Semua tulisan dari attazkiyah

Wahai diri... janganlah kamu sia-siakan amal shalih yang telah kau kerjakan, juga bangunmu di waktu malam dan siang, juga kelelahanmu selama

Syi’ah Undercover


Catatan Singkat Syi’ah Masuk Kampus

Berlian tak perlu digembar-gemborkan lagi tentang mahal dan keistimewaannya,
yang paling penting adalah bagaimana memasarkannya agar setiap orang
–yang tidak memiliki uang sekalipun—dapat memilikinya!

Keberhasilan dakwah Syi’ah di Tanah Air, jelas tidak terlepas dari gerakan mereka yang tersusun rapih, sistematis, dan terorganisir. Terbukti, betapa gencarnya dakwah Syi’ah yang dilakukan dalam berbagai sarana dan prasarana sehingga mudah menyasar kaum mayoritas sunnah di mana pun dan bukan saja di Tanah Air.

Menurut satu di antara tiga teori sejarah awal kedatangan Syi’ah di Indonesia, Syi’ah baru datang setelah peristiwa Revolusi Islam Iran (RII) yang dimulai antara lain dengan tulisan-tulisan Ali Shariati disusul pemikir Islam Iran lain. Sebetulnya, banyak orang terpengaruh Syi’ah kerena peristiwa RII.

Perkembangan Syi’ah seolah menemukan momentumnya pasca Revolusi Iran 12 Januari 1979. Seperti umumnya terjadi di Indonesia, ia dibawa oleh para pelajar yang menuntut ilmu di Negeri Iran. Semenjak itu, Syi’ah menjadi wacana intelektual yang menarik perhatian. Diskusi-diskusi digelar, buku-buku karya ulama dan intelektual Syi’ah dikaji. Perlahan-lahan, Syi’ah pun mulai mendapatkan pengikutnya.

Seperti diakui Muhsin Labib, salah seorang penulis Syi’ah Indonesia, Revolusi Islam Iran yang diletuskan oleh Khomeini telah menjadi momentum historis bagi tersebarnya ajaran Ahlul Bait ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Keberhasilan Khomeini menumbangkan monarki Pahlevi yang menjadi anak emas Amerika di Timur Tengah telah membuat bangsa Indonesia terbelalak.

Para pemuda dan mahasiswa dengan antusiasme tinggi mempelajari buku-buku yang ditulis oleh cendekiawan revolusioner Iran, seperti Murtadha Muthahhari dan Ali Shariati. Sejak saat itulah terjadilah gelombang besar masyarakat Indonesia memasuki ajaran Syi’ah. Maraknya antusiasme kepada Syi’ah, sebagai negara Muslim terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara, tentu berpengaruh terhadap berkembangnya ajaran Syi’ah di Malaysia dan kawasan Asia Tenggara.

Pada dekade terakhir ini, diskursus pemikiran Syi’ah kembali meramaikan kancah pergulatan pemikiran di Indonesia. Dalam banyak hal, ia merupakan bias logis angin perubahan (the wind of changes) yang ditiupkan oleh keberhasilan revolusi Islam Iran (RII) yang digerakkan oleh sekte Islam Syi’ah. Continue reading Syi’ah Undercover

BIDADARI SURGA


 

Kenikmatan surga adalah kenikmatan abadi yang diberikan Allah swt kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa kepadaNya. Kenikmatan surga belum pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terdetik dalam hati, sebagaimana sabda Rasulullah n dalam hadits qudsi :

عن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يقول الله عزوجل : « أعددتُ لعباديَ الصالحين مالا عين رأت ولا أذن سمعت ، ولا خطر على قلب بشر »

Rasulullah n bersabda, Allah swt berfirman, “Telah Aku sediakan buat hamba-hamba-Ku yang sholih, sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan tidak terdetik dalam hati manusia”

Salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada hambaNya yang sholih adalah berupa istri-istri yang cantik jelita atau bidadari (hurun ‘in), yang kecantikannya tidak dapat dikalahkan oleh wanita tercantik di dunia ini. Seandainya satu saja bidadari itu turun ke dunia ini, maka semua orang pasti berlomba lomba untuk mendapatkannya. Tapi ingat, itu hanyalah akan didapatkan oleh orang-orang yang senantiasa taat, patuh dan tunduk terhadap semua perintah Allah, dan menjauhi segala macam larangan Nya.

Definisi
Secara bahasa, bidadari berasal dari kata hurun dan ‘in. Hurun : putih dan ‘in, maksudnya matanya besar dan berwarna kekuning-kuningan.
Istilah : Mereka adalah wanita muda usia yang cantik mempesona, kulitnya mulus dan biji matanya sangat hitam. Dan mereka dijodohkan tanpa melewati proses pernikahan. Continue reading BIDADARI SURGA

الكِتَابُ الْهَادِيُّ السَّيْفُ النَّاصِرُ (Kitab Sebagai Petunjuk dan Pedang Sebagai Penolong)


Berkata Jabir bin Abdillah radhiyallaahu ‘anhu sementara ia membawa pedang di salah satu tangannya dan mushhaf di tangannya yang lain, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami agar memukul dengan ini (pedang) orang yang menyimpang dari ini (kitab).”

Perkataan Jabir bin Abdillah ini merupakan penafsiran terhadap firman Allah Ta’ala :

لقد أرسلنا رسلنا بالبينات وأنزلنا معهم الكتاب والميزان ليقوم الناس بالقسط

“Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-kitab dan timbangan agar manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al-hadid : 25)

 

“Maksud dari diutusnya rasul-rasul dan diturunkannya kitab-kitab adalah agar manusia dapat melaksanakan keadilan dalam hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya.” (Fatawa Syaikhul Islam 28/263)

 

Dan di antara hak Allah Ta’ala yang paling besar yang dengannya diutus seluruh rasul dan diturunkan semua kitabullah adalah agar manusia merealisasikan tauhid yang merupakan pemurnian ibadah kepada Allah dalam semua segi kehidupan mereka. Seluruh dakwah para rasul dan semua kitab yang diturunkan Allah kepada mereka dari pertama hingga terakhir berbicara tentang kebenaran yang agung ini yang intinya adalah :

 

  1. Seruan untuk merealisasikan dan menegakkan kebenaran (tauhid) ini atau perintah untuk berdakwah kepadanya dan bersabar dalam memperjuangkannya atau motivasi untuk berjihad dalam rangka merealisasikan tauhid tersebut serta memberikan loyalitas dan permusuhan karenanya.
  2. Berita tentang balasan bagi orang yang merealisasikan, menegakkan, dan menolong tauhid serta berjihad di jalannya dan juga pahala yang besar serta nikmat yang berharga yang dijanjikan Allah.
  3. Seruan untuk berlepas diri dari kesyirikan yang membatalkan tauhid dan seruan untuk berjihad melawannya dan berjihad melawan pendukungnya serta berusaha untuk menghancurkan-nya dan mencabut sampai ke akar-akarnya dengan segala bentuknya dari atas muka bumi.
  4. Berita tentang tempat kembali bagi orang-orang yang menentang perealisasian tauhid serta orang-orang yang me-meranginya dan memerangi wali-walinya. Tempat kembali mereka adalah kehinaan dan penyesalan serta hukuman yang buruk dan siksa yang kekal yang telah dijanjikan Allah kepada mereka.

Semua kitabullah dan semua risalah nabi-nabi dari pertama hingga terakhir terangkum dalam al-haq (tauhid) ini dan berbicara tentangnya.

 

Tauhid merupakan tujuan terbesar dan target tertinggi yang karenanya Allah menciptakan makhluk, mengutus rasul-rasul untuk-nya, dan menurunkan kitab-kitab.

 

Kemudian Allah Ta’ala berfirman :

وأنزلنا الحديد فيه بأس شديد ومنافع للناس وليعلم الله من ينصره ورسله بالغيب

“Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya.” (Al-hadid : 25)

Barang siapa yang menentang tauhid dan tidak menegakkannya dengan adil dan menolak para rasul dan para da’i, ia diluruskan dengan pedang.

 

Ini merupakan makna dari sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

بعثت بالسيف بين يدي الساعة ، حتى يعبد الله وحده لا شريك له ،وجعل رزقي تحت ظل رمحي ،وجعل الذل والصغار على من خالف

أمري ،ومن تشبه بقوم فهو منهم

“Aku diutus menjelang datangnya hari kiamat dengan membawa pedang hingga Allah disembah sendirian yang tiada sekutu bagi-Nya dan dijadikan rezekiku berada di bawah bayang-bayang tombakku serta dijadikan hina dan rendah orang yang menyelisihi urusanku. Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Imam Ahmad dari Ibnu Umar)

“Barang siapa yang menyimpang dari kitab maka ia diluruskan dengan besi. Oleh karena itu, tegaknya agama adalah dengan mushhaf dan pedang.” (Al-fatawa 28/264)

 

Sudah semestinya para aktivis dakwah yang terpercaya pada setiap zaman menjadikan tauhid sebagai poros dakwah mereka, titik tolak pembicaraan dan persepsi mereka, dan sandaran timbangan mereka. Mereka berkeliling di sekitarnya dan oleh karenanya mereka diuji dan dipenjara serta di bawah panjinya mereka diperangi dan dibunuh.

