Menghadirkan Keikhlasan hidup & ibadah hanya mengharap wajah Allah


beberapa waktu yang lalu dapat kiriman tausiyah dari salah seorang ustadz jakarta, ust Oemar Mietha LC.. berikut isinya :

بِسْمِــ اللهِ

Tak ada yang sulit dan sukar dalam jiwa kita kecuali menghadirkan keikhlasan hidup dan ibadah hanya karena mengharap wajah-Nya tidak untuk lainnya, karena seseungguhnya ikhlas adalah dapat merubah yang yang remeh menjadi agung dan yang agung menjadi tak bernilai apabila salah menempatkannya barang siapa yang dalam hidupnya hanya mencari wajahnnya dunia, maka tidak akan pernah mengenyangkan. Dan jangan pula engkau mencari manisnya pujian karena hal itu tidaklah akan abadi, yang abadi hanyalah wajah Alloh dan itu hanya diperuntukan kepada orang-orang yang selalu dalam langkah hidupnya mencari wajah Alloh Walaupun keihlasan merupakan amalan hati yang sulit untuk ditelisik,tapi ternyata bahwa ikhlas ada tanda-tanda yang bisa diterlihat dari kehidupan hamba Alloh, diantara tanda-tanda yang jelas dari sebuah keihlasan adalah:

1. Mengharapkan wajahnya Alloh selalu dalam setiap detil kehidupannya,sehingga apapun yang dirasakannya dan dilewatinya maka dia hanya berharap kepada wajah nya Alloh,tidak silau dengan niatan dunia ataupun pujian serta sanjungan Sebagaimana yang disampaikan Alloh :

‫‫وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ‬‬

Dan bersabarlah Engkau (muhammad)bersama orang-orang yang menyeru RabNya pada pagi hari dan senja hari dengan mengharapkan wajahNya (alkahfi 28)

Orang yang ikhlas selalu berobsesi besar dan berniat besar untuk selalu mendahulukan wajah Alloh dalam mengharapkan balasan kebaikan yang mereka persembahkan,sehingga lahirlah sebuah sikap yang penuh suka cita dalam hidupnya,karena setiap permasalahan akan tampak remeh dibandingkan wajahNya

2. Senang beramal sembunyi sembunyi :
Salah indikator kuat orang yang ikhlas adalah mereka senantiasa menyembunyikan amalan sholeh mereka dalam beraamal dan menjadi pribadi yang begitu khusyu ketika disaat kesendiriannnya dan menebarkan amalan kebaikan yang tidak pernah kurang disaat mata manusia tidak ada yang memandang,sehingga tampaklah cahaya iman dan keshalehannya disaat dia hanya berduaan dengan Alloh

Salamah bin dinar mengatakan :”
sembunyikanlah amalan kamu melebihi dari apa yang kamu sembunyikan dari keburukanmu’ (lihat kitab hilyatul auliya abu nuaim alsfahani III/240)

Al kuraibi mengatakan :”bahwa
mereka ingn sekali mnjadi orang yang amalam terttutupi dari pandangan orang lain bahkan kepada istrinya (lihat kitab siyar alamun annubalaIX/349)

Sebagaimana hal ini dituturkan orang-orang sholeh dalam kehidupan mereka,sebagaimana umar bin khotob selalu bersembunyi bersembunyi membagikan bantuan kepada orang fakir di madinah di waktu malam (lihat kitab hilyatul auliya abu nuaim alsfahani I/48)

Dan Ali bin husain yang menyantuni 100 rumah dimadinah,setiap waktunya,tidak ada yang mengetahui perbuatan beliau sehingga ketika ia meninggal dunia maka barulah orang-orang mengerti apa yang beliau bagikan dengan tanda hitam dipunggungnya dan sejak kematian beliau maka bantuan itu terhenti (lihat kitab siyar alamun annubalaIII/393)

Dawud bin hindun berpuasa sunnah selama 40 tahun,dan dalam waktu selama itu beliau tidak diketahui oleh keluarganya

Semua fragmen nyata ini menyimpulkan bahwa semakin besar ikhlasnya seseorang maka semakin besar dia akan menyembunyikan amalannya,karena khwatirnya dirinya bahwa pahala Alloh akan tertukar dengan pujian yang melalaikan

3. Bathin lebih baik dari dzohirnya

‫‫وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا‬‬

Dan orang-orang yang menghabiskan malam mereka untuk beribadah kepada Rabnya dengan bersujud dan berdiri (Al Furqon 64)

Mereka adalah yang senantiasa menjaga amalannya disaat keramaian dan disaat keseipian dan justru menjadi pribadi yang sangat menjaga amalannya ketika hanya berduaan dengan Alloh,dan menjaga dari larangan Alloh ketika tidak ada mata manusia yang melihatnya karena rasa muroqobah (diawasi Alloh) yang sangat besar dalam hatinya
Bilal bin Saad mengatakan:” Seorang wali Alloh tidak akan menjadi waliNYa disaat keramaian dan menjadi musuh Alloh disaat sendirian (lihat kitab sifatun nifaq al firyabi 97)

Disitulah satu perbedaan yang cukup besar antara yang ikhlas dan munafiq yaitu ketika disaat kesendirian mereka dihadapan Alloh,maka diantara hal yang akan sia sia amalan mereka adalah orang yang beramal disaat berhadapan manusia tetapi ketika sendirian mereka berbuat maksiat sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah :

