BUKAN SEBATAS KEINGINAN (BERHARAP PENDAMPING HIDUP YANG SEMPURNA)


Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur (24) : 26).

Ayat di atas, memiliki dua alur makna. Yang paling populer di kalangan para ulama Ahli Tafsir, bahwa makna Ath-Thayyibaatu litth Thayyibin, yakni bahwa kalimat yang baik- baik, hanya akan keluar dari mulut orang yang baik-baik. Demikian juga, ath- thayyibuuna litth thayyibaati, bahwa hanya orang yang baik-baik yang bisa mengeluarkan kata-kata yang baik. Inilah makna dan tafsir yang dipilih oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, Ibnu Katsir dan yang lainnya, berdasarkan atsar atau riwayat dari Abdullah bin Abbas, dan beberapa kalangan Tabi’in, termasuk Qataadah, Mujahid dan lainnya.

Sebagian Ahli Tafsir berpendapat, bahwa maknanya bisa juga, wanita yang baik-baik adalah milik laki-laki yang baik-baik , demikian juga sebaliknya. Pendapat ini tidak diterima oleh kebanyakan Ahli Tafsir terkemuka, sehingga yang unggul adalah pendapat pertama, karena didasari oleh atsar  atau riwayat dari para ulama salaf.

Hakekat ‘Baik’

 Setiap orang pasti ingin jadi baik, bila itu hanyalah sebatas keinginan. Namun, tak setiap kita mau bertekad menjadi baik, karena tekad membutuhkan kesungguhan. Seorang pencuri sekalipun, pasti mau masuk surga, namun adakah tekad dalam jiwanya untuk menjadi penghuni surga ?

Pada dasarnya yang menjadi tolak ukur seseorang menjadi baik atau tidak adalah sikap hatinya. Kondisi lahiriah hanya bisa menggambarkan sebagian dari kondisi hati. Bila berkebalikan dengan kondisi hatinya, maka keadaan yang diperankan lahirian tidak akan lama. Maka, perbaikilah kondisi hati, niscaya si ‘ baik ‘ akan lahir dalam diri kita.

Tapi sah-sah saja siapapun ingin menjadi baik. Sama halnya, setiap orang juga sah-sah saja mendambakan pendamping yang terbaik buat dirinya. Seorang laki-laki yang mendambakan istri dengan segala atribut kesempurnaan pada wanita : shalihah, cantik, kaya, berpendidikan, berpenampilan sangat Islami, hafal sekian juz dalam Al-Qur’an dan lain sebagainya. Begitu juga pada seorang wanita, dia juga layak saja memiliki impian seorang suami idaman : ganteng, shalih, penyabar, pengertian, kaya, memiliki banyak ilmu, pandai memimpin dan membimbing istri, dan seterusnya.

Salahkan obsesi seperti itu? Tidak, sama sekali tidak. Yang keliru adalah bila seseorang mendambakan segala kesempurnaan itu, memimpikan calon pendamping dengan segala kesempurnaan itu, tapi ia sendiri tak pernah mau berproses untuk menjadi baik dari waktu ke waktu. Karena yang dikhawatirkan justru, apakah ia akan mampu berdampingan dengan laki-laki atau wanita sesempurna itu, sementara ia sendiri tak mendambakan kesempurnaan itu untuk dirinya sendiri?

Sebagai gambaran mudahnya begini. Seseorang boleh saja mendambakan mobil mewah untuk menjadi miliknya. Tapi, dengan penghasilan yang pas-pasan, akhirnya mobil itu hanya layak untuk di jual kembali. Untuk memiliki dan merawatnya, ia tak memiliki kemampuan apa-apa. Mobil itu hanya akan menjadi musibah buat dirinya, bila karenanya ia harus berjumpalitan (pontang-panting ) berhutang kesana kemari, agar ia tetap memilikinya. Sedang biaya perawatan mobil mewah itu mahal sekali, tanpa kemampuan finansial yang mumpuni, obsesi itu hanya layak menjadi angan-angan belaka.

