ISTRIKU MENIKAHKANKU


Segala puji bagi Alloh yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan serta menjadikan rasa kasih dan sayang di antara keduanya dan menganugrahkan nikmat pernikahan kepada hamba-Nya, sehingga dengannya hati menjadi tenang. Sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.

Kehidupan rumah tangga yang barakah dimulai dari memilih pasangan hidup yang sholeh dan melalui pintu gerbangnya dengan selamat. Sering kali ikhwan dan akhwat lebih mengutamakan cinta daripada agama pasangannya. Padahal cinta sejati adalah cinta yang tumbuh setelah menikah.

Proses menuju pernikahan yang barakah bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, tetapi memerlukan usaha yang besar dari kedua belah pihak. Dan untuk mendapatkan pernikahan yang barakah seperti yang dicita-citakan setiap muslim dan muslimah, tidak semudah membalikkan tangan. Pemahaman ilmu syar’i dari masing-masing pihak memegang peran penting untuk mewujudkan cita-cita tersebut, mengingat dalam proses tersebut banyak permasalahan yang akan timbul. Disinilah salah satu hikmah diwajibkannya bagi setiap muslim untuk mencari ilmu. Sebab dengan ilmu ini kita akan mampu menjalaninya dengan sabar, istiqomah dan tetap menjaga adab dalam berusaha.

Proses menuju pernikahan barakah adalah sebuah ikhtiar yang ditempuh dengan penuh keikhlasan, kesabaran dan kesungguhan. Sebab, tidak semua proses berakhir dengan pernikahan, tidak sedikit yang mundur/mengundurkan diri setelah beberapa kali proses atas alasan yang syar’i. Ini memang dibolehkan, selama tidak dengan maksud main-main dan tetap menjaga adab.

Beberapa waktu lalu saya telah mengisahkan perjalanan ta’aruf Yusuf dengan Aisyah dalam usahanya mencari cintanya sebagai upaya menyempurnakan dien Alloh dan Sunnah Rosululloh, mestipun tidak setiap proses sampai pada jenjang pernikahan. Tapi inilah proses, sebuah ikhtiar demi menjaga keridhoan Alloh, masalah hasil itu urusan Alloh, karena cara yang benar adalah 80 % dari kesuksesan.

Nah, pada kesempatan ini saya akan melanjutkan kisah mereka berdua dalam menjalani hari-hari setelah proses itu terhenti. Perlu saya sampaikan sebelumnya bahwa Yusuf adalah ikhwan yang baru saja lulus S1, sebenarnya Yusuf sudah bekerja dengan hasil yang sekedarnya, akan tetapi keluarganya tidak mengakui pekerjaan itu, karena bagi keluarganya dianggap bekerja jika bisa menjadi PNS atau diperusahaan besar. Cukup lama Yusuf bekerja sekedarnya, selama itu pula sebenarnya Yusuf sudah berusaha ajukan dan membujuk ibunya agar diijinkan menikahi Aisyah, tapi sang ibu tak kunjung mengijinkan. Akhirnya Yusuf pun urung, mesti sebenarnya Yusuf masih sangat mantap dengan Aisyah.

Setahun setelahnya Yusuf baru diterima di sebuah perusahaan di Bandung.

Sedang Aisyah ketika proses itu ia masih kuliah semester awal, Aisyah dari keluarga yang sederhana. Aisyah selama kuliah, juga memberikan bimbingan privat bagi anak-anak SD-SMP disekitar kampungnya untuk membantu orang tuanya dalam membiayai kuliahnya. Selain itu Aisyah masih aktif ikut halaqoh sejak 4 tahun yang lalu. Dan sejak terputusnya proses dengan Yusuf, Aisyah pun menjalani hari-harinya dengan indah dan tetap penuh semangat, mesti sebenarnya Aisyah juga masih sangat berharap Yusuf akan datang kembali mengkhitbahnya, karena Aisyah juga sudah sangat mantap dan mengenal Yusuf. Maklum antara Yusuf dan Aisyah sudah saling mengenal sejak beberapa tahun sebelumnya, karena setiap tahun mereka menjadi panitia Festival Kreatifitas Anak Muslim di Kota Solo.

