BENCANA PANDANGAN MATA (SEPUTAR MAKNA DAN RIWAYATNYA)


Ibnul Qayyim Al-Jauzi mengungkapkan, “Jika seorang penuntut ilmu ingin meraih kesempurnaan ilmu, hendaklah ia menjauhi kemaksiatan dan senantiasa menundukkan pandangannya dari hal-hal yang haram untuk dipandang karena yang demikian itu akan membukakan beberapa pintu ilmu, sehingga cahayanya akan menyinari hatinya. Jika hati telah bercahaya maka akan jelas baginya kebenaran. Sebaliknya, barangsiapa mengumbar pandangannya, maka akan keruhlah hatinya dan selanjutnya akan gelap dan tertutup baginya pintu ilmu”.

 

Di Balik Pandangan Mata

 

Alloh memerintahkan Nabi-Nya untuk menyuruh kaum mukminin menjaga pandangan mereka, memelihara kemaluan mereka, dan memberitahu kepada mereka serta memperhatikan perbuatan mereka. Alloh berfirman, ” Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati ” (QS. Al – Mukmin (40) ayat 19).

Alloh menceritakan tentang pengetahuan-Nya Yang sempurna lagi meliputi segala sesuatu, yang besar, yang kecil, yang agung, yang hina, yang lembut dan yang paling kecil. Ayat ini merupakan peringatan bagi manusia agar selalu merasa di bawah pengawasan Alloh, sehingga mereka merasa malu dari Alloh dengan malu yang sebenar-benarnya, dan bertaqwa kepada-Nya dengan taqwa yang sebenar-benarnya serta merasa berada dalam pengawasan-Nya dengan perasaan seseorang yang mengetahui bahwa Dia melihatnya. Karena sesungguhnya Alloh mengetahui pandangan mata yang khianat, sekalipun pada lahiriahnya menampakkan pandangan yang jujur. Dan Dia mengetahui apa yang tersembunyi di balik lubuk hati berupa detikan hati dan semua rahasia yang ada didalamnya.

Ibnu Abbas menjelaskan maksud ayat di atas sebagai berikut, ‘Dia adalah seorang laki-laki yang memasuki rumah suatu ahli bait yang didalamnya ada seorang wanita yang cantik, atau wanita yang cantik itu berlalu dihadapannya, maka apabila keluarga si wanita itu lengah, ia melirikkan pandangannya ke wanita itu. Dan apabila mereka mengawasinya, maka ia menundukkan pandangan matanya dari wanita itu. Bila mereka lengah, ia memandangnya lagi, dan bila mereka mengawasi, ia menunduk lagi. Alloh mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati laki-laki seperti itu, dia menginginkan seandainya saja ia dapat melihat kemaluan wanita cantik itu’.

Karena yang menjadi dasarnya adalah pandangan mata, maka Alloh mendahulukan perintah menjaga pandangan mata daripada memelihara kemaluan. Karena semua malapetaka itu bermula dari mata, sebagaimana api yang besar juga berasal dari percikan api yang kecil. Dimulai dari mata, lalu menjadi angan-angan, lalu menjadi langkah perbuatan, lalu menjadi dosa dan kesalahan. Oleh sebab itu ada ulama yang mengungkapkan, ‘ Barang siapa menjaga empat hal ini, berarti telah memelihara agamanya, yakni lirikan mata, besitan hati, ucapan dan langkah kaki‘.

 

Riwayat tentang Bencana Pandangan Mata

 

Rosulullah bersabda, ”Hati-hatilah terhadap godaan dunia dan godaan wanita, sesungguhnya bencana pertama yang menimpa Bani Israil adalah dari wanita.” (HR.Muslim). Kemudian beliau juga bersabda,”Hai Ali ! Janganlah engkau ikuti pandanganmu terhadap yang haram dengan pandangan yang lain. Karena yang pertama itu halal bagimu, dan yang kedua adalah haram.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh Al-Albani).

Dari Jarir bin Abdullah diriwayatkan bahwa ia berkata, ”Aku pernah bertanya kepada Rosulullah tentang pandangan haram yang tidak disengaja. Maka beliau menyuruhku untuk memalingkan pandanganku” (HR. Muslim).

Ibnu Abbas berkata, ‘ Setan memiliki tiga tempat bersinggah pada diri lelaki, yakni matanya, hatinya dan kemaluannya. Sementara setan juga memiliki tiga tempat singgah pada diri perempuan, yakni mata, hati, dan kelemahannya ‘. Isa bin Maryam  berkata, Pandangan kepada yang haram itu menanamkan syahwat dalam hati ‘.

Akibat dari bencana ini pernah dirasakan oleh Imam Syafi’i, seorang ulama madzhab yang terkenal kecerdasannya dan cepat dalam menghafal. Pada usia 7 tahun beliau telah hafal Al-Qur’an dan pada usia 13 tahun hafal kitab Al-Muwwata’  karya Imam Malik. Mengenai kecerdasan Syafi’i, Abu Nu’aim Al-Hafidz berkata, ‘ Di antara ulama terdapat imam yang sempurna, berilmu dan mengamalkannya, mempunyai kemuliaan yang tinggi, berakhlaq mulia dan dermawan. Ulama demikian ini adalah cahaya di waktu gelap yang menjelaskan segala kesulitan dan ilmunya menerangi belahan bumi dari bagian timur sampai barat ‘.

Suatu ketika Ia pernah mengadu pada gurunya, Waki’, bahwa suatu hari hafalannya agak lambat. Maka Imam Waki’ menyuruhnya untuk mengingat-ingat perbuatan apa yang telah ia lakukan serta berwasiat padanya agar meninggalkan kemaksiatan dan mengosongkan hati dari segala sesuatu yang menjauhkannya dari Alloh. Tak lama Imam Syafi’i merenung, kemudian ia teringat bahwa tanpa sengaja ia melihat sehelai rambut seorang wanita, dalam riwayat lain disebutkan ia melihat betis wanita yang bukan mahramnya. Maka segeralah ia bertaubat dan perlahan pulihlah hafalannya.

Mengenai hal ini Imam Ibnu Munadi berkomentar, ‘Sesungguhnya hafalan itu memiliki beberapa sebab, diantaranya adalah menjauhi kemaksiatan secara umum (utamanya terhadap pandangan). Sebab, seseorang yang mampu menundukkan pandangan (nafsu) dan mau tunduk kepada Alloh, niscaya penglihatan, pendengaran dan akalnya akan terjaga serta bersih dari roin  (sumbatan), yaitu sesuatu yang menutupi hati karena kegelapan akibat maksiat ‘.   

Wallahu a’lam bishowab. (email untuk berbagi : ibnusahro@yahoo.co.id).

Kampung Makassar, 20 April 2011

Oleh : M. Sirais Rosyid

Disarikan dari buku Menjemput Ke-Agungan Cinta (terbit gratis dalam bentuk Soft Copy) karya M. Sirais Rosyid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s