Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya


Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada PILIHAN bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). (QS. 28:68).

Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang PILIHAN yang baik. (QS. 38:47).

Kehidupan manusia di dunia ini sesungguhnya merupakan estafet ke dua dari sebuah perjalanan panjang menuju kehidupan akhirat sebagai babak terakhir dari semuanya. Kehidupan dunia, sebagaimana pernah disebut oleh Ali bin Abi Thalib, adalah kehidupan yang menjadi milik seutuhnya manusia (manusia diberikan kebebasan) untuk memilih beriman atau kafir serta baik atau buruk, dengan kata lain dunia adalah alam manusia berbuat, sedangkan akhirat adalah alam pembalasan milik Allah SWT.

Maka tidaklah mengherankan jika banyak peristiwa aneh, kejadian unik serta tindakan dan perbuatan makhluk, khususnya manusia yang menurut kacamata dan pikiran kita kadang terjadi “tidak biasanya” atau dengan istilah lain berbeda dari seharusnya. Artinya ada banyak peristiwa hidup manusia yang berjalan di luar kebiasaan selama ini.

Sejarah (shiroh) memberikan contoh tentang beberapa peristiwa atau kejadian yang “di luar” dari kebiasaan seharusnya. Fakta ini menunjukkan tentang ada jalan yang tak banyak orang melaluinya, namun ternyata jalan itulah yang telah mengantarkan mereka pada lembaan hidup yang berkilau tak hanya bagi mereka,namun diasakan oleh generasi setelah mereka sebagai pelajaran yang sangat mahal ;

Pertama, Abu Dzar Al Ghifari, Pemberani yang Sendirian.

Dengan telah masuk Islamnya seluruh kampung Bani Ghifar, dan setelah peperangan Badar, Uhud dan Khandaq, Abu Dzar bergegas menyiapkan dirinya untuk berhijrah ke Al Madinah dan langsung menemui Rasulullah SAW di masjid beliau. Dan sejak itu Abu Dzar berkhidmat melayani berbagai kepentingan pribadi dan keluarga Rasulullah SAW. Dia tinggal di Masjid Nabi dan selalu mengawal dan mendampingi Nabi SAW kemanapun beliau berjalan.

Sehingga Abu Dzar banyak menimba ilmu dari Rasulullah SAW. Sehingga Rasulullah SAW sangat mencintainya dan selalu mencari Abu dzar di setiap majlis beliau dan beliau menyesal bila di satu majlis, Abu Dzar tidak hadir padanya. Sehingga beliau menanyakan, mengapa dia tidak hadir dan ada halangan apa.

Begitu dekatnya Abu Dzar dengan Rasulullah SAW, dan begitu sayangnya beliau kepada Abu Dzar, sehingga disuatu hari pernah Abu Dzar meminta jabatan untuk di angkat menjadi salah seorang Gubernur kepada Rasulullah SAW. Maka beliau langsung menasehatinya :

“Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, dan sesungguhnya jabatan itu adalah amanah, dan sesungguhnya jabatan itu akan menjadi kehinaan dan penyesalan bagi orang yang menerima jabatan itu, kecuali orang yang mengambil jabatan itu dengan cara yang benar dan dia menunaikan amanah jabatan itu dengan benar pula”. (HR. Ibnu Sa’ad).

Pada kali yang lain, Rasulullah SAW juga pernah mengatakan kepada Abu Dzar, beliau bersabda ; “Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang shaleh, sungguh engkau akan ditimpa berbagai malapetaka sepeninggalku”. Maka Abu Dzarpun bertanya : Apakah musibah itu sebagai ujian di jalan Allah ?”, Rasulullahpun menjawab : “Ya, di jalan Allah”. Dengan penuh semangat Abu Dzarpun menyatakan : “Selamat datang wahai mala petaka yang Allah taqdirkan”. (HR. Abu Nu’aim Al Asfahani).

Kedua, Nasibah Binti Ka’ab, Benteng Kokoh Rasulullah SAW.