—-OooO—-

Tiga bulan berjalan Yusuf bekerja di Bandung dan secara ekonomi sudah layak untuk segera menikah. Maka Yusuf pun pulang ke Solo, bersamaan dengan pulang itu Yusuf di tawari akhwat oleh salah seorang ikhwan teman halaqohnya dulu, dimana akhwat itu masih saudara dari istri sang ikhwan. Singkat cerita proses berjalan dan keduanya sepakat untuk melanjutkan proses untuk menyampaikan semua kepada orang tua masing-masing. Dari pihak akhwat setuju, tapi dari pihak Yusuf rupanya sang ibu tidak menanggapi (artinya beliau tidak setuju). Proses ini sempat tertunda sebulan karena sang ibu tak kunjung memberi kepastian. Karena rasa tidak enak atau takut menggantungkan nasib sang akhwat, akhirnya Yusuf menyatakan mundur, sementara silaturahmi mereka tetap baik.

Hal serupa Yusuf alami saat proses ketiga dan keempat. Hingga akhirnya, pada suatu hari Yusuf memberanikan diri menghadap sang ibunda dan menanyakan soal keengganan sang ibu menanggapi akhwat-akhwat yang dia ajukan, sebab alasan yang dulu membuat ibunya belum mengijinkan Yusuf nikah, kini sudah bukan menjadi masalah lagi (yaitu pekerjaan).

Yusuf mendatangi ibunya sambil tangannya memijit punggung ibunya yang berbaring di kamar tidurnya, “Ibu maaf, Yusuf boleh tanya?”

Sang ibu membalikkan arah badannya memandang Yusuf seraya membelai rambut Yusuf anak kebanggaannya yang sangat patuh pada tiap nasehat sang bundanya itu,  “Ada apa Yusuf, sepertinya kamu serius sekali?”

Yusuf sambil menuduk sampaikan semua ganjalan hatinya, “Ibu, Yusuf sudah usia 25 tahun, ananda ingin segera menggenapkan dien ini, tapi ibu enggan memberikan tanggapan dari setiap akhwat yang Yusuf ajukan ke ibu, jujur bu Yusuf bingung dan sungkan kalau tiap proses akhirnya mentok di ibu. Tolong bu sampaikan ke Yusuf menantu yang seperti apa yang ibu inginkan?”

Sang ibu diam, sambil senyum tangannya memalingkan muka Yusuf kearah ibundanya, “Nak lihat ibu, ibu sangat sayang padamu, sebenarnya ibu gak keberatan kamu nikah, tapi ibu ingin memiliki menantu yang lulusan kesehatan, kamu tahukan kalau diantara anak-anak ibu tidak ada yang sekolah di kesehatan. Jadi sekarang berproseslah dan carikan penantu bagi ibu yang terbaik.”

Yusuf pun kemudian tersenyum bahagia dan mencium ibunya, “InsyaAlloh bu.”

—-OooO—-

Hari pun berlalu, keesokan harinya Yusuf bergegas siapkan biodata dan silaturahmi ke rumah sang Ustad yang telah dihubunginya kemarin sore.

Sampai di depan pintu Yusuf mengetuk pintu, “dok-dok-dok.. Assalamu’alaikum..”

Terdengar Jawaban sang Ustad, “Wa’alaikumsalam…eh Yusuf, tafadhol masuk kemari”

Yusuf pun segera masuk dan duduk.

Ustad sambil duduk disebelahnya bertanya. “Gimana kabarnya Suf? Wah sudah sukses ya sekarang di Bandung?”

Yusuf tersenyum, “Alhamdulillah Khoir Ustad, ah biasa aja ustad, semua kan juga berkat do’a dari ustad dan saudara-saudara yang lain.”

Sang ustad langsung ajak perbincangan masuk ke poin inti, “Oh ya Suf gimana antum katanya udah proses beberapa waktu yang lalu?terus apa masalahnya?”