 

Hendaknya mereka senantiasa berusaha untuk menegakkan tauhid berdasarkan Al-kitab dan As-sunnah dengan argumen dan keterangan. Barang siapa yang menolak tauhid siapa pun orangnya, maka ia diluruskan dengan besi.

Apabila pada suatu masa para aktivis dakwah sulit untuk mempergunakan besi dan tangan mereka tidak mampu untuk melakukannya, mereka tidak boleh menghapus ketentuan ini dari perhitungan mereka atau meninggalkannya. Akan tetapi, mereka harus beredar dengan Al-kitab dan berusaha dengan sungguh-sungguh dalam beri’dad untuk menegakkannya dengan besi.

 

Setiap orang yang mengetahui hakikat dien ini –hingga musuh-musuhnya-, mereka mengetahui bahwa dien ini adalah tauhid dan jihad, dakwah dan qital, mushhaf dan besi. Mereka benar-benar mengetahui –selama mereka menolak untuk istiqamah dalam dien ini dan menegakkannya dengan adil- bahwa dien ini menolak mereka dan akan mencabut kebatilan mereka hingga ke akar-akarnya di setiap masa dan setiap tempat. Mereka mengetahui bahwa Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menyembelih mereka dan menyembelih orang-orang yang serupa dengan mereka.

 

Rasulullah menghadapi orang-orang yang paling dekat dengan itu, yaitu keluarga dan kaumnya ketika mereka menolak untuk melaksanakan tauhid ini dengan adil. Beliau lalu memberitahukan mereka mengenai tujuannya sebelum akhirnya mampu mena-klukkan mereka dalam beberapa tahun berikutnya. Beliau bersabda: “Dengarkanlah wahai orang-orang Quraisy! Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku datang kepada kalian dengan sembelihan.” Kemudian beliau benar-benar melakukan hal itu dengan hadid (besi) yang dengannya Allah memuliakan Islam dan para penganutnya.

 

Insya Allah kita senantiasa mengikuti atsarnya, menempuh manhajnya, menegakkan sunnahnya, dan berperang bersamanya.

وكأي من نبي قاتل معه ربيون كثير فما وهنوا لما أصابهم في سبيل الله، وما ضعفوا وما استكانوا والله يحب الصابرين

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran : 146)

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : “Sesungguhnya keadaan nabi yang berperang bersamanya atau dibunuh bersamanya para pengikutnya yang banyak tidak harus nabi tersebut ikut bersama mereka berada dalam peperangan. Akan tetapi, setiap orang yang mengikuti nabi dan berperang demi tegaknya diennya, sungguh ia telah berperang bersama nabi. Inilah yang dipahami oleh para sahabat. Sebab, sebagian besar peperangan yang mereka lakukan terjadi setelah wafatnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam hingga mereka mampu menaklukkan negeri Syam, Mesir, Iraq, Yaman, ‘Ajam, Romawi, negeri-negeri barat, dan negeri-negeri timur. Pada waktu itu cukup banyak orang yang terbunuh bersamanya. Sesungguhnya orang-orang yang berperang kemudian mereka terbunuh di atas dien para nabi sangat banyak. Ayat ini merupakan pelajaran bagi setiap orang beriman hingga datangnya hari kiamat. Sebab, mereka semuanya berperang bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan di atas diennya meskipun beliau telah meninggal. Mereka ini masuk dalam firman Allah Ta’ala : “Muhammad adalah utusan Allah; dan orang-orang yang bersamanya.” Dan ayat : “Dan orang-orang yang beriman setelahnya dan berhijrah serta berjihad bersama kalian.” Maka, bukan merupakan sebuah syarat bahwa orang yang taat harus menyaksikan orang yang ditaatinya melihatnya.” (Majmu’ Fatawa)

 

Kita katakan dengan terus terang kepada musuh-musuh kita mengenai tujuan kita dan kita beritahukan kepada mereka bahwa apabila pada hari ini kita lemah, maka hal ini bukan berarti kita menghapus kewajiban ini dari perhitungan kita. Sekali-kali tidak! Bagaimana pun juga, kita tidak boleh melakukannya dan kita tidak memiliki landasan untuk melakukannya. Oleh karena itu, kita berdo’a kepada Allah siang dan malam agar Ia menguatkan kita untuk menebas leher-leher mereka dan leher-leher musuh-musuh dien ini. Setiap gerak, diam, dan nafas kita adalah dalam rangka i’dad untuk menghadapi mereka.

 

Mereka benar-benar mengetahui hal itu dan juga mengetahui penyimpangan dan kesalahan para aktivis dakwah yang minder dan kalah yang berusaha dengan segala kesia-siaan untuk memisahkan kitab dari hadid (besi). Mereka mengetahui kebodohan aktivis dakwah tersebut terhadap hakikat dien ini dan bahwa ia telah menyimpang dari perintah syar’i Allah dan sunnah kauniyah-Nya dan tidak memahami dienul Islam.

 

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Dan dienul Islam, hendaknya pedang mengikuti kitab. Apabila telah muncul ilmu berdasarkan Al-kitab dan As-sunnah sedangkan pedang mengikutinya, maka urusan Islam akan tegak.” (Al-fatawa 20/393)

 

Ia juga berkata : “Maka tegaknya agama adalah dengan Kitab yang memberi petunjuk dan pedang yang menolong. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong.”

DIEN ITU NASEHAT


Demikianlah Rasulullah sholallohu ‘alaihi wasallam berpesan untuk kita, dan inilah yang melatarbelakangi tulisan kami dalam lembaran-lembaran berikut. Kami menulis ini bukan karena tidak ada pekerjaan, dan bukan pula karena ada yang mau membacanya. Kami menulis karena kami merasa ada nasehat yang harus kami sampaikan kepada ikhwah, para aktivis, sebagai satu bentuk partisipasi kami dalam ‘perjalanan’ yang diberkati ini. Perjalanan untuk menegakkan dien dan meninggikan panji-panjinya.
Kami, sebagaimana dikatakan oleh sahabat yang mulia, ‘Abdullah bin Rawahah r.a, “Kita tidak memerangi manusia dengan bilangan, kekuatan, dan jumlah kita. Kita hanya memerangi mereka karena dien ini. Dien yang Allah memuliakan kita dengannya.”

Oleh karena itu, lazim bagi kita untuk berpegang teguh kepada dien ini melebihi seorang muqatil (tenaga tempur) yang memegang erat senjatanya di tengah kecamuk pertempuran. Sebab muqatil, kapan pun ia mengendorkan pegangannya, sirnalah harapannya untuk mendapatkan kemenangan, bahkan sirna pulalah segala asanya untuk tetap hidup. Demikian pula halnya dengan ‘ahluddiin’, kapan pun mereka lengah di dalam diennya -meski sesaat- semua citanya untuk menggapai kemenangan akan lenyap.
Sesungguhnya Allah hanya menolong orang-orang yang taat, ikhlas, berpegang teguh, dan bertawakkal kepada-Nya. Allah berfirman

وَلَيَنصُرَنَّ اللهُ مَن يَنصُرُهُ

Dan sesungguhnya Allah, benar-benar akan menolong orang-orang yang menolong (dien)-Nya. (al-Hajj : 40)

Maka barang siapa tidak ‘menolong’ Rabb-nya, Dia pun tidak akan menolongnya. Barangsiapa bermaksiat kepada-Nya, Dia akan meninggalkannya, membiarkannya bersama musuh-musuhnya.
‘Umar al-Faruq r.a pernah berkata, “Kala kita tidak mampu mengalahkan musuh dengan ketaatan kita niscaya mereka akan mengalahkan kita dengan kekuatan mereka.”

Ternyata ‘Umar r.a. lebih mengkhawatirkan dosa-dosa pasukannya daripada kekuatan musuhnya. Inilah bukti kesempurnaan pemahaman dan kebrilianan akal beliau.

Betapa kita ~di saat merasakan suasana ini~ ingin agar suasana ini senantiasa hadir di hati dan akal kita, tidak meninggalkan kita selama-lamanya.

Betapa kita ingin mengerti ~dengan ilmu yakin~ bahwa Allah telah menjamin kemenangan dien-Nya dan akan selalu menjaganya .. Maka barangsiapa selalu bersama Islam ke mana pun ia berputar, hati dan anggota badannya senantiasa taat kepada Allah, pastilah Allah akan menolongnya .. Barangsiapa menyimpang dari jalan yang lurus, pertolongan pun akan menjauh darinya.