Nasibah bin Ka’ab adalah putri dari Abdullah bin Kaab yang bergelar Ummu Umaroh , Beliau sosok wanita pertama yang mengangkat senjata berperang bersama Rasululloh SAW dalam perang Uhud yang telah menewaskan ribuan sahabat – sahabat Rasululloh SAW termasuk keluarga Nasibah bin Ka’ab yang semuanya gugur ikut berperang mendampingi Rasululloh SAW. Ketika kaum Muslimin yang dipimpin Rasululloh SAW berperang di Bukit Uhud, kala itu Nasibah bin Ka’ab sedang berada di rumah dan berkumpul dengan anggota keluarganya.

Nasibah mendengar Teriakan riuh dan gema Takbir “Allahu Akbar”, dan Nasibah memberitahu suaminya “Sa’id ” bahwa Rasululloh SAW dan pasukannya sedang bertempur di bukit Uhud. Seketika itu bangkitlah Sa’id dan menyuruh istrinya mempersiapkan Kuda dan senjata untuk ikut bergabung dengan Rasulu lloh berperang melawan tentara kafir. “Bawalah Pedang ini dan jangan Pulang sampai kau memperoleh kemenangan” kata Nasibah memberi semangat suaminya yang akan berperang. Ditatap wajah istrinya dengan penuh cinta berangkatlah Sa’id dan bergabung dengan Rasululloh SAW dan Rasul pun menatap Said dengan senyuman.

Dengan gagah Said bertempur dengan pasukan kafir hingga akhirnya Said gugur ditebas pedang oleh tentara kafir. Lalu Rasululloh SAW mengutus Sahabat untuk menemui istri Sa’id di rumah bahwa suaminya telah gugur. Berangkatlah utusan tersebut untuk menemui Nasibah bin Ka’ab istri Sa’id di rumah. “Assalamualaikum ” Wahai Nasibah ada Salam dari Rasululloh SAW dan Suamimu Said telah gugur ”, kata utusan Rasululloh SAW.

” Innalillahi wa inna ilahi roji’un , alhamdulillah suamiku telah memperoleh kemenangan, lihatlah wahai kedua anakku , Ayahmu telah memperoleh kemenangan , dia telah menjadi Syahid, Ibu menangis bukan karena sedih kehilangan Ayahmu nak….tapi ibu sedih karena tidak ada yang menggantikan ayahmu untuk berjuang bersama Rasululloh .”

Bangkitlah Amar putra tertua Nasibah bin Ka’ab , “wahai ibu biar aku yang menggantikan posisi ayah untuk berjuang bersama Nabi Muhammad SAW.” “Alhamdulillah pergilah nak….jangan kau biarkan Rasululloh SAW terluka. Amar bin Said berangkat berjihad bersama Rasululloh SAW dan iapun syahid menyusul ayahnya.

Datanglah utusan kembali menemui Nasibah bin Ka’ab dan mengabarkan berita gugurnya Amar putra tertuanya. Meneteslah air mata Nasibah mendengar berita tersebut, dan ia mengatakan “aku menangis bukan karena kehilangan putraku Amar , tapi siapa lagi yang aku utus untuk membantu Rasululloh SAW berperang, sedangkan putra keduaku Sa’ad masih terlalu remaja untuk ikut berperang melawan pasukan kafir.

Tiba tiba Saad putra kedua Nasibah bangkit “Wahai ibu biar aku masih remaja izinkan aku juga membantu Rasulullloh dan akan aku buktikan bahwa aku mampu berperang seperti Ayah dan kakakku.”Mendengar hal itu bukan main senangnya Nasibah bin Ka’ab, “Alhamdulillah berangkatlah nak sampaikan salam ku untuk Rasululloh.” Sa’ad pun berangkat berjihad dan ia syahid menyusul ayah dan kakaknya Amar dengan sebilah anak panah menembus jantungnya dan gugurlah Saad dengan senyum kemenangan.

