Renungan Dakwah Nusantara


-=º ·¨©¨· º=-

ان كلماتنا ستبقى ميتةً لا حراك فيها هامدةً أعراسا من الشموع فإذا متنا من أجلها انتفضت و عاشت بين الأحياء كل كلمة قد عاشت كانت قد اقتاتت قلب إنسان حي فعاشت بين الأحياء و الأحياء لا يتبنون الأموات …

Kalimat (materi dakwah) kita akan tetap mati tak berdaya gerak, diam laksana sumbu yang terjepit di tengah lilin. Tapi bila kita mati karena membelanya, ia menggeliat dan akan hidup di tengah umat manusia. Setiap kalimat yang hidup, pasti karena tumbuh di hati manusia yang hidup. Sebab sesuatu yang mati tak akan melahirkan sesuatu yang hidup… (Sayyid Qutb)

-=º ·¨©¨· º=-

 

Mari kita sejenak merenungi dakwah di bumi nusantara, untuk menemukan solusi atas kemunduran Islam di sini. Pengaruh dakwah dalam mewarnai kehidupan masyarakat makin tahun makin turun. Tentu ini pandangan sepihak penulis, bukan melalui survey yang valid. Setidaknya dari indikator makin kuatnya pengaruh budaya rusak yang menjangkiti remaja, orang tua bahkan anak-anak kita.

Dulu tak ada wanita berjilbab yang ikut joget dangdut tapi sekarang jadi biasa. Dulu begitu sakral hubungan pria dan wanita, kini begitu longgar dan permisif hubungan itu. Pemikiran liberal juga makin banyak penggemarnya. Dulu ustadz punya wibawa yang bagus, tapi kini ustadz makin gaul dan suka lawakan. Wanita makin berani kepada suami dan makin susut naluri rasa malunya. Banyak hal yang bisa dilihat dan diindera untuk membuktikan makin longgarnya kontrol dakwah terhadap kehidupan sosial umat Islam.

Dalam salah satu tulisannya Koran Republika, Alwi Shahab, seorang penulis sejarah Jakarta, menceritakan perubahan budaya yang terjadi di Jakarta. Pada tahun 50-an ke bawah, tulisnya, masyarakat Jakarta jika nonton film di gedung bioskop maka pintu masuk dan keluar dibedakan antara laki-laki dan perempuan, demikian juga tempat duduknya bahkan ada kain pembatasnya.

Fenomena budaya ini jelas mengindikasikan pengaruh dakwah para kyai dan dai pada jaman itu masih kuat mengakar di benak masyarakat. Sehingga saat keluar dari gedung bioskop, antara suami dengan istrinya akan saling mencari. Hubungan pria dan wanita yang demikian sakral, bisa dipertahankan bahkan hingga di gedung bioskop.

Budaya yang mensakralkan hubungan laki-laki dan wanita, bukan budaya yang lahir dari nafsu dan syahwat manusia. Tidak mungkin. Pasti budaya ini lahir dari pengaruh para kyai, dai dan santri yang mewarnai kehidupan masyarakat Jakarta dan seluruh Indonesia saat itu.

Coba bandingkan dengan tahun 2.000 ke atas. Hubungan pria dan wanita demikian longgar, campur baur, masyarakat tak lagi ingat dengan istilah mahram sebagai kontrol pergaulan, lupa dengan istilah aurat dalam berbusana. Istilah-istilah yang dulu popular menjadi kontrol di alam bawah sadar umat Islam, kini berganti dengan istilah-istilah gaul yang hanya berkonotasi cinta, asmara, birahi, mode, narsis dan sebagainya. Sopan santun dan tata krama hubungan pria wanita sudah berganti menjadi pergaulan bebas nyaris tanpa batas. Pola pikir masyarakat sudah hampir sama dengan pola pikir Barat.

Ormas dan Dakwah

Dakwah di Indonesia belum digarap dengan serius dan profesional. Setidaknya jika kita melihat kiprah ormas-ormas dakwah di Indonesia hingga saat ini. Bukan mengecilkan peran mereka, tapi mencoba melihat secara obyektif dari sudut pandang dakwah, bukan sudut pandang yang lain.

Kesimpulan bahwa dakwah belum digarap serius, dapat dilihat buktinya dari minimnya “panggung-panggung dakwah” yang dikuasai oleh organisasi dakwah. Jika kita mengukur pada radio dan televisi, masih sangat kecil pengaruh dakwah di kedua panggung tersebut yang digeluti ormas dakwah. Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama sudah berdiri sebelum kemerdekaan, dengan jumlah massa yang mencapai puluhan juta umat, logikanya, mengapa belum dengan serius menggarap radio dan televisi sebagai panggung dakwah? Faktor dana rasanya bukan penyebab. Tapi, menurut hemat penulis, lebih karena belum menghayati dakwah sebagai alat kawal keislaman masyarakat sehingga dipentingkan dan diutamakan dalam agenda ormas-ormas tersebut.