Allah Mahatahu lagi Maha Bijaksana.. Allah Mahatahu. Artinya tidak ada sesuatu pun dari urusan kita yang tersembunyi bagi-Nya. Dia Mahatahu akan batin dan niat kita seperti halnya Dia Mahatahu akan lahir dan amal kita. Dia Maha Bijaksana. Artinya Dia akan selalu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia tidak akan memberikan anugerah berupa penjagaan dan pertolongan kepada siapa yang tidak berhak mendapatkannya.. Dan orang yang tidak berhak atas anugerah ini, sungguh tiada bagian untuknya selain keterpurukan.. Na’udzu billah, kita memohon perlindungan kepada Allah dari kehinaan di hadapan-Nya.

Nafsu terus memberontak, setan terus menggoda, dunia terus berhias, dan hawa sering sekali memenangkan pertempuran.

Mereka semua telah hadir. Mereka ingin menghalangi antara seorang hamba dengan kemenangan dan kejayaannya di dunia dan di akhirat.

Mereka berempat benar-benar musuh utama kita. Jika kita mampu menguasainya (nafsu, setan, dunia, dan hawa) niscaya akan lebih mudah bagi kita untuk menguasai musuh-musuh kita dari kalangan manusia..

Sebaliknya, jika kita dikuasai oleh keempatnya, sungguh antara kita dan musuh-musuh kita tiada lagi bedanya, sama-sama bermaksiat kepada Allah .. sementara mereka masih memiliki sesuatu yang lain; kekuatan yang lebih daripada yang kita miliki.. dan jika sudah demikian, kita akan kalah menghadapi mereka.

Kalimat-kalimat yang kami tulis di sini merupakan nasehat untuk membantu di dalam usaha mengalahkan nafsu, setan, dunia, dan hawa..

Wahai saudaraku, yang kami inginkan hanyalah menunjukkan yang baik … untuk menutup satu celah yang kami lihat… atau menambahkan yang kurang… atau menunjukkan yang makruf.

Peran kami adalah … berkata-kata dan memberi nasehat.
Celah tidak akan pernah tertutup, kekurangan tidak akan pernah hilang, dan yang makruf tidak akan pernah terwujud… kecuali dengan amal.

Di sinilah peranmu wahai saudaraku, peran kita semua.
Tentu saja, kata-kata bukan sekedar untuk diucapkan, tetapi ia untuk dipahami … dan diamalkan.

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللهُُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَسَتُرَدُّوْنَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat perkerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan”. (at-Taubah : 105)
oleh Dr najih Ibrahim.. dalam buku Kepada Aktivis Muslim..

PENYAKIT HATI DAN OBAT PENAWARNYA


Oleh: Luqman Hakim, M.HI.
KHUTHBAH PERTAMA:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Hadirin Sidang Jum’at yang Terhormat
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ.

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, apabila ia baik maka seluruh tubuh akan baik, dan apabila rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah ia adalah hati.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya perkara hati merupakan perkara yang besar, sehingga Allah menurunkan kitab suciNya untuk memperbaiki hati

Hal yang menekankan pentingnya memperhatikan hati adalah bahwa Allah menjadikan hati -sesuai hikmah dan ilmuNya- sebagai tempat bagi cahaya dan petunjukNya. Hati adalah tempat ilmu pengetahuan. Melalui hati, manusia dapat mengenal Rabbnya. Dengan hati, manusia mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Dengan hati, manusia dapat menghayati ayat-ayat syar’iyahNya. Allah berfirman,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur`an ataukah hati mereka terkunci.” (Muhammad: 24).

Ayat ini menjelaskan bahwa hati manusia apabila terkunci, maka ia tidak akan dapat memperhatikan dan merenungkan ayat-ayat syar’iyahNya.

Dengan hati pula manusia dapat merenungkan ayat-ayat kauniyah, yaitu ciptaan Allah yang ada di jagad raya ini dan yang ada di dalam jiwa.
Allah Ta’ala berfirman,

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mem-punyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempu-nyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46).

Melalui ayat ini, Allah menjelaskan bahwa yang menjadi san-daran di dalam mengambil pelajaran terhadap ayat-ayat kauniyah Allah dalam jagat raya dan dalam jiwa adalah kecerdasan dan kesadaran hati.

Dan hal lain yang menekankan pentingnya menjaga hati ada-lah bahwa hati merupakan kendaraan yang digunakan seseorang untuk dapat menempuh perjalanan menuju akhirat.

Faktor penyebab lain yang menekankan pentingnya menjaga hati adalah bahwa salah satu sifat hati yang utama adalah mudah berbalik dan suka berubah. Hati sangat mudah berubah, gampang berbuat, dan tidak menentu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَشَدُّ انْقِلَابًا مِنَ الْقِدْرِ إِذَا اجْتَمَعَتْ غَلْيًا.

“Sungguh, hati anak Adam itu sangat (mudah) berbolak-balik dari-pada bejana apabila ia telah penuh dalam keadaan mendidih.” (HR. Ahmad).

Hadirin Sidang Jum’at yang Terhormat
Pada kesempatan kali ini khatib akan membahas tema penyakit hati dan obat penawarnya.

A. PENYAKIT HATI
1. Syirik

Syirik adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Orang yang syirik adalah orang yang bergantung kepada selain Allah. Bergantung kepada selain Allah adalah perusak hati yang paling besar. Tidak ada perusak yang lebih berbahaya daripada pe-rusak hati ini, dan tidak ada yang memutuskan kemaslahatan dan kebahagiaan orang melainkan perusak ini. Karena bila seseorang bergantung kepada selain Allah, maka Allah Ta’ala akan mewakilkan urusannya kepada sesuatu yang menjadi tempat dia bergantung tersebut, dan Dia menghinakannya karena tindakannya tergantung kepada selainNya itu. Dia telah kehilangan kesempatan memperoleh tujuannya dari Allah Ta’ala karena dia telah bergantung kepada selain Allah, dan karena dia telah berpaling kepada selainNya. Sehingga bagiannya untuk Allah tidak diterima, sedangkan angan-angannya untuk selain Allah tidaklah sampai.
Allah Ta’ala berfirman,

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لِّيَكُونُوا لَهُمْ عِزّاً. كَلَّا سَيَكْفُرُونَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُونُونَ عَلَيْهِمْ ضِدّاً

“Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak. Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.”(Maryam: 81-82).

Maka orang yang paling terlantar adalah orang yang bergantung kepada selain Allah, karena sesuatu yang hilang darinya berupa kemaslahatan, kebahagiaan dan kesenangannya adalah lebih besar daripada sesuatu yang dia dapatkan dari ketergantungannya kepada selain Allah. Bahkan sesuatu yang dia dapatkan itu pun nampak akan hilang dan punah.

Hadirin Rahimakumullah
Perumpamaan orang yang bergantung kepada selain Allah Ta’ala adalah laksana orang yang berlindung dari panas dan dingin di bawah sarang laba-laba yang merupakan bangunan yang paling rapuh dan lemah.

Secara global, pondasi dan kaidah dasar kemusyrikan yang di atasnya dibangun sesuatu adalah sikap bergantung kepada selain Allah, dan orang yang melakukannya mendapatkan celaan dan keterlantaran, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

لاَّ تَجْعَل مَعَ اللّهِ إِلَـهاً آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُوماً مَّخْذُولاً

“Janganlah kamu adakan tuhan yang lain di samping Allah, agar ka-mu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (Al-Isra`: 22).

2. Mengikuti Nafsu dan Melakukan Dosa
Syahwat dan dosa merupakan penyebab kedua kerusakan hati. Allah Ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa naf-sunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasar-kan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya Maka siapa-kah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah: 23).

Semua dosa, baik yang besar maupun yang kecil itu merusak hati dan mengeruhkan kebersihannya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan agar semua dosa ditinggalkan. Maka setiap orang yang beriman wajib meninggalkan dosa yang lahir maupun yang batin, apalagi dosa-dosa hati sangat berbahaya dan mematikan. Di antara dosa hati yang tersembunyi adalah riya’ yang dapat meru-sak amal, ujub yang bisa menjadikan amal bagai abu yang bertebaran, dan dengki yang dapat menghapus pahala-pahala kebajikan dan memperbanyak dosa.

Hadirin Sidang Jum’at yang Terhormat
Imam Ibnul Qayyim memasukkan beberapa hal ke dalam kelompok nafsu yang merusak hati, yaitu, terlalu banyak bergaul, terlalu banyak terbang dalam angan-angan, terlalu kenyang, dan terlalu banyak tidur.

Terlalu Banyak Bergaul
Pengaruh-pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh terlalu ba-nyak bergaul dengan orang-orang yang tidak baik adalah penuhnya hati oleh asap nafas manusia hingga ia menjadi hitam, menyebab-kannya terpecah-belah dan bercerai-berai, gundah gulana dan ter-tekan, karena menanggung beban yang tidak mampu ditanggungnya berupa rekan-rekan yang buruk, kelalaiannya dari perhatian terhadap maslahat-maslahatnya sendiri, terlalu sibuk dengan rekan-rekan dan masalah-masalah mereka, dan pikirannya terpecah di lembah tuntutan dan kehendak mereka.