Dan Rasululloh SAW pun kembali mengutus sahabatnya untuk menyampaikan gugurnya Saad kerumah Nasibah . “Wahai sahabat Rosul aku sudah tidak punya siapa siapa lagi , hanya tubuh renta ini yang aku miliki maka bawalah aku menemui Rasululoh untuk ikut berperang dengannya” dengan lantang Nasibah mengutarakan niatnya untuk berperang bersama Rasululloh SAW.

Menghadaplah Nasibah menemui Rosululloh untuk ikut angkat senjata bersamanya. ”Wahai Nasibah belum waktunya perempuan untuk angkat senjata” kata Rasululloh, “untuk itu kau rawatlah para prajurit yang terluka karena pahalanya sama dengan orang yang berperang.”

Nasibah turut berjuang bersama pasukan muslimin dalam perang Uhud. Nasibah hanya membawa kantong air untuk memberi minum para pejuang serta perban untuk membalut luka mereka. Namun saat Nasibah melihat kemenangan kaum muslimin yang telah digenggam tiba tiba lepas karena banyak pasukan yang tidak menaati Rasululloh, Pasukan Rasululloh meninggalkan Bukit Uhud dan beberapa mereka mengumpulkan harta rampasan Perang dan Nasibah melihat orang orang meninggalkan Rasululloh, maka Nasibah pun pun maju untuk membentengi rasullulloh dari serangan orang- orang kafir kafir. Ia berjuang begitu gigih demi melindungi Rasululloh SAW, dengan sebilah pedang Nasibah ikut berperang melindungi Rasululloh.

Orang orang yang tadinya meninggalkan Rasululloh tercengang ketika Rasulullloh di serang oleh pasukan kafir. Keadaan semakin kacau pasukan Rasululloh banyak yang gugur. Tangan Kanan Nasibah putus terhempas pedang kaum Kafir, namun tak mematahkan semangatnya untuk tetap berjuang membela agama Allah. Dengan lengan yang putus Nasibah mencari Rasululloh dan merasa khawatir akan keselamatan Rasululloh dan hatinya galau takut Rasululloh Saw terluka.

Tiba tiba Pedang kaum kafir menebas lehernya robohlah tubuh Nasibah ke tanah, dan seketika itu pula langit menjadi Gelap dan mendung . kedua pasukan yang saling bertempur terperangah melihat kejadian tersebut. Rasululloh saw pun bersabda ” Kalian lihat langit tiba tiba mendung? itu adalah bayangan ribuan malaikat yang menyambut kedatangan arwah Nasibah Syahidah yang perkasa”.

Ketiga, Umar bin Khattab yang berbeda.

Terkadang khilaf bukan terjadi hanya di antara shahabat nabi saja, namun terjadi juga antara Nabi SAW dengan para shahabatnya.

Dalam kasus penempatan pasukan perang di medan Badar, terjadi perbedaan pendapat antara Rasulullah SAW dengan Umar bin Khattab. Menurut sahabat yang ahli perang ini, pendapat Rasulullah SAW yang bukan berdasarkan wahyu kurang tepat. Setelah beliau menjelaskan pikirannya, ternyata Rasulullah SAW kagum atas strategi shahabatnya itu dan bersedia memindahkan posisi pasukan ke tempat yang lebih strategis.

Di sini, nabi SAW bahkan menyerah dan kalah dalam berpendapat dengan seorang sahabatnya. Namun beliau tetap menghargai pendapat itu. Toh, pendapat beliau SAW sendiri tidak berdasarkan wahyu.

Ketika perang nyaris berakhir, muncul keinginan di dalam diri beliau untuk menghentikan peperangan dan menjadikan lawan sebagai tawanan perang. Tindakan itu didasari oleh banyak pertimbangan selain karena saat itu belum ada ketentuan dari langit. Maka nabi SAW bermusyawarah dengan para shahabatnya dan diambil keputusan untuk menawan dan meminta tebusan saja.