Demikian pula Persis, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, dan lembaga-lembaga dakwah yang lain. Udara sebagai panggung dakwah yang luas nyaris tanpa batas, masih dibiarkan dukuasai para pendakwah jahiliyah dan hiruk pikuk bisnis. Mereka semua lebih asyik dengan panggung dakwah yang kecil-kecil semacam mushalla, masjid, dan sekolah.

Jika kita menilik pemerataan dakwah, masih banyak umat Islam yang hidup di lokasi terpencil baik di pulau-pulau besar apalagi pulau-pulau kecil, yang belum kebagian kue dakwah. Di sana sulit menemukan dai yang secara serius memainkan fungsi dakwah dan mengawal keislaman masyarakat. Kalaupun ada, kompetensi keilmuannya juga amat minim. Belum lagi dengan problematika kemiskinan yang dihadapi para pembawa pelita dakwah di pedalaman dan daerah terpencil, mereka seperti berjuang sendirian di tengah keterasingan dan berjibaku melawan kemiskinan.

Ormas-ormas yang disebut di atas bukan berarti tidak berkiprah, banyak sekali kiprah mereka. Umumnya kiprah yang lebih menonjol di bidang pendidikan, bukan di bidang dakwah. Sementara ormas yang lain yang tidak disebut, tingkat perhatian dan keseriusannya dalam bidang dakwah kurang lebih sama dengan ormas-ormas di atas.

Ini semua menegaskan satu kesimpulan: sejak sekian tahun, dakwah kurang mendapat porsi perhatian yang memadai. Dakwah masih dilakukan dengan santai, belum sungguh-sungguh dan serius seperti yang dilakukan oleh organisasi bisnis.

Menyesali Pemerintah ?

Memang seharusnya tugas mengawal keislaman masyarakat yang mayoritas muslim ada di tangan pemerintah. Tapi apa boleh buat, pemerintah yang ada bukan pemerintah Islam, sehingga tak bisa dijadikan tempat keluh kesah tentang dakwah dan problematika khas umat Islam. Keluh kesah hanya bisa kita tumpahkan kepada diri umat Islam sendiri. Dan pilar-pilar kekuatan umat Islam adalah ormas-ormas tersebut, oleh kerenanya kita mengkritisi kiprah dan perhatian ormas-ormas Islam dalam masalah ini.

Kesedihan kita tentang nasib dakwah di negeri ini yang mengalami kemunduran, mesti menjadi autokritik kepada diri kita yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tubuh umat Islam. Keprihatinan akan melahirkan kepedulian. Kepedulian akan melahirkan kegelisahan untuk mencari solusi. Kegelisahan mencari solusi akan melahirkan kreatifitas, energi dan gerak dahsyat dalam mengentaskan problematika umat dalam bidang dakwah.

Apa yang terjadi pada ormas yang telah ada, seharusnya menjadi pelajaran bagi yang ormas yang baru. Jika kita mampu membuat ormas atau lembaga dakwah yang baru, dan fokus perhatiannya adalah dakwah, dan dilakukan dengan serius, hal ini akan menjadi penawar dari kegelisahan kita.

Muhammadiyah – sebagai contoh kasus – pada awal berdirinya sangat serius dalam menyebarkan dakwah, dengan fokus garapan meluruskan pemahaman masyarakat dari penyakir syirik, bid’ah, khurafat dan takhayul. Tapi sayang, semangat dakwah para pendiri Muhammadiyah tak mampu diwarisi para penerusnya.

Keseriusan Dakwah vs Keseriusan Dai

Keseriusan dakwah tak bisa dipisahkan dari keseriusan para duatnya. Bahkan hal ini menjadi faktor kunci. Semua fakta kemunduran dakwah yang kita paparkan di atas, penyebabnya terpulang pada tingkat keseriusan dan penghayatan para dai terhadap pekerjaan dakwah.

Problematika dakwah di nusantara lebih pada problem kejahilan (ketidak-tahuan) umat Islam terhadap agamanya. Kita sudah diwarisi ratusan juta manusia yang sudah beragama Islam, tapi kita dihadapkan pada tantangan bagaimana mengawal mereka agar tetap cinta Islam, memahami Islam dengan benar, mengamalkan Islam, dan menjadikan Islam sebagai spirit kehidupannya. Tantangan kita, jika diibaratkan dunia sepakbola, adalah pada sektor pertahanan. Mempertahankan ratusan juta umat manusia yang secara agama sudah Islam, agar memahami agamanya dengan benar, melaksanakannya, mencintainya, membelanya dan menghayatinya sehingga menyatu jiwa dan raganya dengan Islam.