Betapa banyak akibat yang ditimbulkan oleh terlalu banyak bergaul dengan orang-orang yang tidak karuan, seperti turunnya hukuman, dan menolak datangnya kenik-matan. Ia menurunkan ujian, dan membatalkan anugerah, dan ia menjerumuskan ke dalam bahaya yang besar.

Perangai terlalu banyak bergaul terjadi, karena cinta terhadap dunia untuk melampiaskan keinginan individu terhadap lainnya, bila hakikatnya tersingkap maka ia akan berubah menjadi permu-suhan, kemudian orang yang terlalu banyak bergaul akan menyesal, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلا.ً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً.

“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkanku dari al-Qur`an ketika al-Qur`an itu telah datang kepadaku.” (Al-Furqan: 27-29).

Itulah kondisi semua orang yang berserikat dalam suatu tujuan. Mereka saling menyayangi selama saling tolong menolong dalam usaha mencapainya. Bila tujuan itu tidak tercapai maka timbullah penyesalan, kesedihan, dan rasa sakit. Akhirnya cinta itupun berbalik menjadi kebencian, satu sama lain saling melaknat dan menyakiti, sehingga tujuan itupun berubah menjadi kesedihan dan siksaan, sebagaimana yang dapat disaksikan di dunia ini berupa kondisi orang yang berserikat dalam kehinaan bila mereka telah dihukum dan disiksa. Jadi setiap orang yang saling tolong-menolong dan menyayangi dalam kebatilan pasti akan beralih menjadi permu-suhan dan kebencian.

Hadirin Rahimakumullah
Terlalu Banyak Terbang dalam Angan-angan
Perusak hati selanjutnya adalah, ‘terlalu banyak berangan-angan’ yang mana ia akan menjadi bencana bagi seorang yang berilmu. Sebagaimana dinyatakan bahwa berangan-angan adalah modal bagi orang yang bangkrut, dan kendaraannya menuju janji-janji setan berupa khayalan-khayalan yang mustahil dan kebohongan. Angan-angan kosong dan khayalan-khayalan yang batil akan selalu bermain-main dengan para pengendaranya, sebagaimana anjing bermain-main dengan daun kering. Angan-angan kosong dan kha-yalan-khayalan yang batil adalah barang berharga bagi orang yang berjiwa hina, murah dan rendah.

Pemilik kemauan yang tinggi dan cita-cita yang mulia meletak-kan harapannya pada ilmu, iman, dan amal yang mendekatkan diri-nya kepada Allah Ta’ala. Harapan orang yang mulia ini adalah iman, cahaya, dan hikmah. Sedangkan angan-angan bagi mereka adalah tipu daya dan kebohongan.

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memuji orang yang berharap kebaikan, bahkan dalam beberapa hal RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam menjanjikan pahala baginya seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut. Seperti bila ada orang yang berharap begini, “Bila aku memiliki harta, maka aku akan beramal seperti Fulan, yang mengamalkan hartanya karena takwa kepada Tuhannya. Dia menjalin silaturahim dengannya dan mengeluarkan hak fakir miskin darinya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallammenyatakan,

هُمَا فِي الْأَجْرِ سَوَاءٌ.

“Kedua orang tersebut sama pahalanya.” (HR. Ibnu Majah).

Hadirin Sidang Jum’at Rahimakumullah
Terlalu Kenyang
Perkara perusak hati berikutnya adalah makanan. Perusak hati dari makanan ada dua macam: Pertama, sesuatu yang merusak dari dirinya sendiri dan dzatnya sendiri, yaitu perkara-perkara yang diharamkan. Yang pertama ini juga terbagi dua: Perkara yang haram karena hak Allah Ta’ala, seperti bangkai dan darah, daging babi, hewan buas yang memiliki taring, burung yang memiliki cakar. Dan ada perkara yang diharamkan karena hak hamba, seperti: Harta curian, harta dari hasil ghasab, dan harta rampasan serta harta yang diambil dari pemiliknya tanpa keridhaan, baik dengan kekuatan atau dengan cara yang tercela. Kedua, sesuatu yang merusak diri seseorang karena melebihi kadar dan batasnya, seperti berlebihan dalam perkara yang halal, terlalu kenyang, yang menyebabkan seseorang tidak bersemangat dalam beribadah, dan dia sibuk dengan urusan perut. Bila dia terlalu banyak makan, maka dia akan sibuk dengan urusan untuk menjaga kesehatan dan mengurangi lemak dan kolesterol, menderita karena terlalu gemuk, dan kekuatan syahwat lebih dominan. Setan pun menjalar di dalamnya karena dia menjalar lewat darah manusia. Maka puasa dapat menyempitkan penyebarannya dan menutup jalannya. Sedangkan kondisi kenyang menjadikan setan leluasa dan lebih luas bergerak. Dan barangsiapa yang makan banyak, minum banyak, maka dia banyak tidur, sehingga dia pun merugi sangat banyak. Dalam hadits yang masyhur disebutkan,

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنِهِ، بِحَسْبِ الْآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ.

“Tidak ada yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih buruk dari-pada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang menguatkan otot-ototnya, namun bila dia harus memakan makanan yang banyak, maka hendaklah dia mengatur sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk nafas-(nya).” (HR. at-Tirmidzi).

Bila seorang muslim terjerumus dalam ‘terlalu banyak makan’, maka dia pun tidak akan selamat dari bencana ‘terlalu banyak tidur’, karena keduanya merupakan suatu kelaziman.
Terlalu Banyak Tidur
Sesungguhnya ‘terlalu banyak tidur’ adalah termasuk perusak hati karena ia bisa mematikannya, memberatkan badan, menyia-nyiakan waktu, mewariskan banyak kealfaan, kelalaian, dan kemalasan. Di antara ‘perkara terlalu banyak tidur’ ini ada yang tergolong sangat dibenci, dan ada yang berbahaya dan tidak bermanfaat bagi jasmani. Dan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur pada saat sangat dibutuhkan oleh tubuh. Tidur di awal malam adalah lebih terpuji dan lebih bermanfaat daripada tidur di akhir malam. Tidur di tengah hari lebih bermanfaat daripada tidur di salah satu ujungnya. Dan setiap tidur yang lebih mendekat ke salah satu ujung siang hari, maka manfaatnya semakin berkurang dan bahayanya semakin besar, apalagi tidur di waktu Ashar, dan tidur sehabis Shubuh (tidaklah dilakukan) melainkan oleh orang-orang yang bergadang malam.
Dan di antara tidur yang makruh adalah tidur antara sesudah shalat Shubuh hingga terbit matahari, karena waktu ini adalah waktu yang sangat menguntungkan (untuk mengumpulkan rizki). Dan menurut para peniti jalanNya, bahwa ‘berjalan-jalan’ setelah Shubuh memiliki keistimewaan yang sangat besar. Bahkan bila orang ber-jalan sepanjang malam, maka keistimewaannya tidak akan sama dengan ‘berjalan-jalan’ sehabis shubuh hingga matahari terbit, karena ia adalah awal siang dan pembukanya, waktu turunnya rizki, terjadi-nya pembagian jatah, dan terbukanya keberkahan. Dari waktu ini-lah, siang beranjak. Dan hukum lainnya mengikuti hukum waktu-waktu tersebut di atas, dan sebaiknya ‘tidur di pagi hari’ tidaklah dilakukan kecuali karena terpaksa.
Secara umum, tidur yang paling seimbang dan bermanfaat adalah tidur di pertengahan awal malam, sampai seperenam terakhir. Dan kadarnya delapan jam. Inilah tidur yang paling seimbang menurut apara dokter. Dan bila tidurnya lebih atau kurang maka akan berpengaruh sesuai dengan kdarnya.

B. OBAT PENAWAR HATI
Hadirin Sidang Jum’at yang Terhormat

Obat hati yang pertama adalah al-Qur`an al-Karim. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”(Yunus: 57).

Al-Qur`an adalah pelajaran yang paling menyentuh hati bagi orang-orang yang berakal atau mau mendengar. Al-Qur`an merupakan obat yang paling mujarab bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam dada dan hati. Al-Qur`an mengandung penawar bagi penyakit syahwat, syubhat, dan lalai.

Ibnul Qayyim pernah berkata, “Inti penyakit hati adalah penyakit syubhat dan nafsu syahwat. Sedangkan al-Qur`an adalah penawar bagi kedua penyakit itu, karena di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan yang qath’i yang membedakan yang haq dan yang batil, sehingga penyakit syubhat akan hilang. Adapun al-Qur`an memberikan penawar terhadap penyakit nafsu syahwat, karena di dalam al-Qur`an terdapat hikmah, nasihat yang baik, mengajak zuhud terhadap dunia, dan mengutamakan kehidupan akhirat.

