SEKELUMIT KISAH TA’ARUF


Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan laki – laki dan perempuan serta menjadikan rasa kasih dan sayang di antara keduanya dan menganugrahkan nikmat pernikahan kepada hamba-Nya, sehingga dengannya hati menjadi tenang. Sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.

Pernikahan adalah saat yang paling dinanti oleh seorang ikhwan dan akhwat, yaitu mengikrarkan satu ikatan yang halal dalam melaksanakan kewajiban mewujudkan sakinah, mawahdah dan rahmah. Gambaran tentang keluarga bahagia terbentang indah di depan pelupuk mata.

Namun perlu di ingat, pernikahan bukanlah peristiwa sehari yang kemudian begitu saja berlalu. Pernikahan adalah sebuah gerbang dalam pengarungi bahtera rumah tangga. Maka, alangkah bahagianya bila kita bisa menjadi pengantin sepanjang masa.

Kehidupan rumah tangga yang bahagia dimulai dari memilih pasangan hidup yang sholeh dan melalui pintu gerbangnya dengan selamat. Sering kali ikhwan dan akhwat lebih mengutamakan cinta daripada agama pasangannya. Padahal cinta sejati adalah cinta yang tumbuh setelah menikah.

Disinilah penulis mencoba memberikan sedikit gambaran bagaimana proses / perjalanan dua insan dalam mencari cintanya sebagai upaya menyempurnakan dien Allah dan Sunnah Rosulullah.Sebut saja Yusuf adalah seorang ikhwan yang baru saja lulus S1 dan Aisyah seorang akhwat yang masih duduk dibangku kuliah. Pada suatu hari melalui seorang ustad mereka ta’aruf setelah masing – masing melihat biodata yang diajukan pada mereka. Akhirnya mereka sepakat untuk melanjutkan proses tersebut kejenjang pernikahan dengan melobi orang tua mereka masing – masing.

Dalam perjalanan lobi tersebut Aisyah sukses meyakinkan orang tuanya sehingga diijinkan, sedang Yusuf tidak sukses melobi orang tuanya, sehingga orang tuanya menolak dengan berbagai alasan. Dengan berbagai cara Yusuf mencoba meyakinkan Orang tuanya, hingga pada akhirnya mereka setuju, tapi harus bekerja dulu. Karena merasa syak, maka sesaat itu pula Yusuf menelpon Aisyah sebagai berikut :

“Afwan Ukhti, semoga ini tidak melukai anti dan keluarga anti . Ana pikir sudah saatnya ana memberi keputusan tentang proses kita. Ya…seperti yang anti ketahui bahwa selama ini ana telah berusaha melobi orang tua dengan beragam cara. Mulai dari memahamkan konsep nikah ‘ versi ’ kita, memperkenalkan anti pada mereka hingga melibatkan orang yang paling dipercaya orang tua ana untuk membujuk mereka agar mengizinkan ana untuk menikahi anti. Namun hingga sekarang nggak ada tanda-tanda mereka akan melunak, jadi menurut ana, sebaiknya ana mundur saja dari proses ini ! ” Yusuf diam sejenak untuk menunggu respon dari seberang, tapi hingga beberapa detik tidak ada tanggapan. “ Perlu anti ketahui bahwa orang tua ana sebenarnya sudah tidak keberatan ana menikah dengan anti. Hanya saja timingnya yang belum tepat. Ortu Ana khawatir ana tidak mampu menafkahi anti jika belum bekerja. Apalagi anti juga masih kuliah. Jadi ana rasa, ahsan kita nggak ada komitmen dulu hingga keadaannya membaik! Anti nggak keberatan khan, Ukhti?”

“ Keberatan….? Alhamdulillah nggak ! Namun kalau ana boleh kasih saran, apa tidak lebih baik kalau kita terus melobi sambil tetap proses saja. Soalnya khan kita sudah mantap satu sama lain, nggak enak kalau mundur di saat seperi ini. Apalagi permasalahannya sudah mulai mengerucut ke arah ma’isyah saja. Anta pasti masih ingat gimana sulitnya start awal kita membujuk orang tua, rasanya semua kriteria kita ditolak. Segala keterbatasan kita jadi aib yang sangat besar, pokoknya semua jalan sepertinya sudah tertutup rapat. Namun kenyataannya hanya dalam waktu dua minggu kita bisa mengeliminir semua syarat menjadi satu syarat saja : yaitu PEKERJAAN!” Aisyah, gadis tegar itu akhirnya bicara juga. “Akhi …kita hanya tinggal selangkah, tetaplah berikhtiar dan jangan putus asa. Bukankah Allah Maha membolak-balikkan hati?”

“Benar, ana paham soal itu, ana memang akan tetap melobi orang tua ana, akan tetapi kalau kita terikat, ana khawatir menghalangi Anti proses dengan ikhwan lain yang lebih kaffaah dari ana. Lagi pula ana khawatir tidak bisa menjaga hati.”