Itu, hanya soal dunia. Pendamping shalih atau shalihah adalah asset akhirat. Bekal yang harus dimiliki seseorang untuk berdampingan dengannya adalah bekal-bekal yang bernuansa akhirat. Sikap ceroboh, justru akan menggulingkan dirinya kelembah kenistaan.

Bila Laki-laki Keji mendapat Wanita Shalihah

 Ada seorang laki-laki mendambakan wanita shalihah. Ia membayangkan, bahwa dengan istri yang shalihah, yang selalu mematuhinya, yang tidak banyak permintaan, ia akan hidup tenang. Allah berkenan mengabulkan keinginannya. Menikahlah ia dengan wanita tersebut. Lalu apa yang terjadi? Tak lebih dua bulan, mereka resmi bercerai.

Pasalnya, sang istri memang tak banyak menuntut. Ia juga selalu mematuhi sang suami. Ia juga selalu tampil sebagai wanita shalihah. Namun di sisi ini saja, sang suami hanya merasa senang sebelum mencoba. Hari-hari berikutnya, diwarnai dengan perdebatan, saat suaminya ingin sang istri tampil sedikit modis, namun sang istri menolak. Saat sang suami mengajaknya ke tempat-tempat maksiat sang istri menolak. Disisi lain, saat sang istri meminta suaminya rajin melaksanakan sholat berjama’ah, sang suami tidak mau. Saat sang istri meminta suaminya banyak mengaji dan mempelajari agama, sang suami merasa tak mampu dan tidak punya waktu luang.

Bahkan, saat membicarakan mengenai prinsip-prinsip hidup, mereka seringkali berseberangan. Dan, hari-hari mereka pun dipenuhi dengan berbagai hal yang di luar bayangan suami selama ini. Ternyata, ia bukan orang yang mampu menjaga istrinya yang shalihah, sebagai asset akhiratnya. Ia hanya senang membayangkan, dan tak pernah mampu memiliki sang istri seutuhnya. Ia menginginkan istri yang shalihah, tapi tak sanggup menahan konsekuensinya. Padahal, suami dan istri seharusnya ibarat belahan jiwa.

Kisah di atas mungkin segelintir contoh dalam suatu rumah tangga yang memiliki tingkat keshalihan yang tidak seimbang antara suami-istri. Mesti demikian, pernyataan bahwa wanita yang baik akan bersama laki-laki yang baik, demikian juga laki-laki  yang baik akan bersama wanita yang baik, secara umum memang benar kenyataannya, tapi itu bukanlah mutlak. Itu lebih layak disebut etika kepantasan. Karena kenyataannya, ada wanita shalihah bersuamikan laki-laki yang bukan saja tidak shalih, bahkan tak bermoral. Tidak jarang juga laki-laki shalih, memiliki istri yang bandel dan jauh dari keshalihahan, dan si shalihah berjodoh dengan si shalih. Mesti seyogyanya adalah demikian.

Bijak Tentukan Pilihan

 Seseorang hendaklah memiliki idealisme yang tinggi, untuk urusan mencari pendamping hidup. Tapi jangan biarkan hal itu menggurui kita, sehingga kita menunda-nunda menikah hanya karena ingin mencari yang sempurna. Jika kebanyakkan laki-laki memiliki idealisme yang menggebu-gebu soal calon istri, padahal belum tentu mereka memiliki kesetaraan dengan wanita dambaannya itu dalam soal keshalihan diri, maka seorang wanita juga berhak memiliki obsesi yang serupa. Asalkan dengan niat tulus untuk mencari pendamping yang bisa membimbing ke arah kebenaran.

Sehingga tidak selayaknya seorang ikhwan atau akhwat merasa takut, resah atau tidak percaya diri ketika hendak menentukan atau dihadapkan pada suatu pilihan atau persaingan. Yakinlah wahai para ikhwan, bahwa kita mampu bersaing dengan ikhwan lain dalam merebut minat para akhwat yang kita anggap layak menjadi istri yang shalihah. Dan kepada para akhwat, untuk bersaing dengan akhwat lain dalam merebut minat para ikhwan yang kita anggap layak menjadi suami yang shalih.