‫‫
عن ثوبان قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا الفين اقواما من امتي يأتون يوم القيامة بحسنات أمثال جبال تهامة فيجعلها الله هباء منثورا قالوا يا رسول الله صفهم لنا لكى لا نكون منهم ونحن لا نعلم قال أما إنهم من إخوانكم ولكنهم اقوام اذا خلوا بمحارم الله انتهكوها‬‬

Sungguh aku tahu dari ummatku nanti akan ada yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan sebesar gunung tihamah lalu Alloh menjadikan amalan mereka layaknya debu yang beterbangan,”tsauban lalu mengatakan “ya Rasulullah sifatilah mereka dan terangkanlah karakter mereka supaya kami tidak termasuk mereka sedangkan kami tidak menyadarinya,beliau lalu menjawab :”mereka adalah saudara-saudara kalian warna kulitnya sama dengan warna kulit kalian dan mereka beribadah malam sebagaimana kalian hanya saja ketika mereka mendapatkan waktu sendirian dan berkesempatan melakukan dosa,maka mereka melakukan kemaksiatan tersebut (HR Ibnu Majah 4245 dan dinyatakan shohih oleh syaikh Albany dalam Shohih jamiah shogir 5028)
4. Khawatir jika amalannya tertolak
Sebanyak apapun amalan yang telah dikerjakan maka ia tetap saja dalam kekhawatiran besar bahwa apa yang telah dilakukannya akan tertolak disisi Alloh,sebagaimana yang Alloh sampaikan

“dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati yang penuh ketakutan bahwa seseungguhnya mereka akan kembali kepada RabNya (Al Mukminun 60)

Artinya mereka hatinya dipenuhi rasa takut kepada RabNya apabila mereka akan dikembalikan kepada Nya dan mendapati rabNya tidak meridhoiNya,tidak ridho disebabkan mereka tidak bersungguh sungguh memenuhi syarat dalam memberikan hartanya (beribadah) (lihat kitab tafsir al quranul adzim V/480)

Sebagaimana kisah seorang ulama besar al mawardi yang menulis banyak karangan buku seperti adabub dunya,alahkam assulthoniyyah an nukat wak uyun,maka ketika dia mendapati dirinya sakit,maka dia berpesan kepada salah satu dari keluarganya dengan mengatakan :”bahwa beliau telah mengarang buku dan beliau tempatkan di salah satu tempat,beliau sembunyikan buku-buku tersebut karena merasa beliau belum merasa ikhlas ketika mengarang semua buku buku tersebut,maka beliau lalu memerintahkan :’apabila nanti ketika aku sedang sakaratul maut maka letakkanlah tanganmu keatas tanganku,apabila aku menggenggam tanganmu maka bakarlah semua bukuku karena berarti aku belum ihklas,akan tetapi ketika aku tetap hamparkan tanganmu,maka sebarkanlah buku buku tersebut. Dan orang yang dipercaya oleh Mawardi mengatakan bahwa ketika mawardi dalam keaadan sakaratul maut maka beliau menghamparkan tangannya dan tidak menggengamnya (lihat kitab siyar alam annubala XVIII/66-67)

Sehingga tanda keihlasan terlihat ketika seseorang yang selalu merasa khwatir bahwa ibadah yg dikerjakan belumlah cukup,sehingga semakin besar perasaaan itu muncul semakin giat dia beribadah dan semakin banyak doa dipanjatkan supaya apa yang telah dia kerjakakan dapat diterima Rab-NYa.

5. Tidak menunggu dipuji
Maka ketika dia memberikan kebaikan kepada yang lain,maka dia tidak pernah merasa berhutang dan menungu kebaikan berbalik,karena kriteria keihlasan yang ada adalah semakin banyak amalan mereka maka semakin mereka tidak membutuhkan pujian

‫‫وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ‬‬

Dan aku tidak mengharap pahala darimua atas ajakan itu akan tetapi hanyalah dari Alloh yang mengusai alam (assyauara 109)

penutup
Tak ada yang sulit dan sukar dalam jiwa kita kecuali menghadirkan keikhlasan hidup dan ibadah hanya karena mengharap wajah-Nya tidak untuk lainnya,
karena seseungguhnya ikhlas adalah dapat merubah yang yang remeh menjadi agung dan yang agung menjadi tak bernilai apabila salah menempatkannya.

Sesungguhnya Allah menyikapi para hamba-hambaNya di akhirat sesuai dengan niat-niat mereka di dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى نِيَّاتهِمْ

“Manusia dikumpulkan (di padang mahsyar-pen) berdasarkan niat-niat mereka” (HR Ibnu Majah no 4230, dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Maka sungguh berbahagia orang-orang yang ikhlas tatkala di akhirat kelak.. hari di mana Allah akan mengungkapkan seluruh yang tersembunyi di hati. Allah berfirman

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ (٩

Pada hari dinampakkan segala rahasia (QS At-Thooriq : 9)

Ibnu Taimiyyah berkata, “Mengikhlaskan agama hanya untuk Allah merupakan agama yang Allah tidak akan menerima selain agama yang ikhlas tersebut. Agama yang ikhlash inilah yang Allah turunkan bersama para nabi dari yang pertama hingga para nabi yang terakhir… dan inilah intisari dari dakwah Nabi dan dia merupakan poros AL-Qur’an yang berputar poros tersebut…” (Majmu fatawa 10/49)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s