Yusuf dengan gusar mencoba jujur, “Iya ustad, cuma dari beberapa akhwat yang ana ajukan ke ibu gak ada satu pun yang ditanggapi. Tapi Alhamdullillah kemarin ibu sudah sampaikan harapannya, beliau ingin menantu yang lulusan kesehatan, syukur-syukur dokter..”

Sang Ustad tersenyum, “Ya yang sabar Suf namanya juga usaha. Kemarin ana udah cari info ke murobbi akhwat, Alhamdulillah ada anak Kedokteran yang InsyaAlloh semester depan lulus. Namanya Afifah. Ini biodatanya udah ana bawa, InsyaAlloh sekufu juga ma keluarga antum. Ya sudah, ini biodatanya antum bawa, mana biodata antum… nanti kalau ada perkembangan kabari ya?.”

Yusuf pun dengan lega dan senyum optimis menganggukkan kepalanya, “Sukron ustad, mohon doanya semoga dimudahkan. Ana langsung pamit tad, karena harus siap-siap balik ke Bandung sore ini… Assalamu’alaikum..”

Hari pun cepat berlalu, tepat 2 bulan dari proses, mereka akhirnya memutuskan untuk segera menikah setelah masing-masing sukses meyakinkan orang tua mereka.

—-OooO—-

Dua minggu sebelum pernikahan itu digelar, ada acara Festival Kreatifitas Anak Muslim di Kota Solo, kebetulan Yusuf masih ikut hadir mesti sudah bukan panitia lagi, bersamaan itu Yusuf bermaksud memberikan undangan walimah kepada Ustad dan teman-teman seperjuangannya.

Di acara tersebut Yusuf bertemu dengan Aisyah, dengan tenang Yusuf pun menyampikan rencana pernikahannya dihadapan teman-temannya dan bermaksud mengundang mereka, termasuk Aisyah.

Mulanya tidak ada masalah, Yusuf pun lega karena Aisyah pun terlihat turut bahagia mendengarnya, tapi sesungguhnya hati Yusuf berbisik, “Afwan Aisyah, bukan maksudku melukaimu, semoga kamu benar-benar turut bahagia…”.

Sejak itulah berita mulai beredar dikalangan teman halaqoh, teman kuliah dan teman-teman Aisyah yang dulu pernah dukung prosesnya dengan Yusuf. Sebagian ada yang menuduh Yusuf mempermainkan Aisyah, sebagian lagi ada yang menuduh Yusuf ikhwan tidak bertanggung jawab dan sebagian yang lain menuduh Yusuf dengan tuduhan-tuduhan yang tidak layak bagi seorang yang paham ilmu dien. Mesti tidak sedikit yang mendukung langkah Yusuf yang memutuskan untuk segera menikah, tentunya juga dengan berbagai pertimbangan dan kemaslahatan.

Sejak itulah Yusuf yang tadinya dikagumi dan terkenal sebagai ikhwan yang sabar, supel dan bertanggung jawab serta pandai memimpin, kini menjadi ikhwan yang sedang menjadi pembicaraan dengan tuduhan-tuduhan tidak layak.

Sesungguhnya Aisyah pun tidak terima dan merasa kasihan dengan Yusuf yang dituduh dengan berbagai fitnah. Aisyah pun berkali-kali memberikan pembelaan kepada Yusuf dihadapan teman-temannya, Aisyah menjelaskan bahwa Yusuf tidak demikian, Yusuf adalah ikhwan yang sangat menjaga dan menjatuhkan pilihan itu tentunya bukan tanpa alasan. Tapi apa daya, Isu itu sudah terlanjur tersebar luas. Akhirnya Aisyah memilih diam atas semua komentar orang-orang terhadap Yusuf.

Bahkan Kekesalan dan rasa kecewa atas sikap Yusuf yang memutuskan menikah dengan akhwat lain itu menjangkit hati ibunda Aisyah yang memang sudah sangat dekat, mantap dan sangat berharap Aisyah bisa menikah dengannya. Rasa kecewa itu bahkan masih membekas dihati ibunda Aisyah sampai begitu lama.