Saat itu hanya satu orang yang berbeda pendapat, yaitu Umar bin Al-Khattab ra. Beliau tidak sepakat untuk menghentikan perang dan meminta agar nabi SAW meneruskan perang hingga musuh mati semua. Tidak layak kita menghentikan perang begitu saja karena mengharapkan kekayaan dan kasihan.

Tentu saja pendapat seperti ini tidak diterima forum musyarawah dan Rasulullah SAW serta para shahabat lain tetap pada keputusan semula, hentikan perang.

Tidak lama kemudian turun wahyu yang membuat Rasulullah SAW gemetar ketakutan, karena ayat itu justru membenarkan pendapat Umar ra dan menyalahkan semua pendapat yang ada.

”Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal : 68).

Kisah lain yang seirama dengan beberapa kisah unik di atas, diantaranya adalah ; kisah Abdullah Bin Ummi Maktum, orang buta pertama dalam sejarah Islam yang ikut berperang bersama Rasulullah SAW. Abdullah bin Ummi Maktum sejak kecil dia tidak dapat melihat daun yang hijau, laut yang biru, dan awan yang putih. Dalam pandangannya semua terlihat gelap. Tidak ada bedanya antara siang dan malam. Ia mempunyai rasa yang sangat peka untuk mengetahui waktu.

Setiap menjelang fajar, dia keluar rumah untuk pergi ke mesjid mengumandangkan adzan. Dia bisa sampai ke mesjid dalam keadaan masih gelap dengan mata yang buta tidak lain dengan bertopang pada tongkat atau bersandar pada lengan salah seorang kaum muslimin. Dia adalah mitra Bilal Bin Rabah, Jika salah satunya adzan maka yang lain mengumandangkan iqomat.

Atau Kisah tidak ikut berperangnya Ka’ab bin Malik dan dua sahabat lainnya dalam perang Tabuk, padahal sejarah telah mencatat dengan tinta emas bagaimana prestasi dan kualitas keimanan Ka’ab bin Malik dalam mengembangkan dakwah Islam. Saking beratnya kesalahan Ka’ab dan dua sahabatnya ini, hingga Rasulullah SAW menghukumnya dengan mengisolir Ka’ab dan dua sahabatnya selama lima puluh hari. Setiap hari Ka”ab dan kedua rekannya berdo”a, beristighfar dan menangis.

Setelah lima puluh hari, Allah menurunkan ayat:

(Dan Allah juga mengampuni) tiga orang yang meninggalkan diri di belakang. Ketika bumi yang luas terbentang terasa sempit bagi mereka dan mereka rasakan napas mereka sesak. Mereka tahu bahwa tidak ada tempat berlindung kecuali Allah. Kemudian Allah mengasihi mereka agar mereka kembali kepada Tuhan. Sesungguhnya Allah Penerima Taubat dan Maha Penyayang (QS 9: 118).

Atau kisah lain adalah di angkatnya Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Ummi Maktum sebagai mu’adzin Rasulullah SAW, padahal jika melihat kualitas bacaan dan kemerduan suara pada saat itu ada sahabat lain seperti Abdullah bin Mas’ud yang suaranya jauh lebih merdu dan bacaannya lebih fasih. Namun Rasulullah mempercayakan tugas mu’adzin justru kepada Bilal bin Rabah yang mantan budak, hitam, fisiknya juga tidak begitu “ideal”. Dan Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, kemana-mana hanya bersahabat dengan tongkatnya.

Kisah yang tidak biasa lainnya, misalnya tentang “demonstrasi” para istri Rasulullah SAW untuk meminta tambahan nafkah dan biaya hidup kepada Rasulullah SAW. Serta banyak lagi kisah yang tak biasa dan tak seharusnya ini terjadi.

KITA BELAJAR DARI YANG TAK BIASA !