Mengenai hal ini Abu Umar Basyir memberikan beberapa alasan, antara lain :

Pertama, soal jodoh, kita tahu, bukanlah merupakan hak kita menetapkannya. Kita hanya mampu berusaha dan memohon kepada-Nya agar diberi yang terbaik. Bila sudah jodoh tak akan lari kemana.

Kedua, soal keshalihan sangatlah relatif. Ada wanita yang berada di barisan terdepan dalam berpakaian muslimah secara sempurna, namun tidak dalam soal menuntut ilmu. Menggebu dalam menuntut ilmu, mungkin bukan termasuk yang sukses dalam menata hati. Ada yang gigih belajar dan mengamalkan sunnah, tapi nol besar dalam berdakwah. Ada yang sukses mendakwahi orang lain, tapi gagal mendakwahi keluarga sendiri. Jadi setiap kita penuh dengan kekurangan. Kita tidak boleh jumawa, ojo dumeh, pantang tinggi hati. Tapi kita juga tidak boleh mengalami krisis percaya diri, nggak boleh rendah diri. Kalau kita menginginkan yang terbaik buat diri kita di dunia dan di akhirat, tak seorang pun yang mengecam kita, kecuali orang yang kurang memahami realitas hidup dan kehidupan.

Ketiga, suatu hal yang wajar jika seorang wanita yang shalihah mencari suami yang lebih shalih dari dirinya dengan niat agar tertular keshalihannya. Demikian juga sebaliknya, seorang laki-laki yang shalih, ingin lebih shalih dengan menikahi wanita yang melebihi keshalihannya.

Namun, satu hal yang perlu dicatat, bahwa dalam diri kita harus ditanamkan tekad untuk berusaha terus memperbaiki diri. Bila tidak, maka keshalihan pasangan hidup kita justru akan menjadi ‘Neraka Dunia’ bagi kita. Karena keshalihan selalu menyemburatkan implementasi yang luas diberbagai sisi kehidupan. Bila sisi-sisi kehidupan kita masih terlalu banyak diisi dengan keburukan-keburukan, sementara pasangan kita sebaliknya, maka yang akan terjadi adalah tabrakan demi tabrakan yang akan menciptakan ketidakharmonisan, ketidakserasian dan ketidakpantasan untuk membina hidup bersama.

Antara Tergesa-gesa dan Menyegerakan

 Salah satu perkara yang perlu disegerakan adalah menikah. Menyegerakan bagi seorang laki-laki yang telah ba’ah (mampu, baik lahir maupun batin) adalah dengan segera meminang wanita baik-baik yang ia mantap dengannya. Ia datangi orang tua wanita tersebut dengan menjaga adab sambil membersihkan niat. Sedangkan menyegerakan nikah bagi keluarga wanita adalah dengan mempercepat pelaksanaan jika tidak ada kesulitan yang menghalangi. Juga, menyederhanakan proses agar tidak membebani kedua mempelai.

Menyegerakan nikah insya-Allah lebih dekat kepada pertolongan Allah dan syafa’at Rosulullah. Allah akan menyempurnakan setengah dien (agama) kita dan memberikan barakah kalau kita menyegerakan menikah. Sebuah pernikahan yang barakah akan menjadikan orang-orang yang ada didalamnya tentram dan saling memberi manfaat. Mereka akan memperoleh kebahagiaan dan terhindar dari hidup yang sia-sia. Seorang pemalas akan menjadi rajin, seorang peragu akan memperoleh yakin dan seorang yang bimbang akan memperoleh keteguhan. Sebab, sesungguhnya perbuatan menyegerakan nikah merupakan perkara yang disunnahkan oleh Rosulullah. Dan, setiap perkara yang disunnahkan, adalah tindakan yang diridhoi dan dicintai Allah.

Akan tetapi, di dalam setiap perbuatan, setan selalu berusaha untuk menggelincirkan manusia. Jika orang tidak mau melakukan kemaksiatan, setan berusaha untuk menggelincirkan manusia dengan menampakkan apa-apa yang sepintas mirip dengan perkara yang disunnahkan.