—-OooO—-

Yusuf pun menanggapinya dengan tenang dan sabar, dia lebih memilih konsen menyiapkan diri untuk menikah yang tinggal beberapa hari lagi. Karena Yusuf benar-benar ingin mengawali hidupnya membina rumah tangga yang barakah dengan istrinya nanti, yaitu Afifah.

Pernikahan pun berlangsung, Ayah, ibu, saudara dan teman-teman pun hadir turut berbahagia atas pernikahan Yusuf dan Afifah, namun sayang Yusuf tidak melihat Aisyah dan beberapa teman dekatnya hadir, kabar terdengar mereka sedang ada acara lain di halaqohnya yang mewajibkan mereka untuk hadir.

Usai nikah, Afifah dan Yusuf sepakat kontrak rumah petak yang sekedarnya di Bandung. Mereka melalui hari-harinya dengan bahagia, karena mereka sedang menikmati masa-masa berpacaran setelah menikah.

Enam bulan sudah berlalu kebersamaan mereka, tiba-tiba dapat kabar dari Ayah Afifah yang baru saja menerima surat dari sebuah Universitas Negeri Yogyakarta yang menyatakan Afifah mendapatkan Beasiswa S-2 Spesialis Penyakit Dalam. Sejak saat itulah Afifah dan Yusuf memutuskan untuk tinggal ditempat berbeda. Yusuf di Bandung dan Afifah di Yogyakarta. Mereka rela sedikit berjuang demi masa depan mereka. Yusuf akhirnya mengalah yang akan bolak-balik ke Bandung-Yogyakarta 2-3 minggu sekali. Dan keadaan ini pun berjalan sampai beberapa tahun.

Dua tahun sudah usia pernikahan mereka, tepat pada waktu bersamaan lahirlah anak laki-laki pertama mereka bernama Fatih. Kuliah Afifah pun telah selesai matrikulasi, sehingga tinggal tersisa praktek dan tesis. Karena sudah ada Fatih, maka Yusuf memutuskan agar istrinya tinggal di Solo bersama ibunya, maksudnya agar ada yang bantu momong Fatih kalau sewaktu-waktu istri harus praktek atau ke kampus.

—-OooO—-

Ditempat lain Aisyah tetap semangat dan konsisten pada kegiatannya, yaitu kuliah, bimbel dan mengajar anak-anak TPA di kampungnya.

Selepas pernikahan Yusuf dan Afifah, Aisyah sempat mengalami kesedihan beberapa saat, dan ini hanya diketahui oleh teman-teman yang memang dekat dengannya, karena Aisyah sangat pandai menyimpan perasaan, sehingga orang-orang mengira semua baik-baik saja.

Sebenarnya Aisyah sempat beberapa kali ditawari proses teman-temannya, tapi tiap kali sampai tukaran biodata, Aisyah menyatakan mundur. Bahkan ada ikhwan yang sampai nembung langsung kepada ibunya Aisyah, tapi Aisyah tidak menanggapinya, selalu dia katakan belum siap. Sehingga hal ini memancing kemarahan dari ibunya, karena sikap Aisyah yang begitu tertutup.

Sesungguhnya bukan maksud Aisyah menunda-nunda nikah, bukan juga dia pilih-pilih dengan standar yang tinggi, akan tetapi sesungguhnya jauh didalam hatinya masih tersimpan sesosok Yusuf yang memang cukup lekat dihatinya. Aisyah takut jika dia menikah nanti ternyata tidak bisa memberikan ketaatan dan kasih sayangnya kepada suaminya, sementara bayang-bayang Yusuf masih sangat membekas kuat dihatinya. Dia sadar bahwa jika semua itu terjadi maka itu artinya dzolim.