Di antara hal penting bagi setiap orang yang ingin menyelamatkan dan memperbaiki hatinya adalah hendaknya dia mengetahui bahwa cara berobat dengan al-Qur`an itu tidak bisa hanya sekedar dengan membaca al-Qur`an, melainkan harus memahami dan mengambil pelajaran dari berita-berita yang terkandung di dalamnya dan mematuhi hukum-hukumnya.

Hadirin Sidang Jum’at yang Terhormat
Obat kedua adalah cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah merupakan terapi yang paling mujarab bagi hati. Apalagi cinta itu merupakan akar ibadah dan pengabdian. Allah Ta’laa berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapan orang-orang yang beriman, mereka amat sangat cinta kepada Allah.” (Al-Baqarah: 165).

Ketiga, selalu mengingat Allah Ta’ala dalam setiap keadaan, dengan lisan, hati, dan perbuatan. Jadi, bagian yang diperolehnya dari cinta adalah sesuai dengan kadar dzikirnya.

Keempat, mengutamakan cinta Allah Ta’ala kepada sesuatu daripada cinta diri sendiri kepada sesuatu yang lain yang didominasi oleh hawa nafsu, dan berusaha mencapai cinta kepada apa yang dicintai oleh Allah Ta’ala walaupun jalur menuju ke sana sangat sulit.

Kelima, menelaah asma dan sifat Allah Ta’ala dengan hati, mem-persaksikannya, dan mengenalnya. Hati terus-menerus menelaah hal itu di dalam medan olah makrifah ini. Maka barangsiapa yang mengenal Allah Ta’ala dengan nama-namaNya dan sifat-sifatNya serta perbuatan-perbuatanNya, maka dia pasti mencintaiNya.

Keenam, menyaksikan kebaikan, ihsan, dan tanda kekuasaan Allah Ta’ala, serta nikmat-nikmatNya yang lahiriyah ataupun batiniyah. Karena semua itu membangkitkan cinta kepada Allah Ta’ala.

Ketujuh, yaitu bermunajat kepadaNya, membaca kitabNya, menghadirkan hati di hadapanNya, beradab dengan adab ibadah dan penghambaan di hadapan Allah Ta’ala, kemudian diakhiri dengan beristighfar dan bertaubat.

Kedelapan, bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah Ta’ala dan orang-orang yang jujur, kemudian memetik buah perkataan mereka yang terbaik sebagaimana memetik buah yang terbaik dan paling ranum. Dan Anda tidak berbicara melainkan bila pembica-raan itu memiliki kemaslahatan, dan Anda mengetahui pasti bahwa pernyataan Anda menambah kebaikan kondisi Anda dan manfaat bagi orang lain. .

فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah yang kedua

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Hadirin yang Berbahagia!
Menurut khatib, uraian di atas telah menjelaskan secara gam-blang bahwa ibadah hati adalah pundamen utama yang mana semua bentuk ibadah ditegakkan di atasnya. Maka dari itu, kebaikan jasad sangat tergantung kepada kebaikan hati. Apabila hati baik dengan ketakwaan dan iman, maka seluruh jasad menjadi baik untuk me-lakukan ketaatan dan kepatuhan.

Jadi, iman seseorang tidak akan lurus dan tidak akan baik kecuali jika hatinya lurus dan baik. Maka dari itulah, Allah Yang Maha Mengetahui menggarisbawahi bahwa keselamatan di hari kiamat kelak sangat tergantung kepada keselamatan, kebersihan, dan kebaikan hati. Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ{88} إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ{89{

“Pada hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, ke-cuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara`: 88-89).
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ.

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku berpegang teguh pada agamaMu.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Akhirnya, marilah kita berdoa kepada Allah Ta’ala, agar menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang mempunyai hati yang selamat.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.

(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta)

MENGHINDARI SEBAB-SEBAB PERPECAHAN


Oleh: Abdurrahman Nuryaman

KHUTBAH PERTAMA:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Di hari yang mulia ini, mari kita tingkatkan takwa kita kepada Allah. Bertakwalah kepada Allah, karena sesungguhnya bekal yang paling baik adalah takwa.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Salah satu kewajiban kita kaum Muslimin adalah bersatu dan menghindari perpecahan. Dan khutbah kita kali ini mencoba meng-ingatkan kita kembali akan bahaya berpecah-belah dan berselisih dalam Agama. Berikut beberapa sebab yang senantiasa menimbul-kan perpecahan, dengan harapan semoga Allah membimbing kita untuk bersatu di bawah al-Qur`an dan as-Sunnah dan berusaha meninggalkan segala hal yang dapat menimbulkan perpecahan.

Perpecahan dalam bahasa al-Qur`an dan as-Sunnah adalah الْإِفْتِرَاقُ, yang berasal dari akar kata فَرَقَ yang makna dasarnya adalah lawan dari bersatu atau berkumpul. Perhatikan Firman Allah Ta’ala,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai (berpecah belah).” (Ali Imran: 103).
الْإِفْتِرَاقُ (perpecahan) yang kita maksud di sini adalah: Pertama, perpecahan dalam Agama, dan kedua, menyelisihi jamaah kaum Muslimin, yaitu umat Islam secara umum pada zaman Nabi a, pada zaman sahabat, yang mana mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan orang-orang yang mengikuti hidayah mereka setelah munculnya perpecahan di tengah umat ini.

Definisi yang paling menyeluruh dari perpecahan yang kita maksud di sini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh asy-Syaikh Nashir al-Aql, “Perpecahan ialah: Keluar dari as-Sunnah dan al-Jama’ah dalam suatu pokok atau lebih dari pokok-pokok dasar Agama yang bersifat I’tiqadiyah atau amaliyah, atau yang berhubungan dengan kemaslahatan besar umat ini, dan termasuk di dalam-nya adalah menentang pemimpin kaum Muslimin yang sah dengan kekuatan senjata.” (Muqaddimat Fi al-Ahwa` wa al-Iftiraq wa al-Bida’).

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Berpecah, atau bercerai-berai, atau berselisih dalam Agama adalah suatu yang sangat buruk, tercela, dan berbahaya. Allah dan RasulNya telah memperingatkan dengan sangat jelas di dalam al-Qur`an dan as-Sunnah.
Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنَّ هَـذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيماً فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan (memecah belah) kamu dari jalanNya.” (Al-An’am: 153).

Imam Mujahid 5 berkata,” وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ (dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain), maksudnya adalah, bid’ah, syubhat, dan kesesatan.” (Tafsir Mujahid hal. 227).
Allah Ta’ala juga berfirman,

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali Imran: 105).

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan dengan sabda beliau,

اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللّهِ، مَنْ هُمْ؟ قَالَ: الْجَمَاعَةُ.

“Kaum Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu go-longan, tujuh puluh golongan di dalam neraka dan hanya satu golo-ngan di dalam surga. Kaum Nasrani berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, tujuh puluh satu golongan di dalam neraka, dan hanya satu golongan di dalam surga. Dan demi Dzat yang diri Muhammad ada di TanganNya, umatku ini benar-benar akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, satu golongan di dalam surga dan tujuh puluh dua golongan di neraka.’ Ditanyakan kepada beliau, ‘Siapa mereka (yang masuk surga itu) wahai Ra-sulullah?’ Jawab beliau, ‘Al-Jama’ah.” (HR. Ibnu Majah, no. 3992).

Sampai di sini, bukankah sudah sangat jelas celaka dan bahayanya berpecah belah dalam Agama? Akan tetapi sekalipun demikian, manusia akan terus berpecah, kecuali orang-orang yang dilimpahkan rahmat oleh Allah. Dan demi meraih rahmat Allah inilah, setiap kita harus berusaha menghindari segala macam bentuk perpecahan dan meninggalkan semua macam perselisihan dalam Agama ini. Dan ini dapat kita lakukan dengan berbagai usaha, yang salah satu di antaranya adalah mengenal sebab-sebab perpecahan; tentu untuk kita hindari dan bukan untuk kita ikuti.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Berikut ini adalah sejumlah penyebab yang paling dominan menimbulkan perpecahan dan perselisihan di antara kaum Muslimin.

Sebab Pertama: Mengikuti Hawa Nafsu dalam Beragama.
Hawa Nafsu dalam bahasa Arab berasal dari kata الْهَوَى yang merupakan bentuk ketiga (mashdar) dari kata kerja dasar هَوَى yang bermakna terjatuh dari atas, dan هَوِيَ yang makna dasarnya adalah kecintaan kepada sesuatu dan gandrung kepadanya. Akan tetapi kata ini kemudian mengalami pergeseran makna, sehingga hanya digunakan untuk kecenderungan dan penyelewengan hati terhadap sesuatu yang tidak baik. Dari sini kata hawa nafsu kemudian di-ungkapkan dan digunakan untuk kecenderungan atau keinginan hati yang tercela. Maka para pengikut hawa nafsu artinya adalah, orang yang jauh dari hidayah yang benar dan hanya mengikuti kecenderungan hatinya, dan karena itu ia akan terjatuh dalam ke-hinaan dan kemudian terjatuh ke dalam neraka.