“Takut menghalangi ana untuk proses dengan ikhwan lain? Itu khan urusan Allah bukan urusan anta! Kewajiban anta sekarang adalah berjuang mempertahankan sesuatu yang anta sudah mantap dengannya. Hasil istikharah itu nggak mungkin salah. Tinggal bagaimana cara kita mengaplikasikannya saja.” Hening sejenak…

” Ya…tapi kalau memang akhi sudah merasa syak terhadap ana dan mantap untuk mundur, alhamdulillah. Insyaallah ana akan dukung sepenuhnya.”

“Nggak!” Reflek Yusuf berteriak. “Astaghfirullah al-‘adzim, afwan maksud ana, Ana – sama dengan keluarga ana – sudah tidak ada syak pada anti. Kami sangat menyukai anti dan keluarga anti. Selain itu ana juga takut perasaan ini semakin dalam. Ana ini hanya hamba yang dhoif yang masih kesulitan mengekang hawa nafsu.” Yusuf berhenti lagi, dadanya terasa sesak, air matanya mengalir semakin deras. Jauh di dalam hatinya, sesungguhnya ia merasa malu pada Allah atas kelalaiannya. Jatuh cinta…!

“Hallo…!!” Aisyah merasa Yusuf diam terlalu lama. Dia tidak tahu kalau pemuda itu sedang menangis. Tapi dia mengerti apa yang sedang terjadi padanya. “Ya udah…kalau begitu sekarang kita sepakat untuk membatalkan proses ini!! Setelah ini Insyaallah kita tidak akan lagi berhubungan kecuali untuk keperluan syar’i yang sangat darurat, iya kan?” Aisyah sengaja memberi jeda agar Yusuf bicara, tapi ikhwan itu memilih terus diam.

“Akh…kita tetap baik ya! Silaturahmi dengan keluarga harus tetap dijaga, jangan suudzon pada ayah dan bunda anta karena bisa jadi keputusan mereka adalah salah satu jalan Allah untuk menguji kita.” Aisyah berhenti lagi tapi Yusuf masih enggan berkomentar. “La tahzan, ya Akhi … Insyaallah kalau kita niatkan semuanya demi keridhaan Allah, maka Dia akan mencatat bagi kita pahala yang besar. Afwan jika selama proses ta’aruf ini…Ana, teman – teman dan keluarga ana banyak melakukan kekhilafan . Ana mewakili mereka dan diri ana sendiri untuk memohon maaf pada anta. Bersabarlah karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…” Samar, Aisyah mendengar isak tangis di seberang. Dia nyaris tidak percaya…!

“Semoga ini bisa menjadi mahar cinta kita pada Allah dan semoga akhi mendapat ganti yang lebih baik…Amin.” Suara isak tangis makin terdengar jelas.

“Akhi…kalau sudah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, tafadhol diakhiri!”… Tidak ada tanggapan.

“Hallo…!!?. Ya udah, kalau gitu biar ana yang tutup telponnya, ya…?” Sepi. “Assalamualikum!” Klik. Percakapan di antara mereka berakhir, tapi Yusuf baru menyadarinya. Dia segera bergegas mengambil air wudhu dan shalat. Jujur, sebenarnya dia sudah sangat mantap dengan mantan calon istrinya itu…Namun dia tidak yakin dapat membahagiakan akhwat itu kalau dirinya belum bisa menafkahi dengan layak. Padahal Aisyah dan keluarganya tidak mempermasalahkan tentang hal itu. Mereka sangat welcome padanya. Ah…mungkin ini sudah takdirnya. Mungkin Allah melihat bahwa akhwat itu terlalu baik untuk dirinya. Mungkin seharusnya akhwat sekaliber dia, mendapatkan ikhwan yang jauh lebih baik dari dirinya. Dia benar-benar merasa tidak level !!

“Ya… ikhwan lemah sepertiku, mana mungkin mendapatkan seorang Aisyah. Populer tapi tetap rendah hati, tegar, bijaksana, wara’ , zuhud … Pokoknya semua sifat baik ada padanya. Sedangkan aku…Naudzubillah mindzalik, semoga aku nggak akan menyakiti akhwat lain setelah ini. Astaghfirullah al-‘azhim…apa yang telah kusombongkan selama ini? sudah ikut Mulazamah bertahun-tahun tapi masih belum berani mengamalkan ilmu yang didapat sedikit pun. Katanya percaya bahwa orang yang menikah pasti akan dijamin rizqinya oleh Allah, ternyata aku tidak lebih hanya seorang ikhwan yang pengecut.” Yusuf tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Dia benar-benar merasa tak berarti. “Dulu..,aku pernah begitu khusyu’ berdoa pada Allah agar dipertemukan dengan akhwat salihah yang tidak banyak permintaan seperti dia. Sekarang ketika sudah dapat, malah kusia-siakan. Kini aku sadar bahwa Allah selalu mengabulkan permohonan hamba-Nya. Manusialah yang selalu kufur pada Rabb-nya.”