—-OooO—-

Genap sudah rumah tangga Yusuf dan istri setelah lahirnya si kecil. Mereka berdua kini menjadi tambah lekat dan semakin sering bercanda-tawa. Tak jarang Yusuf memacing-mancing Aisyah tentang poligami dan Aisyah pun secara santai menanggapi, karena baginya poligami bukanlah sesuatu yang tabu dan dia paham hukumnya.

Mengetahui Aisyah belum kunjung nikah, terlintas dipikiran Yusuf untuk menawarinya kembali menjadi istri ke-2 nya. Karena Yusuf sadar benar bahwa jauh dilubuk hatinya nama Aisyah masih tertulis jelas dan belum terhapus.

Suatu saat menguatlah inisiatif itu, Yusuf tiba-tiba SMS Aisyah sekedar menanyakan kabar. Aisyah pun menanggapi semua dengan baik, karena memang silaturahmi mereka tetap baik mesti Yusuf sudah menikah. Sejak itulah komunikasi mereka mulai nyambung kembali, hal ini pun di ketahui Afifah, tapi Afifah tidak pernah berfikir jauh kalau mereka pernah saling punya rasa, yang ada dibenak Afifah bahwa Aisyah itu adalah rekan dakwahnya dulu sewaktu masih bujang dan urusannya tentunya berkaitan dakwah. Disisi lain Yusuf adalah suami yang sangat jujur dimata istrinya dalam hal apapun, karena dia memang sangat terbuka dan siap di kritik jika salah.

Hubungan Yusuf dan Aisyah terjalin semakin intens, bahkan sampai telpon-telponan membahas masalah yang tidak ada ujungnya. Sampai suatu hari tibalah Yusuf mengungkapkan maksudnya untuk menawari Aisyah menjadi yang kedua. Awalnya Aisyah tidak mau, tapi Yusuf mampu meyakinkan. Maka strategi dan usaha pun mulai direncanakan agar mudah dalam melobi nanti. Rencana pun telah matang, Yusuf akan melobi istrinya dan Aisyah akan melobi ibunya.

Hari pun berlalu, Aisyah pun saat bercanda dengan ibunya sesekali menyelipkan pancingan-pancingan tentang poligami, sesekali menyebut nama Yusuf sambil bercanda. Dan respon ibunya pun biasa saja, malah kadang-kadang sang ibu yang memulai sebut-sebut nama Yusuf sebagai bahan ledekan untuk Aisyah.

Seminggu kemudian Aisyah mulai yakin, bahwa kepastian ini harus segera diputuskan, agar tidak gantung. Aisyah pun memberanikan diri menyampaikan tawaran Yusuf tadi kepada ibunya, diluar dugaan ibunya marah tidak karuan, mendiamkan Aisyah dan tidak akan pernah ridho jika dia menikah dengan Yusuf.

Sehari kemudian Yusuf pun melobi istrinya atas niatnya untuk menikahi Aisyah menjadi yang ke-2. Diluar dugaan juga, sang istri tiba-tiba menangis kecewa dan tidak ridho jika Yusuf menikah lagi, apalagi secepat ini. Belum juga mereka menikmati kebersamaan, tapi sudah mau nikah lagi. Maka istrinya menyatakan keberatan. Muncullah kebencian Afifah kepada akhwat bernama Aisyah yang memang belum mengenal jauh karena dianggap merebut suaminya.

Sejak itu hubungan Yusuf dengan istri mulai agak renggang, begitu juga kebencian Afifah kepada Aisyah sampai berlangsung beberapa hari. Afifah benar-benar mulai kehilangan kepercayaan, simpati dan segala yang dimiliki suaminya.

Kemelut antara Afifah dan Aisyah pun semakin menjadi karena kecemburuan. Melihat situasi yang demikian, maka Yusuf berinisitif mempertemukan antara Afifah, Aisyah dengan dirinya untuk mengambil jalan terbaik dan silaturahmi tetap terjaga.

Akhirnya disepakati, bahwa Yusuf dan Aisyah mengaku salah karena bermain cinta dengan proses yang tidak tepat. Mereka pun (Aisyah dan Yusuf) segera sadar kalau langkahnya salah, sehingga mereka memupuskan harapan itu dan menyerahkan semua kepada Alloh Ta’ala. Sejak itulah antara Aisyah dan Yusuf benar-benar pasrah dan memilih jalan masing-masing dalam mencari cintanya.

