ibadah yang pernah Alloh ta’ala tawarkan kepada langit dan bumi, namun karena bebannya begitu berat , langit, bumi dan gunung-gunung menolak untuk melaksanakannya. Alloh ta’ala menjelaskan ibadah tersebut dalam firmanNya :

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang ad-dien apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah ad dien dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik dien yang kamu seru mereka kepadanya. Allah memilih untuk ad dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (dien)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). (QS Asy Syuro :13)

Ibadah tersebut adalah IQOMATUDDIEN. Mempelajari, mrngajarkan dan memperjuangkan dienul Islam serta dengan bersabar dalam menghadapi rintangan yang menghadang..

Ikhwah fillah……….

Persepsi kita harus diluruskan, iqomatuddien bukan kewajiban seorang ustadz saja, bukan tugas alumni-alumni pondok atau sarjana-sarjana agama saja. Namun, Iqamatuddien adalah amanah seluruh umat Islam, tanpa kenal status social, pangkat, jabatan dan usia. Selama mereka masih menjadi seorang muslim, maka iqomatuddien berada diatas pundaknya.

Ikhwah fillah……….

Bilal bin Rabbah, sebagai seorang yang status sosialnya dipandang rendah saat itu, juga mempunyai tugas dan kewajiban untuk iqomatuddien. Abu Bakar seorang saudagar yang terpandang , beliau tetap diwajibkan berdebu dan berlusuh-lusuh di medan jihad. Dulu sebelum masuk islam, Mush’ab bin Umair adalah pemuda yang parlente, senang hura-hura, tetapi sesudah islam menyatu dengan jiwa-raganya, beliau harus rela meninggalkan tanah airya, tumpah darahnya, keluarga yang selalu memanjakannya dan teman-teman yang selalu melipur lara. Beliau mantabkan langkah kakinya untuk menuju negeri seberang, Yatsrib nama kota kala itu yang kini dikenal dengan nama Madinah, hanya untuk satu tujuan, yaitu iqomatuddien; mendakwahkan, mengajarkan Islam di Madinah. Beliau bersabar menghadapi TEROR, ANCAMAN dan EJEKAN demi tegaknya Islam. Mereka sadar, kewajiban Iqomatuddien diamanahkan kepada mereka semua, tidak kenal pangkat, umur, kaya atau miskin.

Ikhwah fillah……….
Sampai kapan Iqomatuddien ini….?

Melihat realita di lapangan, kadang hati terasa miris, jiwa terasa sesak. Bagaimana tidak, banyak umat Islam yang salah persepsi tentang kewajiban Iqomatuddien. Banyak yang menyangka, iqomatuddien hanya diwajibkan dalam rentang waktu tertentu. Disangkanya Iqomatuddien hanyalah aktivitas sesaat untuk mengisi waktu dan ruang kosong.

Sekali-kali tidak. Iqomatuddien bukan aktivitas sesaat. Bukan rentang wakktu tertentu. Bukan hanya ketika anda masih kuliah, selesai kuliah hilang sudah kewajiban ini; bukan disaat anda bujang saja, setelah menikah gugur sudah kewajiban ini; bukan hanya disaat anda masih muda dan bertenaga, berani meneritantangan, lalu setelah usia senja kewajiban itu hilang..
Akhir kita dari kewajiban Iqomatuddien adalah tatkala al yaqin (kematian) menjemput kita, Alloh mengingatkan hal itu :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

dan beribadahlah kepada rabb-mu sampai datang kepadamu al Yakin (ajal). (QS Al hijr:99)

kedatangan Al Yaqin adalah akhir dari ibadah yang terangkum dalam Iqomatuddien. Setelah al yaqin itu datang, fase kehidupan baru dimulai, itulah fase memetik hasil selama kehidupan di dunia. Hanya ada dua hasil setelah al yaqin; kenikmatan dan peristirahatan yang abadi, atau adzab yang nebyakitkan.

Ikhwah fillah……….
Jadikan Ulama Kalian Sebagai Panutan….

Hayati kehidupan para ulama kalian.. jadikan mereka sebagai tauladan dalam iqomatuddien. Mereka adalah alumni dari madrasah-madrasah yang bernama : QIYAMULLAIL, JIHAD FIE SABILILLAH, DAN SHIAM. Mereka telah dididik dengan kurikulum ILAHIYAH nan ROBBANIY, itulah kurikulum AL QUR’AN dan AS SUNNAH. Hasilnya mereka menjadi manusia-manusia langit, pikiran mereka telah tercelup wahyu ilahi kehidupan mereka telah dipersembahkan untuk Islam.. Menjual jiwa, raga dan hartanya untuk mencari kehidupan abadi di sisi Dzat Yang Maha Penyayang.

Jangan pernah terbetik dalam pikiran kalian untuk menjadi ULAMA’ SUU’ yang pikiranya telah di kuasai oleh syahwat duniawi. Kehidupanya hanya berkisar pada pemuasan perut dan bawah perutnya. Menjadikan agamanya sebagai barang dagangan untuk membeli syahwat dunia, rugi nan celaka.
Lihatlah Abu Ayyub Al Anshory.. 80 tahun umur beliau, rambutnya sudah banyak beruban, kulitnya sudah mengkriput. Beliau masih merasa beban iqomatuddien itu berada di atas pundaknya. sebagai bukti pertanggungjawabanya, beliau ikut berjihad dalam penaklukan kota konstatinopel. Walau beliau meninggal sebelum sampai ke konstatinopel, sebelum sempat membabat leher para penentang Alloh, tetapi mayat beliau ikut berperang, aura semangat dari mayat beliau membuat mujahidin lainnya bergelora, menggelegak, menghantam musuh-musuh Alloh ta’ala..

Beliau paham betul bahwa iqomatuddien (diantaranya Jihad) diwajibkan diatas pundaknya sampai ajal menjemput, beliau sangat paham firman Alloh :

انْفِرُواْ خِفَافاً وَثِقَالاً وَجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui ( QS At Taubah : 41)

Jika Jihad yang merupakan ibadah yang terberat dipahami oleh Abu Ayyub Al Anshory sebagai kewajiban tetap dibebankan kepada siapapun, walau setua beliau, lalu bagaimana dengan Iqomatuddien dalam bentuk yang lebih ringan…? Saudaraku… pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban yang terangkai dalam kalimat indah.. namun yang dibutuhkan adalah reenungan dan penghayatan…

Ikhwah fillah……….
SUDAH BUKAN saatnya lagi mengotori lisan dari mengeluarkan vonis, melempar tuduhan kepada para da’i, kemudian menghapus kebaikan-kebaikan mereka, menyebarkan kekurangan-kekurangan mereka, mengelompokkan dalam golongan-golongan spt KHOWARIJ, MU’TAZILAH, IKHWANI, TABLIGHI, dll

karena hal itu merupakan perbuatan yang jauh dari AKHLAQ para SALAFUSH SHALIH panutan kita

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
(al hujurat : 11-12)

Apa yang sudah kita persembahkan untuk ISLAM dan KAUM MUSLIMIN HARI INI….

wallohu a’lam
maroji’ : majalah annajah, darul fitnah ‘an ahli sunnah, tashnifunnas baina zhan wal yaqin, rifqan ahlassunnah bi ahlissunah.

2 thoughts on “Iqomatuddin Sampai Akhir Hayat”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s