Hawa nafsu adalah penghalang dari jalan Allah. Hawa nafsu adalah penghancur kebaikan. Dan hawa nafsu adalah pengantar kepada segala keburukan. Itulah sebabnya Allah memperingatkan dengan keras terhadap orang-orang yang mengikuti hawa nafsu-nya.
Pertama: Dalam Surat al-Jatsiyah Allah Ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah, maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah: 23).

Ketika menafsirkan ayat ini, sahabat Ibnu Abbas p berkata, “Maknanya adalah, bahwa orang kafir menjadikan apa yang di-inginkan oleh hawa nafsu sebagai agamanya.”

Yang lain mengatakan, “Maknanya, orang tersebut menjadi-kan hawa nafsunya sebagai sesembahannya, maka dia menyembah (mengikuti dan menaati) apa yang diinginkan oleh dirinya.”

Sa’id bin Jubair Rahimahullah mengatakan, “Bangsa Arab dulu biasa menyembah batu, emas, atau perak; maka apabila mereka men-dapatkan sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya (dalam pandangan hawa nafsu mereka) mereka lalu menghancurkannya dan menyembah yang lainnya tersebut.” (Lihat Tafsir Ma’alim at-Tanzil oleh al-Baghawi).

Kedua: Dalam Surat al-Qashash ayat 50, Allah Ta’ala berfirman,

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.”

Ketiga: Dalam Surat an-Najm ayat 23, Allah berfirman tentang orang kafir yang menyembah patung latta dan uzza,

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاء سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ وَلَقَدْ جَاءهُم مِّن رَّبِّهِمُ الْهُدَى

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sungguh telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.”

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang mencela buruknya akibat dari hawa nafsu. Dari sini, maka menjadi jelaslah bahwa sumber kesesatan manusia adalah karena mengikuti hawa nafsunya. Karena itu, apabila kita perhatikan dengan seksama, kita akan mendapati dengan sangat jelas bahwa golongan-golongan sempalan yang sesat yang menyimpang dari jalan yang ditempuh Ahlus Sun-nah Wal Jama’ah; pandangan-pandangan mereka, cara berfikir me-reka dan metodologi yang mereka gunakan, semua adalah bermula dari mengikuti hawa nafsu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sejak awal telah memperingatkan bahaya mengikuti hawa nafsu ini. Di antaranya, beliau bersabda,

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُوْنِكُمْ وَفُرُوْجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْهَوَى.

“Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan akan menimpa kalian adalah syahwat yang menyelewengkan pada perut dan kema-luan kalian, dan hawa nafsu yang menyesatkan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 19274 dari Abu Barzah Radhiyallahu ‘anhu. Al-Haitsami berkata di dalam Majma’ az-Zawa`id, “Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar dan ath-Thabrani, dan para rawinya adalah rawi-rawi hadits-hadits shahih”).

Para figur teladan umat dari kaum Salaf juga telah memperingatkan dari keburukan dan bahaya mengikuti hawa nafsu. Di antaranya: Dari Imam Sufyan ats-Tsauri -salah seorang di antara umat ini yang mendapat gelar Amirul Mukminin dalam ilmu hadits- beliau mengisahkan, “Bahwasanya seorang laki-laki datang kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma lalu berkata kepada beliau, ‘Aku mengikuti keinginan (hawa nafsu)mu’. Maka Ibnu Abbas berkata, ‘Keinginan hawa nafsu semuanya adalah sesat, apa artinya, ‘Saya mengikuti keinginan (hawa nafsu)mu?’.”

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Ciri paling dominan dari orang yang mengikuti hawa nafsu dalam beragama adalah, menyelisihi al-Qur`an dan as-Sunnah.Perhatikan sebagai contoh:

  • Al-Qur`an dan as-Sunnah dengan jelas mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah penutup para nabi, dan tidak akan ada nabi setelah beliau. Akan tetapi Musailamah al-Kadzdzab, lalu Ahmad al-Qadiani, dan lain-lainnya dengan lancang mengaku sebagai nabi. Bahkan kita semua, masyarakat Indonesia beberapa waktu yang lalu telah dikejutkan oleh seorang yang mengaku sebagai rasul utusan Allah setelah bertapa di gunung Salak, Bogor.
  • Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tegas, lugas dan jelas, sejelas matahari, mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat. Akan tetapi masih saja banyak kaum Muslimin yang mengatakan bahwa ada bid’ah yang baik (bid’ah hasanah).
  • Allah dan RasulNya dengan jelas membolehkan poligami. Tetapi sebagian pemikir Muslim dengan lancang berani mengata-kan secara terbuka bahwa poligami adalah suatu kezhaliman atas kaum perempuan.
    Lihat bagaimana hawa nafsu telah membutakan hati mereka untuk menerima Firman Allah dan Sabda Nabi a. Kurang jelaskah ayat-ayat dan hadits-hadits tentang tidak ada nabi setelah Nabi a? Tentang semua bid’ah adalah sesat? Tentang bolehnya poligami? Sama sekali tidak, semua kelancangan yang keluar dari mereka adalah karena mengikuti hawa nafsu.
  • Dan tentu masih banyak hal-hal lain yang tidak mungkin kita sebutkan semuanya dalam khutbah Jum’at yang sunnahnya memang diringkas dan diperpendek.

Jamaah yang Dirahmati Allah
Mengikuti hawa nafsu dalam diri manusia, bisa dalam banyak bentuk, di antaranya adalah mencintai dunia secara berlebihan, yang dapat membutakan mata hati seseorang terhadap tujuan dirinya diciptakan dan dari kebenaran, sehingga kita tidak heran jika ada orang yang mana kebenaran telah jelas di hadapannya, akan tetapi dia menolaknya dengan seribu macam alasan. Marilah kita renungi perumpamaan yang Allah wahyukan untuk kita semua. Allah Ta’ala berfirman,

وَالأَنْعَامُ حَتَّىَ إِذَا أَخَذَتِ الأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلاً أَوْ نَهَاراً فَجَعَلْنَاهَا حَصِيداً كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِالأَمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah se-perti air (hujan) yang kami turunkan dari langit, lalu karena air itu tumbuhlah dengan subur tanaman-tanaman bumi, di antara-nya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apa-bila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) lak-sana tanaman-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” (Yunus: 24).

Mengikuti hawa nafsu juga bisa dalam bentuk mencintai kedudukan terpandang. Perhatikanlah ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ.

“Tidaklah dua ekor serigala yang lapar yang dibiarkan terhadap seekor domba lebih berbahaya daripada bahaya keinginan keras se-seorang terhadap harta dan kedudukan terpandang terhadap Agamanya.”(Diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa`i dan at-Tirmidzi, dan at-Tirmidzi berkata, “Hasan shahih.”).

Sampai di sini, maka menjadi jelaslah bahwa hawa nafsu sama sekali tidak memiliki tempat dalam beragama. Beragama adalah al-Qur`an dan as-Sunnah dan wajib diambil berdasarkan manhaj as-Salaf ash-Shalih, karena jalan merekalah yang diridhai oleh Allah dan dinyatakan selamat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebab Kedua: Jahil Akan Islam Yang Benar.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Kejahilan terhadap Agama adalah sumber segala kesesatan, awal dari penyimpangan, dan sebab dari terjerumusnya banyak kaum Muslimin kepada jalan yang salah. Seandainya hati dan fikir-an seorang Muslim telah diisi cukup dengan Agama yang benar, maka tidak mungkin akan mengikuti seorang pendusta yang mengaku sebagai rasul setelah NabiShallallahu ‘alaihi wasallam, atau mengaku sebagai imam mahdi, atau mengaku sebagai titisan Jibril. Kebohongan mereka itu sesungguhnya sudah sangat jelas, lebih jelas dari matahari, tapi kenapa masih ada saja yang percaya? Kenapa masih ada yang mau disuruh berbai’at untuk menjadi pengikut? Sebabnya adalah karena mereka jahil dan tidak mengerti Islam dengan benar. Dan di sini perlu kami ingatkan bahwa khutbah ini bukan untuk menghujat seseorang atau komunitas tertentu. Demi Allah, kita semua berkumpul di sini, di rumah Allah ini dalam rangka saling memberi nasihat sesama Muslim.

Jahil terhadap Agama adalah sebab dari segala malapetaka dan musibah yang menimpa manusia. Kejahilan adalah musuh bagi seseorang sebelum dia menjadi musuh bagi orang lain.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Ada tiga bentuk kejahilan:
Pertama, kosongnya hati dan fikiran dari ilmu, dan inilah yang pokok. Bila ada seorang Muslim yang tidak mengetahui bahwa tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketidaktahuan ini akan sangat berpotensi menyebabkan orang yang bersangkutan mempercayai seorang pembohong yang mengaku sebagai nabi, misalnya.