Banyak contoh tentang hal ini. Agama menganjurkan kita untuk syukur nikmat, mengabarkan dan menampak-nampakkan nikmat yang kita peroleh demi mengagungkan kemurahan Allah. Dan setan berusaha untuk menyimpangkan niat kita, sehingga kita menampak-nampakkan bukan dalam rangka syukur nikmat, tetapi dalam rangka riya’ dan sum’ah. Jika riya’ adalah tindakan yang dilakukan dengan harapan orang melihat kebaikan yang ada pada diri kita, sum’ah adalah tindakan agar orang mendengarkan keunggulan kita.

Kadang orang bersikap merendah karena tawadhu’, tetapi orang bisa merendah dalam rangka meninggikan diri di hadapan orang lain. Yang pertama, adalah kemuliaan akhlaq yang sering dianjurkan agama. Yang kedua, adalah rekayasa kesan agar tampak sebagai orang yang memiliki kedalaman pemahaman agama.

Perkara nikah juga demikian. Kita disunnahkan untuk menyegerakan pernikahan. Mesti demikian, kita bisa jadi terjatuh pada tindakan tergesa-gesa. Bersegera, akan mendekatkan orang kepada saat menikah. Penantian yang telah melewati berpuluh-puluh malam, insya-Allah segera terbayarkan dengan akad nikah yang dalam waktu dekat akan terlaksana. Sementara itu, tergesa-gesa bisa jadi justru menjadikan tibanya saat akad nikah harus melalui waktu yang lama.

Ada perbedaan yang jauh antara pernikahan yang disegerakan dengan pernikahan yang dilaksanakan secara tergesa-gesa. Waktu yang dibutuhkan dari peminangan sampai akad nikah bisa jadi sama. Tetapi, suasana yang terbawa dalam rumahtangga sangat berbeda.

Pernikahan yang disegerakan insya-Allah penuh barakah dan ridha Allah. Di dalamnya, Allah mencurahkan perasaan sakinah (ketentraman hati) kepada suami-istri tersebut. Bahkan, suasanasakinah juga terasakan oleh seisi rumah, sanak saudara yang mengetahui, serta orangtua dari keduanya, kecuali bagi mereka yang sedang merasakan kekeluhan dalam jiwanya. Tapi, apakahsakinah itu? Wallahu a’lam, mengutip dari penjelasan Muhammad Fauzil Adhim, bahwa sakinah adalah ketenangan hati, ketentraman jiwa, dan terbatasnya diri dari keinginan-keinginan yang dilarang, sebab sesuatu yang dilarang akan menimbulkan kegelisahan dan kecemasan.

Sedang, pada pernikahan yang tergesa-gesa lebih dekat kepada kepada kegersangan dan kekecewaan. Pernikahan yang tergesa-gesa mendatangkan penyesalan dan ketidakbahagiaan. Ia mendapati istrinya yang menyusahkan dan membuatnya cepat beruban sebelum waktunya.

Jika pernikahan yang barakah membuat rumah tangga terasa damai dan penuh kasih sayang, pernikahan yang tidak barakah mengakibatkan rumah terasa sempit dan orang tidak menemukan kedamian di dalamnya. Ukuran fisiknya barangkali luas, bahkan jauh melebihi kebutuhan. Akan tetapi, tidak ada kelapangan di dalamnya. Sebab, tidak sama antara luas dan lapang.

Jadi, dengan demikian saya berwasiat pada diri saya sendiri dan saudara-saudaraku yang belum menikah, bercita-citalah yang besar, ciptakan obsesi setinggi mungkin, tapi mulailah dari sekarang membangun kepantasan diri untuk menjadi pasangan manusia terbaik yang ada dalam angan-angan kita. Allah telah memberikan pilihan kepada kita dan Dia memberikan kebebasan kepada kita untuk memilihnya…..bahagia atau sengsara.

 

Wallahu a’lam Bishowab

 Tegalsari, 19 September 2010

M. Sirais Rosyid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s