KARENA TAK KENAL, AKHIRNYA DI BENCI


Satu kebahagiaan yang tidak terhingga ketika Alloh menciptakan sarana, media atau perangkat untuk mengoptimalkan kebahagiaan dunia dan akhirat melalui inti ajaran-ajaran Islam (syari’at) yang selalu memberikan kemaslahatan bagi hamba-Nya apabila dilaksanakan dengan ikhlas, berkesinambungan menyebarkan dakwah Amar makruf nahi mungkar dan saling nasehat-menasehati agar kita yang hidup direntang panjang di masa modern ini mampu bertahan dalam garis-garis kebenaran tersebut.

 

Al-Insaanu ‘aduwwu maa jahilahu” (Manusia selalu memusuhi hal yang tidak dikenalnya)

 

Salah satu yang menjadi penyakit umat Islam dimana pun mereka berada dan kita senantiasa menjadi bagian dari mereka adalah menyebarluasnya kejahilan (kebodohan akibat dari ketidaktahuan) umat ini terhadap ilmu dien (ilmu agama), termasuk syari’at didalamnya.

Tugas para Ulama’ dalam menyampaikan ilmu, menyebarluaskan taklim (majlis ilmu) untuk melenyapkan unsur-unsur kejahilan itu adalah tugas berat yang harus kita dukung bersama-sama, karena masing-masing dari kita punya nilai kejahilan itu. Sehingga tanpa sengaja kadang-kadang kita melalaikan kewajiban kepada Alloh, kita masih begitu gampang menabrak hal-hal yang dilarang-Nya, secara ringan pula kita menolak syari’at-Nya dan secara tegas pula kita berani mengesahkan hal-hal yang jelas-jelas diharamkan.

 

Hawa nafsu jelas berperan di sini, Iblis dan bala tentaranya jelas tidak dapat dinafikkan kerja kerasnya didalam menjerumuskan Bani Adam dalam berbuat dosa dan maksiat, sedang kejahilan merupakan celah yang paling utama untuk menjerumuskan manusia ke dalam kubangan maksiat yang terbesar dari dosa-dosa kecil, dosa-dosa besar, kekufuran sampai kemusyrikan.

 

Kerja keras kita inilah yang harus diwujudkan dengan membudidayakan Talabul ’ilmi (mengkaji Islam) secara tulus dan benar. Kita harus singkirkan emosi, obsesi pribadi dan hal-hal yang dapat menggores ketulusan kita (termasuk didalamnya latar belakang, status sosial, pendidikan, kehidupan serta masa lalu kita), jangan sampai merecoki kita dalam bertalabul ’ilmi. Sebab, hal itu akan mempengaruhi hati kita, jika hati terlena maka akibatnya kita akan memilih  larangan Alloh yang gambang-gampang ditinggalkan saja, syari’at-Nya pun dipilih-pilih mana yang kira-kira tidak menyusahkan kita, mana yang kira-kira tidak bertumbrukan dengan kebiasaan kita dan seterusnya. Akhirnya, pemahaman yang di ikuti adalah berdasarkan hawa nafsu.

 

Akibat dari  kebodohan inilah seseorang akan merasa asing terhadap syari’at Alloh. Segala sesuatu (sekalipun itu perintah Alloh) selama diluar pemahamannya, apalagi mengancam kesenangan dan rasa amannya, maka secara tegas dianggapnya salah. Bermula dari anggapan itulah akan banyak syari’at Alloh yang terdzolimi.

 

Sebagai salah satu contoh sebut saja syari’at Poligami, salah satu syari’at yang dapat kita lihat bersama saat ini sebagian orang mendzoliminya, bahkan disudutkan dalam jajaran syari’at Islam dan dianggap sebagai sesuatu yang tabu didalam masyarakat kita. Hal ini terjadi karena berhasilnya provokasi orang-orang liberal untuk memunculkan ”kesan” bahwa poligami itu akan merugikan atau mengancam kebahagiaan wanita (istri), seolah-olah ketika seseorang berpoligami maka peluang untuk membentuk keluarga yang barakah tertutup rapat, rumahtangga terkesan bagai neraka didalamnya.