Saat kita membaca dan memahami beberapa kisah “tak biasa” di atas, maka seharusnya kita membaca dan memahaminya dari sisi lain yang berbeda. Dengan kata lain bahwa ada pelajaran berharga yang harus kita ambil dari berbagai kisah di atas, pelajaran tersebut antara lain ;

Pertama, bahwa sehebat apapun kita, siapapun kita, seperti apapun kehidupan kita, maka akan tetap ada, akan bisa mengalami, akan senantiasa merasakan, bahwa ada saat-saat dimana kehidupan kita dan apa yang kita hadapi akan berjalan dengan cara yang tak biasa, seperti ada orang yang biasanya sabar, tidak pemarah, sulit menangis, namun suatu waktu ia akan berhadapan dengan situasi dan kedaan yang memaksa dirinya untuk tidak sabar dan harus marah, dan bahkan meminta dirinya dengan kerelaan untuk meneteskan air mata, meskipun hanya setetes saja, atau dalam bentuk lainnya. Sehingga barangkali belajar dari hal tersebut di atas, maka sekarang kita mengenal istilah-istilah ; uztadz juga manusia, penulis juga manusia, dan sebagainya.

Kedua, ketika kita menghadapi situasi yang tiba-tiba berjalan tidak sebagaimana biasanya, baik itu di dunia kerja kita, rumah tangga kita, organisasi kita, kehidupan sosial kita dan sebagaimana, maka sebaiknya yang kita lakukan terlebih dahulu sebelum tindakan yang lain adalah bertanya ada apa dan mengapa ?. Hal ini merupakan tindakan yang cerdas, karena seharus kita memahami bahwa ketika hal itu berjalan tidak sebagaimana biasanya, berarti ada yang berubah, maka jangan mudah menyalahkan, jangan gampang memberi nilai yang buruk karena perubahan itu belum tentu salah, segera cepat belajar agar ia cepat terselesaikan dan kembali seperti semula.

Ketiga, Jika suatu saat kita dihadapkan pada situasi yang tidak biasa itu, kita harus tetap berdiri tegar, tidak gampang putus asa, tidak mudah menyerah, tidak goyah dan menutup pintu harapan. Sebab ketahuilah bahwa dalam ketidak biasaan itu terkadang ada sumber energi besar untuk keluar menjadi sesuatu yang lebih baik, lebih besar, lebih berharga, lebih tinggi, lebih berkualitas, lebih indah, lebih membahagiakan dari sesuatu yang selama ini kita hadapi dan nikmati dalam keadaan yang biasa-biasa saja. Artinya, boleh jadi ketidak biasaan itu justru adalah jembatan untuk melompat lebih jauh, anak tangga untuk naik lebih tinggi serta batu bata agar kita bisa berdiri lebih kokoh lagi.

Untuk dapat melalui ketidak biasaan itu dengan happy ending kuncinya adalah keberanian, lihatlah bagaimana keberanian Abu Dzar Al Ghifari saat menyatakan keislamannya hingga ia dipukuli oleh kaum quraiys dan keberaniannya meminta jabatan kepada Rasulullah SAW, atau keberaniaan Nasibah binti Ka’ab dalam membetengi Rasulullah SAW, atau keberanian Umar bin Khattab untuk berbeda pandangan dengan Rasulullah SAW, yang pada kahirnya keberanian yang tidak biasanya itu justru memberi pelajaran berbharga bagi kita sekarang.

Sekali lagi, jika terjadi sesuatu yang tak biasa, seperti perubahan pada diri seseorang, maka ingatlah selalu bahwa semua ketidakbiasaan, situasi yang berbeda atau berjalan tidak biasa, atau ada yang telah berubah belum tentu sebuah kesalahan. Hidup ini adalah pilihan yang hanya mereka yang telah menetapkan pilihan saja yang akan mengetahui bahwa memilih itu adalah keharusan…!

Semoga kita menjadi orang yang sanggup menjalani baik dalam kedaan biasa maupun di luar kebiasaan, karena kehidupan ini ada kumpulan rahasia. Kapan kita bisa memilih jalan pilihan yang berbeda dari saudara kita, agar kehidupan ini mampu mmberi inspirasi lebih besa bagi kebaikan umat ini…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s