-000-

Di tempat yang berbeda, Aisyah menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Dia tetap ceria seperti biasanya. Ya…seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Kecewa jelas ada, karena Aisyah juga hanya manusia biasa. Namun dia bisa mengemas kekecewaannya dengan manis, membuat kesedihannya menjadi sesuatu yang lumrah dari proses kehidupan. Dia percaya bahwa hatinya tidak mungkin berbohong dan janji Allah pasti terjadi. Maka sesulit apa pun kondisi yang dihadapinya saat itu, dia mencoba untuk tetap tersenyum. Jujur, aku bangga padanya. “Aku sudah mantap dengannya. Aku yakin dialah jodohku. Aku akan terus menunggunya…”

-000-

Sepekan kemudian, Yusuf menitipkan biodata ikhwan lain yang merupakan teman dekatnya untuk diberikan pada Aisyah. Menurutnya ikhwan itu bisa membahagiakan Aisyah karena sudah matang dan punya pekerjaan tetap. Jelas, aku tahu bahwa pendapatnya keliru. Aisyah bukan mengharap ikhwan yang matang dan mapan. Dia hanya mengikuti kata hatinya saja. Diriku tidak akan bahagia hanya dengan harta dan tahta. Namun, tak urung kuterima juga biodata itu. Dan bisa ditebak, bagaimana reaksi Aisyah saat kuberikan empat lembar kertas berukuran A4 itu. Aisyah menggeleng pasti.

“Anti coba istikharah dulu. Barangkali semuanya bisa berubah..” bujukku.

“Jazaakumullah khoir , tapi… afwan tolong jangan paksa ana!”

-000-

Ikhwah fillah , mungkin sebagian Anda akan menganggap Yusuf sebagaimana penilaian Yusuf terhadap dirinya sendiri. Pengecut, munafik, jahil dan sifat-sifat buruk yang lainnya. Tapi bagi saya, Yusuf tidaklah seburuk itu. Justru sebaliknya, Yusuf dalam pandangan saya adalah ikhwan yang hanif . Dia berani mengambil risiko dengan mundur dari proses dan memilih untuk bersabar melawan nafsunya. Padahal kalau dia mau, dengan sikap Aisyah yang penurut, dia bisa saja minta untuk tetap meneruskan hubungan dengan gadis pilihannya itu. Namun dia tahu bahwa di atas segalanya, Allahlah yang patut untuk lebih dicintai.

Yusuf yakin bahwa jodoh adalah kekuasaan Allah dan Dia telah menetapkannya lima puluh ribu tahun sebelum semesta ada. Dia tahu kalau jodoh pasti akan ketemu lagi, bagaimanapun caranya. Mungkin Aisyah tidak akan pernah tahu kalau biodata yang kusodorkan kemarin adalah kiriman Yusuf. Mungkin Yusuf juga tidak akan pernah tahu kalau ternyata Aisyah akan terus menunggunya. Dan mereka juga tidak boleh tahu bahwa diam-diam aku selalu mendoakan kebaikan untuk mereka. Entah bagaimana ending kisah ini nantinya, yang pasti aku selalu berharap agar masing – masing dari mereka mendapatkan ganti yang lebih baik. Segera…

-000-

Begitulah gambaran suatu proses ta’aruf, dan ingatlah bahwa sesungguhnya Allah hendak menguji hamba – hambaNya yang beriman dengan berbagai cara dan kita tidak tahu dibalik ujian itu ada hikmah yang tersembunyi. Dan ingatlah sesungguhnya kita telah mempunyai jodoh lima puluh ribu tahun sebelum kita diciptakan, ikhtiar dan memohon petunjukNya adalah jalan yang terbaik.

La Tahzan jika dalam beberapa proses kita belum sukses…karena sesungguhnya melalui beberapa proses itu Allah hendak mendewasakanmu dan mematangkan dirimu, sehingga ketika kau menemui suamimu kau akan benar – benar siap.

Demikian segelintir kisah dari berbagai proses ta’aruf, dan sesungguh masih banyak kisah – kisah lain yang mampu meneguhkan hati. Sebab, justru dari berbagai masalah yang mengiringi ta’aruf inilah pernikahan akan menjadi indah dan menguatkan hati kedua mempelai.

– Untuk semua ikhwah yang sedang menunggu, sabar ya…

– Untuk semua akhwat jadilah seperti Aisyah yang tegar dan sabar…

– Dan kepada engkau wahai Ikhwan dan akhwat yang secara tidak sengaja mempunyai kisah / mengalami kejadian yang sama, bersabarlah,…jadilah seperti mereka yang mampu saling memaafkan, bahkan mereka bersedia menjadi perantara untuk ta’aruf dengan ikhwan atau akhwat yang lain. Bukanlah akhlaq seorang muslim, bila dia gagal berta’aruf maka dia membenci ikhwan/akhwat yang ta’aruf dengannya. Wallahu a’lam.

( Tebet, 10 Juli 2012 )

M. Sirais Rosyid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s