Kedua, meyakini sesuatu secara terbalik dari yang sebenarnya. Ini banyak terjadi di tengah kaum Muslimin, karena salahnya informasi ilmu yang diterima seseorang. Dan orang yang sudah terlanjur ditempa oleh suatu yang salah, maka akan sangat sulit untuk dirubah.

Dan ketiga, melakukan sesuatu yang bertentangan dengan yang sebenarnya; baik didasari oleh keyakinan yang benar atau keyakinan yang salah.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Beberapa bentuk kejahilan yang tersebar di tengah masyarakat berikut ini mudah-mudahan memperjelas keyakinan kita bahwa kejahilan harus diperangi dengan segala daya dan usaha kita sebagai hamba Allah.
Pertama: Adanya orang-orang yang sebenarnya tidak berilmu yang memberikan fatwa dan mendakwahi orang.

Tentang ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan kita umatnya. Sabda beliau,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ؛ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الْأَمِيْنُ، وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيْلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: الرَّجُلُ التَّافِهُ يَنْطِقُ فِي أُمُوْرِ النَّاسِ.

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun (panjang) yang penuh dengan tipuan; pendusta dianggap jujur, orang yang jujur justru dianggap pendusta, pengkhianat dianggap amanah dan justru orang yang amanah dianggap pengkhianat, dan ar-Ruwaibidhah berbicara.” Ditanyakan kepada beliau, “Apa itu ar-Ruwaibidhah?” Jawab beliau, “Orang yang jahil (bodoh dan rendah) berbicara tentang urusan-urusan orang banyak’.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 7852; dan Ibnu Majah no. 4036. Dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا.

“Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba(Nya), akan tetapi Allah mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama, sampai ketika Allah tidak menyisakan seorang ulama pun, orang-orang memilih para pemimpin yang jahil (tentang Agama), maka (ketika) mereka ditanya, mereka lalu memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan (orang banyak).”

Dari kedua hadits ini jelas bahwa kaum Muslimin tidak ditimpa musibah kesesatan dan penyimpangan, melalui para ulama mereka, justru musibah penyimpangan itu terjadi ketika para ulama telah wafat. Apabila orang-orang jahil yang tidak mengerti dengan benar Agama ini sudah dianggap sebagai kyai, maka jangan heran kalau ada kyai yang berani lancang mengatakan, “Semua agama itu sama”.

Kedua: Jauhnya ikatan antara ulama dengan pada da’i (ustadz-ustadz juru dakwah)

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Masalah ini harus kita cermati dengan baik, kita kaum Muslimin adalah umat yang satu, tidak dibatasi oleh negara, bangsa, suku maupun ras, artinya ulama Arab Saudi misalnya, apabila oleh para ulama, mereka memang telah meraih tingkatan para ulama, maka kita kaum Muslimin di mana pun harus menjadikan mereka sebagai rujukan.

Apabila para da’i dan ustadz telah jauh dari para ulama, maka dakwah Islam yang mereka usung pasti akan terjatuh di dalam gelapnya kejahilan dan akan menjadi semrawut. Seorang ustadz dan seorang da’i kepada Allah, tidak boleh hanya didasari karena pandai bicara, atau karena setiap hari membaca tidak kurang dari empat koran harian nasional, atau rajin membaca majalah. Seorang da’i harus mengerti esensi ajaran Islam. Dan karena itu para da’i dan ustadz harus senantiasa dekat dengan para ulama, menggali ilmu dan bahkan mendapat teguran oleh para ulama. Jika di dalam negeri kita melihat tidak memadai, maka kita memiliki ulama-ulama besar di Arab Saudi misalnya, yang telah diakui, untuk kita jadikan rujukan.

Ketiga: Menyelisihi Manhaj Salaf

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Manhaj Salaf adalah manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah pengikut Islam yang benar, yang di-sebut oleh Nabi a dengan ath-Tha`ifah al-Manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan). Ahlus Sunnah Wal Jama’ah bukan salah satu kelompok sempalan (hizbiyah) dalam Islam, yang menga-jak untuk mengikuti organisasi tertentu, orang tertentu, atau per-gerakan tertentu. As-Sunnah adalah apa saja yang bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, baik berupa ucapan, perbuatan, taqrir (sikap setuju), atau-pun sifat. Dan al-Jama’ah adalah jamaah para sahabat Nabi dan generasi-generasi sesudahnya yang mengikuti manhaj mereka.

Karena itu, maka sangat keliru apabila ada di antara kaum Muslimin yang memiliki persepsi bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah salah satu golongan selain Jahmiyah, Mu’tazilah, atau Syi’ah. Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah Islam yang benar yang dijanjikan mendapat pertolongan dan kemenangan oleh Allah Ta’ala.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Mengapa seorang Muslim harus mengikuti Manhaj Salaf?
Pertama: Karena hanya as-Salaf ash-Shalih yang diridhai Allah secara langsung. Perhatikan Firman Allah Ta’ala,

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100).

Kedua: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُمَّ يَجِيْءُ مِنْ بَعْدِهِمْ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَتُهُمْ أَيْمَانَهُمْ وَأَيْمَانُهُمْ شَهَادَتَهُمْ.

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian orang-orang yang menyusul mereka (generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang menyusul mereka (generasi tabi’it tabi’in), kemu-dian setelah mereka itu datanglah suatu kaum yang kesaksian mereka mendahului sumpah mereka dan sumpah mereka mendahului kesak-sian mereka.” (Diriwayatkan oleh Ahmad no. 3583, al-Bukhari no. 2652, dan Muslim no. 2533).

Dua dalil ini begitu jelas menunjukkan bagi orang yang memiliki bashirah, bahwa mengikuti manhaj Salaf adalah suatu keniscayaan. Generasi merekalah yang mengamalkan Islam dengan totalitas yang paling sempurna. Semua tuntutan Islam mereka jalankan dengan penuh keimanan; mereka beriman dengan sebenarnya, mereka hijrah kepada Allah dan RasulNya, mereka berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka, dan mereka berdakwah ke berbagai negeri hingga Islam sampai ke ujung dunia.

Karena itu, salah satu kewajiban kita kaum Muslimin, adalah mengenali bentuk-bentuk riil realita yang terjadi di tengah umat, yang bertentangan dengan manhaj as-Salaf ash-Shalih, dengan ha-rapan dapat kita hindari dan kita tinggalkan.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Mudah-mudahan khutbah ini dapat menyadarkan kita kembali untuk bersatu di bawah bendera Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan meninggalkan segala sesuatu yang dapat membuat kita terkotak-kotak, dan kemudian berselisih dan berpecah belah.
Bersatu dan berjamaah adalah rahmat, sedangkan berselisih dan berpecah belah adalah azab.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ.

KHUTBAH KEDUA:

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ إِلهُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدُ الْأَمِيْنُ. عِبَادَ اللهِ ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.

Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah
Jangan lupa untuk bershalawat atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai Hari Kiamat nanti. Allah telah mengingatkan ini di dalam al-Qur`an. FirmanNya,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab: 56).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
. للَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ، إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا، إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَعَلَيْكَ الْبَلَاغُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi ke-2, Darul Haq Jakarta).

kapan antum nikah….? tunggu apa lagi…?


itulah pertanyaan yang sering ditujukan kepada anak2 muda… bahkan tak kalah menariknya ditujukan kepada para aktivis islam..

Nikah adalah akad yang terjadi antara seorang lelaki dengan seorang wanita yang menjadikan mereka berdua halal untuk melakukan hubungan suami-isteri, yang sebelumnya dilarang. Sehingga pernikahan merupaka sarana efektif untuk menanggulangi berbagai perbuatan dosa dan nista yang terjadi di antara lelaki perempuan yang hari ini banyak merajalela di tengah ummat manusia.

Disyari’atkannya menikah dan hukum menikah

Nikah merupakan amalan yang disyari’atkan dalam ajaran Islam. Sebagaimana disampaikan dalam firman Allah:
فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ
Maka nikahilah wanita wanita lainya yang kalian senangi dua, tiga atau empat. Kemudian apabila kalian takut tidak dapat berlaku adil, maka cukup seorang wanita saja atau budak budak yang kalian miliki.

(QS. An-Nisa: 3)

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ
Dan nikahkanlah orang orang yang sendirian di antara kalian serta orang orang yang layak menikah dari hamba hamba sahaya lelaki dan hamba hamba sahaya perempuan yang kalian miliki.
(QS. An-Nur: 32)
Sedangkan Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ
Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu serta berkeinginan untuk menikah, maka hendaklah dia menikah karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan.
(Muttafaqun ‘alaihi).

Hukum menikah yang sebelumnya adalah anjuran, berubah menjadi wajib bagi orang orang yang mampu menikah sedangkan dia khawatir dirinya tidak mampu menjaga diri dari perbuatan nista dan perzinahan. Menikah juga dapat menjadi sunnah apabila seseorang yang mampu menikah sedangkan dia tidak khawatir dirinya terjerumus dalam lumpur kenistaan dan perzinahan.