Padahal sebenarnya ini hanya persoalan waktu saja, sebab pada dasarnya hentakan kehebohan poligami ini demikian terasa ketika sudah banyak pihak yang khawatir akan tergores atau berkurang sebagian kepentingannya. Dan perlu kita renungkan bersama, ini merupakan fenomena yang terjadi pada penerapan syari’at Islam selama ini, dan poligami adalah salah satu korbannya.

 

Sebagai bahan renungan, mari kita tengok ke belakang perjalanan syari’at lain yang sempat terdzolimi akibat ulah provokasi orang-orang liberal, yaitu syari’at Jilbab. Mereka berhasil menanamkan ”kesan” pada masyarakat, bahwa dengan berjilbab mengurangi keindahan bentuk tubuh, terkesangedombrongan (tidak rapi) dan yang paling parah lagi, mereka memprovokasi bahwa dengan berjilbab suami tidak akan bergairah padanya, akibatnya suami akan berpaling pada wanita lain, inilah hal yang paling ditakuti seorang wanita.

 

Hal itu didukung dengan banyaknya da’i-da’i ketika ditanya tentang hukum jilbab, maka jawabannya sangat plin-plan, tidak transparan sebagaimana sekarang, bahkan ada sebagian yang dengan begitu semangat menyatakan bahwa tidak disyari’atkannya berjilbab, ini menjadi satu masalah yang semakin menyulitkan (menyudutkan) para muslimah yang telah paham dan berjilbab.

 

Akibatnya, banyak saudari-saudari muslimah kita yang sampai dikeluarkan dari sekolah atau tempat kerjanya hanya gara-gara berjilbab. Selain itu gara-gara berjilbab sampai-sampai dituduh sebagai ”mistik beracun”, hingga tidak jarang sampai hampir dikeroyok masyarakat karena dianggap aneh.

 

Namun, kini jilbab telah menjadi sesuatu yang biasa, bahkan telah menjadi tren disebagian masyarakat kita. Santri-santri TPA, siswi-siswi SMU, guru dan bahkan Kepala Sekolah telah mengenakan jilbab. Mereka telah tahu keutamaan jilbab baik secara syari’at, maupun manfaatnya bagi kesehatan dan keamanan seorang wanita. Hal ini menandakan bahwa sosialisasi jilbab di masyarakat kita telah sukses.

 

Fenomena jilbab adalah satu bagian kecil dari syari’at Islam yang dimusuhi hanya gara-gara tidak dikenal (tidak tahu). Ketika syari’at itu tidak dikenal, maka dianggap bukan syari’at Islam, dianggap ekstrim, bagian Islam militan, kerjaan orang-orang fundamentalis, dianggap sebagai paham Islam sempalan hanya gara-gara memakai jilbab besar, padahal itulah sesungguhnya jilbab yang sesuai syar’i. Maka tidak heran jika sekarang Poligami yang menjadi gilirannya untuk dihujat.

 

Hal ini menjadi bukti yang kuat, bahwa permasalahan poligami yang mencuat saat ini hanyalah karena masyarakat tidak tahu saja akan manfaat di syari’atkannya poligami, sebagaimana disudutkannya syari’at jilbab waktu itu. Dimana di satu masa demikian disudutkan orang-orang yang berjilbab, dituduh ”mistik beracun”, bahkan hampir dikeroyok orang-orang hanya gara-gara mengenakan jilbab, tapi sekarang telah menjadi sesuatu yang biasa, bahkan menjadi tren, karena telah marasakan manfaat dan kenyamanannya.

 

Kini mari kita lihat jumlah pertumbuhan penduduk dunia dengan perbandingan antara laki-laki dan wanita hampir mencapai 1 : 3, padahal hasrat untuk berumahtangga adalah fitrah bagi setiap orang, baik laki-laki maupun wanita. Jika setiap laki-laki hanya menikahi 1 wanita, lalu kemanakah 2 wanita yang lain menyalurkan fitrahnya itu?? Relakah kita bila saudari kita menyalurkannya ditempat yang salah?? Bagaimana jika kita menjadi salah satu dari mereka, apa yang akan kita lakukan?? Adakah solusi yang mampu memecahkannya?? Akankah Poligami yang sesuai syar’i menjadi sesuatu hal yang biasa dimasyarakat, bahkan menjadi satu solusi dari semua masalah itu??

Wallahua’lam Bishowab

 

Tebet, 26 Juli 2012

M. Sirais Rosyid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s