—-OooO—-

Sebulan sudah Yusuf dan Aisyah menepati janjinya, mereka sama sekali tidak berhubungan. Aisyah konsen untuk maju proses dengan ikhwan lain dari Ustadzahnya, sementara Yusuf konsen membina rumah tangganya, dan hasilnya luar biasa kini Afifah merasa sangat memiliki Yusuf, karena Yusuf sudah benar-benar membenahi kesalahannya sehingga Aisyah seolah-olah lupa kalau Yusuf pernah bersalah.

Sejak itu, karena Afifah tinggal di Solo, maka kini makin intens ketemu Afifah, bahkan sekarang sudah sangat akrab, saling memotivasi dan saling berbagi masalah mereka. Terlihat sangat akrab sekali.

—-OooO—-

Dua tahun sudah kisah itu berlalu, Afifah pun mulai mengenal sosok Aisyah yang baginya ternyata sangat mengagumkan. Mereka pun tak jarang pergi bersama untuk suatu keperluan dakwah.

Rasa penasaran tiba-tiba muncul di benak Afifah karena ingin tahu ada hubungan apa dulu antara suaminya dengan Aisyah. Maka Aisyah pun mendatangi salah seorang akhwat teman Aisyah. Dan dari situlah Aisyah tahu bahwa ternyata dulu suaminya dan Aisyah pernah proses sampai 4 kali untuk mendapat restu dari ibunya Yusuf. Afifah pun tak bisa bayangkan seberapa berat perjuangan kisah suaminya dengan Aisyah.

Alur fikir Afifah mulai berbeda dari dua tahun yang lalu. Afifah merasakan kenyamanan dan butuh sosok seorang Aisyah untuk bersama-sama membimbing anaknya yang sudah hampir masuk TK. Apalagi Afifah saat ini telah mengandung 4 bulan anaknya yang kedua, tentu tidak bisa seaktif saat tidak sedang hamil dan harus banyak istirahat.

Suatu hari saat Sarapan bersama Yusuf, tiba-tiba terjadi perbincangan yang serupa canda, “Bi, masih ingat gak proses abi dulu dengan Aisyah?”

Yusuf dengan rasa kurang nyaman menjaawab, “Ummi kenapa to kok tiba-tiba tanya Aisyah? Sudahlah mi, abi sudah punya ummi dan Fatih, itulah yang saat ini menjadi prioritas abi..”

Terkesan Afifah dengan jawaban suaminya, akhirnya tanpa takut-takut istrinya bertanya, “Abi masih suka ma Aisyah? Tolong bi jawab jujur, ini ummi serius.”

Diam cukup lama, kemudian sambil melepas nafasnya menjawab, “sebenarnya abi masih suka, tapi itu hanya mimpi yang membuat abi menjadi kecewa dan melukai ummi, jadi sudahlah tidak usah kita bahas.”

Afifah mendekat kepada Yusuf dan berkata ditelingannya, “Ummi sekarang ridho abi nikah lagi dengan Aisyah, malah ummi sangat ingin.”

Yusuf dengan terkejut berkata, “O ya? Tapi mana mungkin mi, ibunya aja gak akan meridhoi kami selamanya.”

Afifah meyakinkan. “Percayakan pada ummi bi, ummi akan bicarakan langsung dengan Aisyah dan ummi akan lobi sendiri ibunya Afifah.

Yusuf pun segera menyambutnya dengan penuh keyakinan, “Baiklah mi, abi percayakan semua pada ummi, sukron sayang..”

Afifah memegang tangan Yusuf seraya berkata, “Sama-sama sayang, itu hadiah dari ummi atas kesabaran, kesetiaan dan amanah abi yang selama ini telah menjadi suami yang terbaik bagi ummi dan Abi terbaik bagi anak-anak.”