Anjuran untuk menikah

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu , dia berkata: Ada tiga orang yang datang ke rumah isteri isteri Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya tentang ibadah yang dilakukan oleh Rasul. Ketika diberitahukan kepada mereka, seolah olah mereka (selama ini adalah orang yang) membanggakan ibadah masing masing. Seraya berucap: Dibandingkan dengan ibadah beliau (rasul) maka di manakah posisi ibadah kita? Sedangkan Rasul adalah orang yang telah diampuni dosa-dosa yang akan datang dan yang telah lalu.” Salah seorang di antara mereka kemudian berkata: “Aku akan senantiasa melakukan sholat malam dan tidak akan tidur.” Yang seorang lagi berkata: “Aku akan selalu berpuasa sepanjang hari dan tidak akan berbuka.” Yang lain berkata: “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya.” Kemudian datanglah Rasulullah dan bersabda: “Apakah kalian orang yang mengatakan begini dan begitu. Ketahuilah sesungguhnya aku adalah orang yagn paling takut dan taqwa kepada Allah dari pada kalian, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku kerjakan sholat lail dan tidur serta menikahi wanita. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku.” (HR. Al Bukhary)
Pernikahan merupakan ibadah yang menjadi sarana seorang muslim untuk menyempurnakan setengah dari agamanya. Serta dengan pernikahan ini, dia dapat menemui Allah dalam keadaan bersih dan suci (dari perbuatan zina dan nista).

Sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits:

من رزقه الله امرأة صاالحة فقدأعانه على شرط دينه فليتق الله في الشرط الباقي
Barangsiapa yang dilimpahi rezeki oleh Allah berupa seorang isteri yang shalihah, maka Allah telah membantunya untuk menyempurnakan setengah dari agamanya. Untuk itu, hendaklah dia bertaqwa kepada Allah dalam setengah yang lain dari agamanya.
(HR. Ath-Thabrany dan al-Hakim)

Hikmah pernikahan
1. Pernikahan merupakan usaha untuk mempertahankan kedudukan manusia
Dan termasuk dari awal penciptaan yang tidak mungkin dibantah adalah sesungguhnya pernikahan merupakan jalan yang berguna untuk memperbanyak garis keturunan manusia. Dan merupakan faktor pokok dalam usaha melanjutkan keberadaan Bani Adam serta mempertahankan keberadaan mereka, sehingga Allah mewariskan bumi dan seluruh apa yang ada di permukaan bumi itu.(QS. An-Nisa: 1 dan QS. An-Nahl: 72)
2. Pernikahan berguna untuk menjaga nasab
Dengan pernikahan yang telah disyari’ahkan Allah, anak keturunan manusia dapat merasa bangga dengan nasab yang dimiliki oleh bapak bapak mereka. Karena dalam nasab itu terdapat pelajaran akan hakikat keluarga dan dirinya, kemuliaan manusia, dan kebahagiaan jiwa…Dan kalaulah pernikahan itu tidak terbentuk, pastilah keadaan itu menyusahkan masyarakat secara umum. Tidak ada kemuliaan bagi mereka dan tidak ada pula nasab
3. Terwujudnya keselamatan masyarakat umum dari kehancuran dan luluh lantak jenisnya
Dengan pernikahan, maka manusia dapat diselamatkan dari kehancuran spesiesnya, dan menyelamatkan pribadi pribadi dari kerusakan secara umum…Sebab, syahwat kecenderungan kepada lawan jenis disalurkan dengan pernikahan resmi dan hubungan yang halal…Sesungguhnya Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan hikmah pernikahan ini dan hubungannya dengan keberlangsungan jenis manusia. Ketika beliau bersabda di hadapan kaum muda: Rasul menyeru mereka untuk melaksanakan pernikahan:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ..رواه الجماعة.
Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian ada yang telah ba’ah (mampu untuk menikah) maka hendaklah dia menikah. Karena hal itu lebih mampu untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan…
(HR. al-Jama’ah)
4. Pernikahan merupakan lembaga kerjasama antara sepasang suami isteri untuk mengokohkan keluarga dan mendidik anak keturunannya.
Dengan lembaga pernikahan, sepasang suami isteri dapat saling bekerjasama dalam usaha memperkuat kedudukan rumah tangga dan mendidik anak keturunan mereka, dan juga untuk menyelesaikan berbagai beban kehidupan…Itu dapat terwujud dimana satu pihak menyempurnakan kekurangan pihak yang lain: sehingga seorang wanita bekerja dengan kekhususan yang dimiliki dan apa yang terkait dengan tabi’at serta sifat kewanitaannya…Dan itu berlangsung selama proses menyempurnakan dan memuliakan pengaturan keluarga, menegakkan kewajiban pendidikan anak….Sedangkan pihak lelaki, maka dia pun bekerja sesuai dengan kemampuan dan keistimewaannya, serta beramal terkait dengan tabi’at dan sifat kelelakiannya…Itu semua merupakan amal usaha untuk menjamim kehidupan orang-orang yang menjadi tanggunan yang ada di belakang punggungnya serta menegakkan berbagai amal yang sukar
5. Pernikahan menyelamatkan masyarakat dari berbagai penyakit:
Dengan syari’ah pernikahan maka masyarakat secara umum dapat terhindar dari berbagai macam penyakit yang terjadi di tengah tengah mereka. Yang menyebar dari akibat buruk perzinahan dan perbuatan keji lainnya…Dan termasuk dari penyakit penyakit itu adalah: sepilis, penyakit kencing nanah dan lain lain yang termasuk penyakit yang membahayakan…Itu semua mewariskan derita, melemahkan badan, membuat anak keturunan cacat dan menyebarkan wabah penyakit.
6. Pernikahan menghasilkan tentramnya ruh dan jiwa:
Dengan pernikahan ini, ikatan cinta dan kasih sayang antara sepasang suami isteri semakin berkembang, sehingga satu pihak mendapatkan ketentraman dan ketenangan dari yang lain. Setiap masing masing pihak mendapatkan kebahagiaan ketika berada di bawah perlindungan dan bantuan yang lain.
Sehingga ketika suami telah selesai berkerja, dan kembali pulang ke rumah pada sore hari, berkumpul bersama dengan keluarga dan anak keturunannya…Maka terlupakanlah rasa sedih yang telah menerpanya di siang hari. Dan hilang dengan sendirinya rasa lelah yang timbul akibat bekerja keras, serta hilanglah beban yang selama ini dirasakan selama beramal untuk mencukupi orang orang yang menjadi tanggungannya. Demikian pula wanita…

Celaan terhadap orang yang hidup membujang
Diriwayatkan dari Abu Ya’la dan ath-Thabrany dari Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam: beliau bersabda:

شراركم عزابكم و أراذل موتاكم عزابكم.
Seburuk buruk orang di antara kalian adalah para bujangan, dan kematian yang paling hina bagi kalian adalah matinya orang yang hidup membujang.

Apabila Islam telah mensyari’ahkan pernikahan dan meminta ummatnya untuk melaksanakan ajaran ini, serta mendorong mereka untuk menetapinya, maka tidak diperbolehkan bagi setiap muslim, bahkan diharamkan bagi mereka menjauhkan diri dari pernikahan dan menghalangi diri dari pernikahan. Meskipun itu dengan dilandasi niat menyendiri demi menekuni ibadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada Nya. Apalagi bagi orang orang yang mampu melaksanakan pernikahan sedangkan semua sarana dan jalan untuk melaksankaan pernikahan mudah baginya…Hal itu disebabkan karena syari’ah Islam sangat membenci dan memerangi tanpa kompromi setiap bentuk panggilan yang mengajak manusia untuk hidup selibat, yang merupakan ajaran yang dibenci dalam Islam. Islam juga tidak memperkenankan seseorang hidup membujang. Hal itu disebabkan karena bertentangan dengan fitrah manusia dan berlawanan dengan kecenderungan serta tabi’at manusia normal.
Dan telah diriwayatkan dari al-Baihaqy dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata:
Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kita ajaran Ruhbaniyyah (hidup selibat) dengan ajaran yang hanif dan mengikat (yaitu pernikahan-pent).
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من كان موسرا لأن ينكح ثم لم ينكح فليس مني.
Barangsiapa yang dimudahkan untuk menikah kemudian dia tidak menikah, maka dia bukan golonganku.
(HR. ath-Thabrany dan al-Baihaqy)

bagi yang belum menikah..semoga dimudahkan rizekinya.. dimudahkan urusanya dan dipertemukan dengan jodoh yang terbaik menurut Alloh…..
bagi yang sudah menikah..semoga ditambahkan rizekinya… keturunan yang sholih-sholihah..

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً

Wahai Tuhan kami! Karuniakanlah kepada kami istri dan keturunan yang menjadi cahaya mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang memelihara dirinya (dari kejahatan)
Wallaahu a’lam bish showaaab