Kasus kita berbeda dengan kasus dakwah Rasulullah saw yang lebih bersifat ofensif (menawarkan dan ‘menyerang’ agar umat manusia menerima Islam). Fase ‘penyerangan’ (ofensif) sudah selesai dilaksanakan para dai pendahulu kita, yang dengan gemilang dapat merobah penduduk nusantara yang sebelumnya paganis (musyrik/hindu) menjadi muslim. Pekerjaan dakwah yang luar biasa.

Seandainya para dai pendahulu kita memberi wasiat, tentu wasiat mereka adalah bagaimana agar kita dengan sungguh-sungguh menjaga, memonitor dan mangawal keislaman umat agar tetap baik. Jika kita mampu melaksanakan amanat ini, kita sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa juga, tidak kalah dengan pekerjaan para pendahulu.

Fakta banyaknya hasil dakwah peninggalan pendahulu kita yang murtad menjadi Nasrani, berbelok ikut aliran sesat dan termakan arus jahiliyah sehingga tanpa sadar merusak Islam, menjadi bukti pekerjaan pertahanan kita rapuh. Dan selalu kita tak bisa menyalahkan keadaan, tapi menyalahkan diri kita sendiri.

Keseriusan Dai: Obsesi Membimbing Umat Kepada Hidayah

Seorang dai hendaknya memiliki obsesi memperbaiki umatnya sebesar obsesi orang tua dalam mensukseskan anaknya. Umat yang tersesat atau jahil terhadap Islam diibaratkan anak-anak kita sendiri, yang berhak mendapat kasih sayang, motivasi, pendidikan, bimbingan, dan pengajaran agar bisa sembuh dari kejahilannya dan terbimbing dari ketersesatannya.

Tandanya, jika seorang dai bisa merasakan kesedihan yang luar biasa bahkan menangis iba saat melihat kejahilan umatnya, terjerumusnya mereka dalam kemunkaran dan ketersesatan mereka, ini sudah menjadi modal penghayatan dakwah yang bagus. Dan jika ia telah mengajarinya, membimbingnya dan mendidiknya dengan Islam lalu berobah menjadi orang sholih, ia juga akan bahagia luar biasa bahkan menangis haru, seperti orang tua yang menangis haru tatkala menyambut putranya yang sukses pulang dari perantauan, maknanya ia telah memiliki penghayatan dakwah yang baik.

Pada tataran ormas dakwah, penghayatan dan keseriusan ini juga belum tampak. Obsesi ormas dakwah masih terbatas menghimpun pengikut, tapi belum terlalu kuat obsesi memberi hidayah kepada masyarakat. Tingkat penghayatan ormas terhadap dakwah, akan tercermin pada produk-produk kegiatan dakwah yang digulirkan.

Muhammadiyah, yang punya kampus dan sekolah di berbagai kota, tapi ironis tak memiliki radio dakwah yang dikelola serius oleh Muhammadiyah sebagai alat memberi hidayah kepada umat. Apa yang terjadi pada Muhammadiyah, terjadi kurang lebih pada ormas yang lain. Ini menandakan tingkat obsesi dan keseriusan Muhammadiyah dan ormas-ormas dakwah lain dalam memberi hidayah kepada umat masih rendah.

Kalimat Sayyid Qutb di atas mengajarkan kepada kita makna penghayatan terhadap materi dakwah, dan keseriusan memberi hidayah kepada umat. Beliau sendiri telah membuktikan ucapannya, sehingga untaian kalimat dakwah yang beliau tulis masih hidup sampai sekarang.

Untaian kalimat dakwah yang disampaikan seorang dai tak akan berpengaruh banyak kepada pendengarnya sampai ia menghayati kalimat-kalimat dakwahnya itu dengan pengorbanan. Pengorbanan tak mesti dengan kematian, bisa juga dimaknai dengan kesabaran menanggung kemiskinan, ketabahan menempuh jauhnya perjalanan, kegigihan dalam mengarungi medan dakwah dan kesabaran dalam membimbing umat. Ini bisa menjadi nafas yang membuat kalimat dakwah hidup menggeliat dan membekas di hati dan pikiran umat.

Nusantara membutuhkan ribuan bahkan jutaan dai yang memiliki obsesi memberi hidayah kepada umat. Bukan hanya obsesi, tapi juga meresapi dan menghayati kalimat-kalimat dakwahnya dengan pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan kesabaran. Semua ini adalah harga yang harus dibayar untuk satu hal:memenangkan hati dan pikiran umat Islam untuk tetap membela dan memerdekakan Islam di bumi nusantara ! wallahu a’lam bisshowab.

sumber : https://elhakimi.wordpress.com/2012/09/04/renungan-dakwah-nusantara/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s