Afifah pun bicarakan semua ini dengan Aisyah, Alhamdulillah hal ini disambutnya dengan baik, dia akan usahakan, tapi tidak mampu berjanji karena sang ibu bukan orang yang mudah memberi izin untuk menikah dengan Yusuf.

Akhirnya mereka pun memberanikan diri untuk menghadap langsung ibu Aisyah, kemudian Afifah yang menyampaikan semua maksud itu kepada ibunya Aisyah seraya memohon agar diijinkan. Dengan alur pembicaraan yang saling menguatkan antara Aisyah dan Afifah, tak lama akhirnya sang ibu pun luluh, sebab sang ibu menyadari bahwa satu-satunya lelaki yang ada dalam hati Aisyah adalah Yusuf.

Masalah muncul saat  Yusuf ijin ke atasannya untuk menikah yang kedua kalinya. Perusahaan tidak memberikan ijin dengan lobi apapun. Akhirnya setelah istikharah dan dibicarakan dengan Afifah, Yusuf memutuskan untuk keluar dan beralih konsentrasi pada usahanya yang selama ini dia rintis bersama istri.

—-OooO—-

Dua bulan kemudian pernikahan pun dilaksanakan dengan sederhana dirumah Aisyah dihadiri Saudara, tetangga dan teman-teman mereka dan ini menjadi satu fenomena yang baru dalam masyarakat di kampungnya karena poligami tak lazim dilaksanakan di daerah tersebut. Maka ini adalah bagian dari syi’ar mereka.

Selepas menikah mereka tinggal di satu rumah yang baru saja dibangun di daerah Solo. Satu rumah yang sederhana yang dipilah menjadi dua dan memiliki privasi masing-masing yang terdiri dari dapur, kamar mandi, tempat jemur pakaian, kamar tamu, kamar tidur, ruang santai, sedikit teras dan taman di depan halaman rumah. Ruang itu memiliki pintu temu satu, yaitu di ruang atas yang khusus untuk perpustakaan keluarga, ruang kajian, enam kamar dan ruang belajar anak-anak.

Sejak pernikahan ini usaha yang Yusuf rintis berkembang pesat dan kini Yusuf mampu mempekerjakan masyarakat sekitar untuk bekerja padanya. Situasi ini Yusuf manfaatkan untuk sambil berdakwah kepada masyarakat. Yusuf konsepkan sistem Madani, yaitu dengan mendirikan sekolah gratis dan klinik pengobatan gratis bagi masyarakat sekitar. Pembiayaan itu didapat dari zakat karyawan yang setiap gajian dipotong 2,5 % persen dari penghasilannya serta shodaqoh dari donatur.

Perusahaan ini dipegang langsung oleh Yusuf dan dibantu oleh saudara-saudaranya dalam menjalankan manajemen. Untuk Klinik Pengobatan dipegang langsung oleh Afifah yang dibantu iparnya. Sedang untuk Sekolah dipegang oleh Aisyah yang dibantu seorang sarjana psikologi yang juga adik iparnya.

Sejak saat itu kampung itu menjadi kampung Islami, karyawannya diwajibkan untuk sholat berjama’ah lima waktu, masing-masing diwajibkan mengikuti halaqoh-halaqoh berdasarkan jadwal kerja mereka. Dan setiap seminggu dua kali diadakan kajian rutin.

Pemadangan dimasjid pun ramai dengan anak-anak dan pemuda serta para karyawan yang tilawah setiap kali selesai sholat berjama’ah, ada yang menghafal       Al-Qur’an dan ada juga yang diskusi disela-sela jam istirahat.

Dan mereka pun berbahagia. Maha Suci Alloh yang membolak-balikkan hati manusia, yang menguasai segala rizki dan menggenggam nyawa setiap makluk-Nya. Atas kehendak-Nya semua peristiwa terjadi. Tiada Illah selain Alloh, hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang Engkau beri nikmat atas mereka. Wallahua’lam Bishowab.

Kampung Malaka, 9 Agustus 2012

M. Sirais Rosyid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s